Artikel

Terorisme, Ancaman bagi Keselamatan Bangsa

Terorisme ialah pengunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan yakni praktik tindakan teror. Dilansir dari situs web Universitas Indonesia, di Indonesia sendiri, tercatat ada 130 kasus terorisme pada tahun 2010 hingga 2017, pada tahun 2018 sebanyak 17 aksi dan 2019 mengalami penurunan aksi terorisme. Beberapa diantaranya ialah Bom Thamrin, Bom Kampung Melayu, Bom Surabaya, serangan teroris di Mako Brimob, dsb.

Aksi terorisme ini banyak memakan korban jiwa, dan menimbulkan trauma bagi korban yang selamat. Tidak hanya itu, ada beberapa korban yang mengalami luka fisik yang cukup parah.

Sebenarnya, siapa teroris itu?

Dalam Modul Pencegahan Terorisme di Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dengan Direktorat Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yang dianggap teroris yakni:

  • Sekelompok orang yang melakukan aksi-aksi, berupa kekerasan untuk melawan hukum (illegal) secara terencana dan terukur,
  • Dilakukan oleh kelompok dan/atau profesional sebagai bagian dari negara ataupun individu demi mencapai tujuan (perubahan) politik dan ideologi dengan mengatasnamakan agama,
  • Kelompok tersebut mengintimidasi individu, kelompok atau negara untuk menimbulkan rasa takut dan tidak aman,
  • Mendorong dan/atau mengintimidasi orang untuk meninnggalkan keluarga mereka dan mengadopsi organisasi teroris sebagai keluarga baru mereka,
  • Seringkali mereka mempublikasikan dan mengakui aksi-aksi kekerasan yang mereka lakukan melalui internet dan/atau media sosial sebagai bagian dari kampanye atas keberadaan mereka sekaligus menimbulkan rasa takut dan tidak aman serta mempromosikan ide-ide radikal.

Jika dilihat di Indonesia, target dan sasaran teroris ini dari beberapa kasus, yakni sarana umum seperti tempat ibadah, tempat perbelanjaan, kantor pemerintah, tempat hiburan, fasilitas umum, dsb. Banyak akibat yang ditimbulkan dari aksi teroris ini, baik dibidang ekonomi, pertahanan, keselamatan, dsb.

Saat ini, mudah sekali paham terorisme atau radikal bahkan sikap intoleran terhadap manusia lainnya disebarluaskan lewat media sosial, bahkan jejaring teroris ikut serta dalam memanfaatkan media sebagai penyebaran informasi. Berhati-hati ialah salah satu hal yang harus dilakukan, jangan asal telan informasi yang ada di media, karena salah satu cara menyebarkann paham terorisme, radikal dan tindak kejahatan lainnya, sangat mudah ditemukan di media, ketika ada suatu informasi yang keluar dari media, silakan untuk di cek ulang validitas dari informasi tersebut.

Maka dari itu, penting sekali untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri bahwasanya tindakan terorisme ini ialah tindakan yang sangat mengancam keselamatan negara dan bangsa serta menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara.

Penulis: Desi Rahma Sari

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!