ArtikelOpini

Tindakkan Represif Terhadap Jurnalis Demi Pencitraan

Tindakan represif terhadap jurnalis dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang mengekang, menahan, mencegah, atau bahkan menindas. Tak jarang kita jumpai ada berbagai macam cara yang dilakukan oleh oknum tertentu dalam menghalau seorang jurnalis dalam menyebarkan informasi yang semestinya diketahui oleh publik.

Biasanya, tindakan represif ditujukan saat seorang jurnalis tengah meliput aksi demonstran yang ricuh, sidang yang diwarnai kegaduhan atau tidak mendapatkan titik tengah dan masih banyak bentuk represif lainnya. Mungkin kita sendiri pun sering melihat contoh upaya mencegah seorang jurnalis seperti melakukan penculikan, pemukulan, merampas alat peliputan dan lain-lain. Tentunya hal tersebut tidaklah sejalan dengan sistem demokrasi yang dianut oleh negara ini. Bahkan melanggar hak berekspresi dan menyampaikan pendapat yang telah dijamin di dalam undang-undang.

Hal itu sesuai dengan yang tertulis dalam UU Pers Nomor 40 Tahun 1999. Di dalamnya termuat aturan bahwa pers berhak mencari, memperoleh, mengolah dan menyebarluaskan informasi. Disamping itu, kekerasan terhadap seorang jurnalis juga merupakan tindak pidana sebagaimana yang telah diatur dalam UU Pers Nomor 40 tentang pers, Pasal 18 ayat 1 disebutkan, setiap orang yang melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi kerja pers, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda sebanyak 500 juta rupiah.

Nampaknya undang-undang yang sudah ada selama ini kurang dipahami dan bahkan tak diindahkan. Karena kebanyakan orang yang mencegah kerja pers lebih mementingkan egonya. Agar bobroknya perilaku mereka tidak diketahui oleh khalayak umum atau untuk  pencitraan yang selama ini mereka bangun tidak tercoreng oleh informasi yang didapatkan oleh seorang jurnalis.

Miris, melihat seorang juranlis yang hendak menyampaikan informasi, masih mengalami berbagai tindakan yang tidak mengenakkan. Apalagi selama ini kita hanya melihat para oknum aparat diluaran sanalah yang melakukan hal demikian. Namun, nyatanya saat ini mahasiswa yang mengaku dirinya kaum intelektual kampus pun mulai tidak dapat mengendalikan perilaku tersebut.

Padahal, sejatinya seorang mahasiswa tidak harus melakukan tindakan represif. Melainkan seorang mahasiswa yang satu-satunya mendapatkan gelar Maha dapat berpola pikir jernih dalam hal apapun. Kalaupun tidak ingin perilaku jeleknya diketahui oleh banyak orang, jangan pernah untuk berbuat kejelekan dan berpikir sebelum bertindak.

Penulis : Juniancandra

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *