Artikel

Bahaya yang Mengintai jika Sering Terpapar Asap Rokok

Kita kerap melihat tulisan peringatan “rokok membunuhmu”, diikuti dengan gambar para pengidap penyakit mematikan akibat konsumsi rokok. Peringatan tersebut sangat mudah djumpai, pada kotak rokok, poster iklan rokok yang ditempel di warung, maupun iklan di televisi. Namun, hal tersebut tidak serta merta membuat para perokok aktif gentar, dan tak juga membuat angka perokok aktif di Indonesia berkurang.

Bahkan, Indonesia menempati urutan ke-6 dalam konsumen rokok terbesar di dunia versi worldatlas.com, dengan jumlah perokok mencapai angka 57 juta. Peringkat yang diperoleh ini tidak terlepas dari sumbangsih perokok aktif yang datang dari berbagai kalangan. Kandungan nikotin yang menyebabkan candu tampaknya mampu mengalahkan rasa takut pada peringatan dan risiko penyakit berbahaya yang ditimbulkan benda silinder berisi tembakau itu.

Dalam sebatang rokok, terkandung zat-zat berbahaya seperti karbon monoksida (zat beracun ynang ditemukan pada asap knalpot mobil), nikotin (zat pemberi efek candu), hidrogen sianida (sering dipakai sebagai bahan pembuat asap pembasmi hama), benzena (zat yang ditemukan dalam bensin), formaldehida (bahan pengawet mayat), arsenik, kadmium, dan amonia (digunakan untuk meningkatkan dampak candu nikotin), dan zat berbahaya lainnya. Zat-zat tersebut sangat berpotensi menyumbangkan risiko timbulnya penyakit berbahaya pada tubuh perokok aktif.

Namun, bukan hanya perokok aktif yang dapat mendapatkan dampak negatif dari rokok. Perokok pasif, yakni orang yang terpapar asap rokok di keseharian juga bisa menerima dampak buruk dari rokok. Hal ini dikarenakan sebagian besar asap dari rokok tidak diisap oleh konsumennya, melainkan dilepaskan ke udara dan membuat orang disekitarnya terpapar asap yang mengandung begitu banyak senyawa berbahaya tersebut. Dampak yang ditimbulkan dari paparan asap rokok yang terlalu sering ini memang tidak akan terlihat dalam waktu dekat, tetapi akan terasa pada beberapa tahun kemudian, bahkan berpuluh-puluh tahun. Perokok pasif rentan terkena serangan jantung, asma, jantung koroner, bronkitis, bahkan kanker, mengingat bahwa 50 dari 4000 bahan kimia dalam asap rokok bersifat karsinogenik, yakni memicu pertumbuhan sel kanker. Pada ibu hamil yang menghirup asap rokok berkepanjangan, bayi yang dikandung berisiko mengalami kematian mendadak, berat badan rendah, lahir prematur, dan cacat mental. Dikutip dari laman resmi World Health Organization (WHO), 890 ribu kasus kematian di dunia diakibatkan paparan asap rokok.

Selain itu, dewasa ini dikenal pula istilah third hand smoke yang memiliki dampak tak kalah berbahaya. Third hand smoke merupakan istilah yang merujuk pada zat sisa dari asap rokok yang menempel di permukaan benda.

Asap rokok yang terbang di udara memang seolah hilang dan tak terdeteksi oleh indera penglihatan beberapa waktu kemudian. Namun, residu dari asap rokok beserta zat-zat berbahayanya akan tetap menempel di sekitar dalam jangka waktu yang panjang, seperti pada dinding, langit-langit, meja, kursi, dan seluruh sudut di ruangan yang menjadi tempat merokok. Bahkan, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa residu asap rokok pada sofa dapat bertahan selama lima tahun lamanya. Zat-zat beracun yang menempel ini akan tetap berbahaya bila terhirup, apalagi jika sampai berkepanjangan. Berbeda dengan asap rokok yang terlepas ke udara dan kasat mata, zat residu asap rokok yang menempel ini dapat dideteksi dengan adanya bau asap rokok pada benda tersebut. Third hand smoker dalam jangka waktu yang lama dapat memiliki risiko penyakit berbahaya, seperti kanker dan kerusakan organ dalam tubuh.

Lantas, apa upaya yang dapat kita lakukan agar terhindar dari paparan asap rokok? Memakai masker saat berpergian? Tidak, cara ini terbukti kurang efektif dalam menghindarkan diri dari paparan asap rokok. Hal ini dibenarkan oleh Feni Fitriani Taufik, Dokter Spesialis Paru, seperti yang dilansir dari laman okezone.com. Ia mengungkapkan bahwa memang partikel-partikel besar asap rokok dapat dihalau dengan mengenakan masker. Tetapi, ada partikel-partikel kecil asap rokok yang bisa menembus masker, dan masuk ke pernapasan.

Menegur secara sopan perokok aktif agar tidak merokok di tempat umum merupakan cara tepat untuk mengurangi risiko terpapar asap rokok. Serta, usahakan sebisa mungkin untuk selalu menghindari area yang kemungkinan telah terkontaminasi asap rokok.

Perokok aktif pun semestinya sadar, untuk tidak memberi dampak buruk pada orang di sekitarnya dengan merokok di tempat publik. Solusi terbaik lainnya bagi perokok aktif ialah dengan mencoba berhenti mengonsumsi rokok, agar tidak membahayakan kesehatan diri maupun orang lain.

Penulis: Dinar Wahyuni
Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *