EditorialOpini

Wawancara Ekslusif GS dengan Xi Jinping

Sore itu Saya ada disebuah ruangan besar dan penuh dengan ornamen khas negeri tirai bambu, Saya tidak menyangka mendapat kesempatan untuk bertemu dengan orang nomor satu Tiongkok di kantor kedutaan besar republik rakyat Tiongkok untuk Indonesia.

Cukup sulit untuk menemui sosok Presiden sekaligus sekjen partai komunis Tiongkok tersebut. Tentu untuk menemui seorang kepala negara bukan perkara mudah, kawan-kawan kita yang demo berkali-kali sekalipun belum tentu sekedar bisa menemui Presiden Joko Widodo, ahh Saya sangat beruntung.

Saya menemui beliau sekedar untuk menanyakan perihal pendapatnya tentang masuknya warga negara Tiongkok ke Indonesia secara ilegal mengenai bekerja yang dianggap mengancam tenaga kerja lokal, Saya berharap bisa mendapat jawaban yang memuaskan atau mungkin malah menambah panas perkara kedua negara macan Asia ini.

Satu dua jam berlalu, belum ada tanda-tanda Ia akan keluar menemui Saya. Saya teringat di hari yang sama Saya duduk di depan televisi layar datar, saat itu terjadi teror terhadap salah satu penyidik senior KPK Novel Baswedan. Buat Saya penyiraman air keras adalah hal terkutuk karena pengalaman yang telah lewat Saya pernah menyaksikan sendiri, saat teman Saya disiram air keras tepat di bagian wajah, sekujur kulit wajahnya mngelupas, sejak hari itu hidupnya berubah karena kerusakan parah diwajahnya, sungguh keji dan pasti akan membuat getir siapapun yang melihatnya.

Hal itu dianggap sebagai upaya perlawanan balik dari para koruptor terhadap para penegak hukum yang konsisten memberantas korupsi, banyak yang bersyukur dalam hati bahwa Novel hanya diteror sebatas pada penyiraman air keras, bukan di bunuh secara langsung seperti Udin Bernas atau Munir Said Thalib, tapi justru tujuan dari sang peneror untuk menyebarkan ketakutan di kalangan penegak hukum agar tidak lagi konsisten melawan korupsi dan koruptor agar bisa melenggang lebih bebas. Saya berharap kejadian ini tidak sama sekali melemahkan konsistensi KPK dalam memberantas para tikus negara, seperti yang dikatakan oleh Salman Rusdhie “cara untuk mengalahkan teror adalah jangan merasa diteror”.

“Selamat sore…”

Datang dua orang membuyarkan lamunan Saya, dua Pria bermata sipit yang satu bertubuh tegap dan satu lagi orang yang sejak tadi Saya tunggu, dia adalah pengawal protokoler dan sang Presiden Xi Jinping. Saya langsung menyalami kedua orang tersebut.

“Sudah lama menunggu?” Lanjutnya, orang ini sangat ramah dan ternyata bisa berbahasa Indonesia. “Saya disini bertugas menterjemahkan obrolan anda dengan pak Presiden, silahkan tanya apa saja yang anda butuhkan,” ujarnya sambil tersenyum.

Obrolan singkat Saya dan Presiden Tiongkok dimulai dengan basa-basi dan perkenalan bilateral sambil sang pengawal protokoler terus menterjemahkan bahasa kami yang berbeda satu sama lain, Xi Jinping ternyata sudah lumayan mengenal Indonesia karna sudah sering berkunjung ke Indonesia untuk menanamkan investasi, tak tanggung-tanggung nilai investasi China di Indonesia mencapai 1,6 miliar dolar AS hingga pada triwulan III-2016 dan menduduki tiga besar investasi setelah Singapura dan Jepang.

“Ada kekhawatiran masyarakat Indonesia tentang masuknya tenaga kerja asing dari negara anda yang akan mengancam keberlangsungan angkatan kerja di negeri kami, bagaimana tanggapan Anda, pak Presiden?”

“Hahaha Saya sudah duga, mahasiswa seperti kamu akan menanyakan hal itu. Tanggapan Saya sederhana saja Nak, semisal mereka melanggar perjanjian imigrasi kamu bisa pulangkan mereka ke negara Saya. Itu juga yang telah Saya lakukan selama ini di negara Saya”

“Masalahnya pak, para pekerja asing dari negara Anda tidak terdeteksi keberadaanya dan mereka bekerja secara ilegal, berdasarkan data yang kami punya ada ratusan tenaga kerja asing ilegal yang berasal dari negara anda”

“sebentar, Kamu bilang punya datanya? Berarti Kamu bisa mendeteksi keberadaan mereka? Laporkan mereka ke pihak berwajib, bila mereka benar-benar ilegal silahkan pulangkan.”

“Bagaimana dengan upah? Ada isu bahwa tenaga kerja Anda diupah lebih tinggi daripada tenaga kerja lokal bagaimana tanggapan anda?”

“Begini Nak, itu logika yang sangat aneh. Bagaimana mungkin negara Anda menggaji tenaga kerja asing lebih besar? Apalagi sampai mendatangkan TKA Ilegal hanya untuk mendapatkan tenaga kerja yang kemampuanya tidak jauh beda dengan tenaga kerja negara Anda, kecuali kalau satu tenaga kerja negara Saya setara dengan 10 orang tenaga kerja negara Anda maka Saya tidak heran, tetapi semisal mereka mendatangkan tenaga kerja asing karna upahnya jauh lebih rendah pun tak bisa disalahkan karna itu logika industri, para pengusaha pasti lebih memilih tenaga kerja dengan upah lebih kecil untuk mendapat untung lebih besar”

“Apakah di negara Anda kekurangan lapangan pekerjaan Pak, sampai tenaga ahli dan buruh kasar anda banyak yang mencari kerja di Indonesia?”

“Saya sangat menyayangkan semisal ada anggapan seperti itu, bagaimana kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada Anda saja?”

“Kenapa Pak?”

“Karna justru tenaga kerja kamu membanjiri negara Saya”

“Benarkah?”

“Lho Kamu tidak tau? Kalau ada 81 ribu tenaga kerja dari Indonesia di China, itu belum termasuk tenaga kerja ilegal yang harus kami pulangkan setiap bulan dengan uang kami sendiri”

Sayup-sayup terdengar suara riuh di luar ruangan, kami bertiga mengintip ke arah jendela.

“Ramai sekali, sepertinya mereka tau Saya ada disini Nak.”

Si pengawal protokoler langsung berdiri, nampaknya Ia mulai khawatir.

“Haruskah kita pergi dari sini Pak?”

Saya juga mulai khawatir, takut jika beliau mesti dievakuasi karna saat ini Saya sedang di puncak rasa penasaran.

“Tidak, tidak perlu, Saya ingin menyelesaikan wawancara dengan anak ini”

Syukurlah, jawaban itu membuat Saya lega, meskipun kerumunan diluar semakin bertambah riuh, Saya yakin mereka tidak akan mengganggu wawancara Saya. Kami bertiga kembali duduk dan melanjutkan wawancara.

“Lantas bagaimana respon negara Anda terhadap banyaknya tenaga kerja Indonesia disana?”

“Kacau balau, demonstrasi dimana-mana, kemarahan rakyat dan mahasiswa disana tidak terbendung karna tenaga kerja Indonesia membanjiri negara kami, bahkan sentimen anti Indonesia sangat keras terjadi disana”

“Benarkah sampai separah itu Pak?”

“Tentu saja tidak, Saya hanya bercanda Nak. Hahahahahaha.”

Dia tertawa cukup panjang, tertawa paling garing yang pernah Saya lihat, kemudian Ia berhenti tertawa, menghela nafas sejenak, lalu melanjutkan.

“Tidak ada demontrasi mahasiswa di negara kami terkait dengan membanjirnya tenaga kerja Indonesia dengan jumlah sebanyak itu kebanyakan dari mereka hanya bekerja di sektor kasar meskipun banyak juga yang bekerja sebagai tenaga ahli namun tenaga ahli kami jauh lebih banyak karna mahasiswa yang baru lulus di negara kami benar-benar kompeten dan ahli dibidangnya sehingga kami tidak pernah kalah bersaing dengan ahli di negara lain, Nak”

Riuh diluar semakin keras, sepertinya masa yang berkumpul di luar semakin banyak.

“Berarti Anda bilang tenaga ahli di Indonesia tidak hebat?”

