OpiniSuara Pembaca

#UnsriPekaDong, Merebut Ruang Demokrasi yang Tersisa di Tengah Pandemi

Beberapa hari yang lalu, trending twitter diramaikan dengan tagar #UndipKokJahatSih #AmarahBrawijaya #UnandPelit dan beberapa tagar sejenis yang meluapkan keluh kesah mahasiswa terhadap kebijakan kampusnya dalam penanganan pandemi Covid-19. Dari pengamatan saya setidaknya ada tiga isu yang banyak disuarakan, tiga isu tersebut seputar subsidi internet, nasib mahasiswa semester akhir, dan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester depan.

Di Universitas Sriwijaya, BEM KM Unsri merilis sejumlah permasalahan yang timbul di kampus. Rilis tersebut diposting di media sosial instagram resmi BEM KM Unsri @bemkmunsri pada 3 Mei 2020. Tiga permasalahan yang banyak disuarakan di kampus lain juga menjadi permasalahan di kampus ini ditambah beberapa permasalahan lain seperti pengembalian uang asrama, bantuan bagi mahasiswa yang tertahan di Indralaya, ditiadakannya semester pendek, ditundanya pelaksanaan suliet serta penentuan UKT Camaba yang digelar tanpa diskusi. Semua permasalahan tersebut setidaknya berakibat pada hal yang sama yakni semakin terkendalanya proses perkuliahan mahasiswa.

Maksimalkan Ruang Demokrasi yang Tersisa.

Pandemi tentu akan menghambat proses advokasi kita ke pihak kampus karena pemerintah sudah melarang berbagai kegiatan yang mengumpulkan orang banyak untuk mencegah penularan virus. Berkaca dari aksi buruh untuk menolak omnibus law, saya masih melihat sedikit ruang demokrasi tersisa yang bisa kita manfaatkan, ruang itu ialah berbagai platform digital dunia maya melalui apa yang disebut digital strike. Aksi buruh berupa digital strike pada May Day kemarin sedikit berhasil menekan pemerintah untuk menunda pembahasan Omnibus Law. Tagar #UndipKokJahatSih #AmarahBrawijaya dan #UnandPelit yang sudah menggema juga merupakan contoh lain ruang demokrasi yang tersisa. Tagar ini muncul sebagai respon kolektif mahasiswa. Bersamaan dengan tagar tersebut juga muncul meme yang menyegarkan lini masa kita. Aksi digital strike seperti yang bisa kita manfaatkan karena bisa dilakukan di rumah sambil rebahan dan cukup efektif.

Tagar #UnsriPekaDong sempat saya usulkan melalui sebuah utas di twitter, setidaknya hingga opini ini dibuat sudah ada 30 retweet dan 38 likes pada utas tersebut. Tagar itu bukan tanpa alasan, kita ingin menuntut kepekaan dari para pemegang kebijakan kampus. Mereka harus peka dengan kondisi mahasiswa sekarang yang mengalami kesulitan dalam hal akademik maupun ekonomi. Tagar ini juga menuntut kepekaan dari semua pihak termasuk BEM sebagai penyambung lidah mahasiswa ke pemegang kebijakan kampus. Dan, bagi mahasiswa lainnya bisa mulai ikut bergerak dalam digital strike ini tanpa harus menunggu komando karena jika berkaca dari universitas lainnya, semua ini dimulai dari gerakan kolektif mahasiswa yang tergugah dengan kondisi sekarang. Bagi saya pribadi tidak masalah tagar apapun yang digunakan atau cara apapun yang digunakan karena yang terpenting kita dapat memanfaatkan ruang demokrasi yang tersisa di tengah pandemi ini dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Agung Prakoso (FISIP 2016)

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!