“Saya tidak bilang seperti itu, mungkin kamu harus berkaca pada negaramu sendiri, kamu punya banyak ahli yang lebih memilih bekerja di luar negeri karena merasa tidak dihargai dinegaranya sendiri, sebut saja Ricky Elson si pembuat mobil listrik yang tidak dihargai di Indonesia dan dia lebih memilih untuk bekerja pada perusahaan Jepang, karyanya sangat luar biasa atau Warsito Purwo Taruno, Ken Kawan Soetanto, Josaphat Tetuko. Dan masih banyak lagi, kamu pernah mendengar nama mereka?”

“Saya tidak pernah mendengar nama-nama itu? Kenapa?”

“Karna mereka lebih tenar diluar negri daripada di negaramu sendiri Nak. intinya adalah ketika kamu punya kualitas maka kamu tidak perlu takut untuk bersaing dengan orang asing, kalau kamu takut bersaing bahkan dengan tenaga kerja kasar maka pasti ada yang salah dengan kualitas dirimu”

Praaanngggg!!! Sebuah batu besar memecahkan kaca ruangan kami, masa diluar nampaknya semakin beringas karna tidak diizinkan bertemu.

Pak kita harus segera pergi dari sini! Helikopter sudah menunggu di atas”

“Sebentar lagi, beri Saya waktu 3 menit.”

“Tapi Pak!”

“Ini perintah!”

“hffttt… baiklah Pak”

Si pengawal menghela nafas kemudian duduk kembali. Pak Presiden menatap Saya dalam-dalam, sedikit merunduk dan menyilangkan tangannya.

“Isu ini sangat politis Nak, Saya kasihan pada negaramu. Kamu tau negara kamu diambang kehancuran bukan karna faktor dari luar tapi dari dalam. Korupsi merajalela dan parahnya lagi mereka berani meneror para penyidik. Kenapa kalian tidak berani untuk meneror balik para koruptor? Gunakan kekuatan massa kalian untuk menunjukan kalau kalian sangat memusuhi koruptor meskipun kalian belum berani menerapkan hukuman mati seperti yang kami lakukan di negara kami.”

Beliau menatap Saya lebih tajam.

“Atau mungkin kamu perlu tenaga ahli dari kami untuk mengisi posisi di pemerintahanmu yang korupsi? Saya dengan senang hati akan mengirim para algojo koruptor kesini”

“Oh tidak, itu tidak perlu”

“Kalau begitu Saya percaya Anda bisa mengatasi masalah dalam negeri Anda sendiri, Saya yakin Anda adalah mahasiswa berkualitas yang tahu urgensi masalah di negeri Anda sendiri.”

Praakkkk!! Lagi-lagi sebongkah balok memecahkan kaca ruangan kami, dan masa diluar mulai mencoba memasuki ruangan kami. Para pengawal sang Presiden langsung sigap memasang badan.

“Pak presiden, demi tuhan Kita mesti pergi dari sini sekarang juga!” ujar sang pengawal protokoler.

“Sebentar, Aku ingin menyampaikan sesuatu pada anak ini”

Sang pengawal nampak frustasi.

“Nak, mendekatlah ada yang ingin kusampaikan padamu”

Saya mendekatkan wajah Saya pada Beliau, semakin dekat… semakin dekat… sampai jarak wajah kami hanya sekitar lima centimeter, dia menatap Saya dalam-dalam.

“Nak…..”

“Iya Pak?”

“Ini sudah jam 11 malam, kami mau tutup!”

“Hah?”

….

Mendadak Saya ada di sebuah kafe dengan secangkir kopi panas, ternyata Saya sedang melamun sendirian.

“Mas maaf yaa kita mau tutup, sudah jam 11 malam” ujar seorang wanita coba menyadarkan Saya.

“Oh iya iya Mbak, tolong kopinya dibungkus yaa.”

Saya menatap ke seberang jalan, lampu jalan yang remang-remang kekuningan dan lalu lintas yang mulai padat di kota Palembang. Di posisi kafe ini juga Saya bisa melihat langsung kantor DPRD Sumsel yang tak jauh dari sana.

Ternyata di hari itu tidak ada Xi Jinping dan pengawal pribadinya bertemu dengan Saya, ataupun kerumunan massa yang berusaha menemuinya. Hanya ada Saya dan kopi panas di sebuah kafe bersama lamunan di malam hari yang sepi.

Sepertinya Saya terlalu serius berfikir…

Penulis : Piky Herdiansyah

Editor : (yst)

Facebook Comments
Tags

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *