CerpenSastra

Terkadang Kita Menyalahkan Tuhan

Oleh Aris Pratiwi LPM Gelora Sriwijaya Universitas Sriwijaya.

Suasana rumah begitu nyaman tanpa kekurangan apapun, orangtua yang lengkap dan mempunyai pekerjaan tetap dikantor miliknya sendiri. Sang ayah kaya diusia muda memiliki 2 anak yang cantik bak bidadari namanya Anisa Putri Wibowo dan Natasya Putri Wibowo yang terpaut umur 6 tahun antara kakak beradik ini.

Anisa biasa dipanggil Asa, gadis cantik yang mempunyai banyak bakat dan menjadi bintang dikelasnya, Anisa anak yang baik dan rajin, prestasi akademik dan non akademik  sudah pernah diraihnya.

Musibah memang tak bisa dihindari jika itu sudah ketentuan Allah, Heryanto Wibowo perusahaan yang dipimpinnya bangkrut, rumah mereka di sita dan kedua putrinya harus berhenti sekolah, hal ini terjadi karena Heryanto Wibowo bermain perempuan lain dengan alasan inginkan anak laki-laki penerusnya nanti. Namun apa mau dikata perempuan simpanannya itu memanfaatkan kekayaan Heryanto dan mengeruk hartanya terus menerus.

“Semua salah ayah yang bodoh karena perempuan murahan itu, apa kurang ibu yah (tersedan)” Asa marah depan Heryanto sambil menangis

“Sekarang anak laki-laki tak di dapat, tapi penderitaan yang kami dapat, sadar gak perusahaan itu modal dari kakek bukan murni dari ayah” tambah Asa menyesali tindakan ayahnya.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Ibu Asa jatuh sakit, sang adik Natasya berubah nakal sering mabuk dan sering kebut-kebutan hingga akhirnya pada suatu malam Natasya kecelakaan karena mobil yang dikendarainya menabrak bus besar, Natasya terpental, terguling-guling dan jatuh kebawah jembatan.

Malang sekali anak itu karena orangtuanya bangkrut,  dengan mental yang begitu lemah untuk menerima cobaan, Natasya terjerumus dalam kenakalan yang mencelakan dirinya sendiri, tekanan demi tekanan yang di alami oleh keluarga ini membuat sang ibu mengalami gangguan jiwa, sang adik  Natasya lumpuh, dan sang ayah meninggal karena serangan jantung. Kini tinggal Asa yang harus berjuang sendiri menghidupi ibu dan adiknya yang tak berdaya.

Senja nampak indah di ufuk barat gadis itu termenung sendirian, hatinya begitu sedih sekarang ini.

“Ya Allah apa ini? Aku tak menyangka Engkau memberiku cobaan yang sangat berat ini ya Allah. Dosa apa yang ku perbuat hingga tiada ampun bagi ku dengan semua ini” keluh Asa.

“Tiada hidup tanpa bermasalah Asa, sabar dan tetap berusaha bangkitlah kunci manusia dapat menjalani hidupnya” suara perempuan dari belakang dan memegang bahu Asa.

“Lara !” Asa terkejut dan membalikan badan

“Kau tau Asa arti Lara itu kesedihan dan itulah aku, sejak aku lahir aku sudah menangis sekencang-kencangnya menandakan aku cengeng, saat umurku 3 tahun harusnya aku bermain namun aku tidak bisa, kaki ku penuh dengan infeksi kulit sehingga menjadi koreng sampai ke telapak kaki alhasil aku tak bisa berjalan,berlarian bermain bersama teman-teman, ibu ku selalu menggendongku saat ia bekerja membawa anaknya yang penyakitan dia gak malu hanya sabar yang ia pelihara, bapak tetap tegar melindungi anak perempuannya yang tak tampak cantik, sampai umurku 5 tahun barulah penyakit itu hilang dengan obat tradisional yang dibuat ibu ku karena kami tak mempunyai biaya untuk ke dokter. Namun setelah penyakit itu hilang muncul yang lain tifus menyerangku sampai aku kehilangan senyumku, anemia yang tiada ampun membuatku menghabiskan waktu dengan obat-obatan dan penyakit yang lain aku tak bisa menyebutnya satu per satu. Bayangkan bagaimana orangtua ku begitu susah banyak orang bilang umurku takkan panjang” Lara menceritakan dirinya

“ Betapa hancur hati ibu ku namun tak sedikitpun aku melihat airmata mengalir di wajahnya tak sedikitpun ia menangis, bapak ku menggendongku mengajakku bermain agar aku tak kehilangan masa kecil, betapa tegarnya beliau Asa” sambung Lara.

“Tapi sampai sekarang kau hidup ‘ra…” ucap Asa

“Itu karena Allah Asa, Allah tidak akan membiarkan hambanya selalu menderita Allah hanya menguji kita seberapa kuat bisa bertahan. Selalu ada pelangi setelah badai, orang yang sudah melalui badailah yang akan tenang melewati badai selanjutnya, kau dari lahir sudah penuh dengan kenikmatan Asa tiada kurang bagimu semua menghormati keluargamu tak ada yang merendahkan sedikitpun sekarang roda telah berputar dan ini lah tiba badai mu datang Asa hadapilah dengan kuat. Aku yakin kau pasti mampu dengan semua ini” Lara menyemangati.

Asa menangis mendengar perkataan Lara teman SMAnya yang dulu ia ejek ternyata menjadi sahabatnya, kini dia merasa ada sedikit kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan karena kesulitan akan bertambah jika dihitung-hitung namun akan lenyap jika tidak diperhatikan kata orang senyum bisa meringankan beban.

Pagi begitu cerah menyapa suara percikan air yang menenangkan hati, burung yang riang bernyanyi, ayam jantan tak kalah bersemangat dengan matahari yang menyongsong dibawah naungan langit biru, alam ikut begembira menyambut bulan Ramadhan yang penuh dengan rahmat. Puasa tahun ini untuk pertama kalinya Asa menjalankannya tanpa sang ayah dan kali ini Asa yang menjadi tulang punggung mencari nafkah untuk ibu dan adiknya.

“Lara jujur aku sangat sedih puasa kali ini tanpa ayah, ibu ku sakit dan adikku lumpuh betapa malangnya aku” Asa dengan raut muka sedih

“Asa kau sudah cukup dewasa memahami hidup belajarlah, ikut saja alur cerita yang Allah takdirkan untukmu. Semua manusia pasti pernah terpuruk sedih hanya yang kuat mental yang mampu menghadapinya” Lara mencoba menghibur

“Tabungan pribadiku sudah menipis, ibu tak kunjung sembuh. Sepertinya aku harus nyari pekerjaan deh” kata Asa dengan nada sendu

“ya udah kamu bantu ibu aku buat kue dan jualan kue aja di tokonya, aku sering bantuin beliau apa lagi puasa dan lebaran banyak pesanan” dengan nada semangat Lara menjawab

“oh ya ? serius ni dibolehin sama ibu kamu?” tanya Asa.

“tentu dibolehin beliau sering kewalahan kalau sendiri” jawab Lara

Dua sahabat itu sepakat ingin membantu ibu Lara dan upahnya Asa pakai untuk biaya hidup ibu dan adiknya, pesanan kue begitu banyak hingga harus bekerja sampai malam sesekali Asa pulang untuk memberi makan ibu dan adiknya di rumah kontrakan yang baru sebulan ditempati olehnya.

Malam itu Lara susah tidur memikirkan nasib sahabatnya Asa, Lara berinisitif untuk membuka cabang toko kue ibunya dan menjalankan usaha itu bersama Asa. Lara mendiskusikan hal itu pada sang ibu

“kau yakin nak dengan keputusan mu? Kau masih sekolah tahun depan kau ujian nasional kan?” Tanya ibu pada Lara

“aku yakin bu’ aku mau ngebantuin Asa juga” jawab Lara
“kau begitu baik nak, ibu bangga pada mu” memeluk Lara

Keesokan harinya Lara berdiskusi tentang rencananya kepada Asa dan mereka sepakat akan buka cabang kue dengan modal yang mereka kumpulkan selama bekerja pada bulan Ramadan lalu, benar saja 3 bulan berjalan usaha  mereka berhasil dan banyak pelanggan yang suka kue dengan resep yang diberi ibu Lara,  namun ketika itu ibu Asa penyakitnya tambah parah ginjalnya rusak dan harus di operasi, Asa hanya bisa diam memikirkan biaya sang ibu, dia tak ingin member tahu Lara karena sudah banyak merepotkan akhirnya Asa mengambil uang usaha mereka diam-diam di meja kasir. Tak sedikitpun Lara menaruh curiga pada Asa ia menganggap uang yang hilang itu bukan rezeki mereka.

7 bulan kemudian

Pada bulan April ujian nasional serentak di selenggarakan oleh kementrian pendidikan Indonesia dan tahun ini Lara dan Asa akan menghadapi hal tersebut toko kue mereka ditutup sementara setelah modal mereka habis namun Lara tidak putus asa, sementara ini ia fokus ke ujian. Ibu Asa sudah sembuh setelah operasi dia belum memberi tahu Lara kenapa modal mereka habis karena dipakai untuk ibu Asa.

Empat hari setelah ujian mereka mendaftar untuk kuliah jalur pertama melalui SNMPTN nasib baik diraih Lara ia berhasil masuk perguruan tinggi negeri Universitas Sriwijaya Fakultas Ekonomi, sedangkan Asa gagal di seleksi SNMPTN sedih memang namun ia ingat semangat yang di beri Lara padanya. Asa ikut seleksi yang kedua yaitu SBMPTN awalnya ia ragu karena pernah gagal di seleksi pertama namun ia tetap berusaha keras, dilemah pada dirinya sekarang memilih Universitas Islam Negeri Jakarta atau Universitas Sriwijaya karena Asa kasian pada sang ibu kalau dia kuliah jauh ia memutusakan memilih Universitas Sriwijaya, sebenarnya ia tertarik pada bidang kedokteran namun nasib tak berpihak pada keinginannya ia lulus pada pilihan kedua yaitu program studi Sistem Informasi awalnya berat bagi Asa menjalani kuliah di bidang yang baru baginya namun ia tetap berusaha tidak ada penyesalan darinya karena ia paham dengan rencana Tuhan terhadapnya, jungkir balik ia mempertahankan diri seperti ikan yang dipaksa menjadi katak.

“jika kau tak sanggup jangan kau paksakan” kata Lara

“tidak aku bukan tak sanggup namun belum bisa beradaptasi” Asa menjelaskan isi hati

“ya udah kalau begitu jalani saja dulu suatu saat kau akan menemukan nyaman mu lagi pula teknologi sekarang sedang berkembang pesat semua aspek pekerjaan membutuhkan ahli teknologi Asa jadi tetap semangat, oh ya minggu depan aku mau buka cabang toko kue ibu lagi, untuk nambah uang kuliah kamu mau kan ikut aku lagi?” ucap Lara

“iya ‘ra makasih atas semangatmu mungkin keberhasilanku dimulai dari bidang ini, ehhhmmmm sebenarnya aku mau jujur (terbata-bata) uang… yang hilang… waktu itu… a…ku yang ngambil”

“apa…? Asa kau… tega sekali” Lara dengan nada marah

“maaf karena waktu itu ibu ku harus di operasi aku tak tahu harus nyari uang dimana?” jawab Asa

“kenapa kamu gak cerita ke aku? Kau anggap aku ini sahabatmu atau bukan? Aku berusahan jadi sahabat yang baik bahkan sedikitpun aku tidak curiga, kau keterlaluan Asa” Lara tambah marah lalu pergi

“ Lara… Lara tunggu”mengejar Lara

Di hadapan Lara, Asa menangis menyesal atas perbuatannya namun Lara tetap diam dan tak mau melihat wajah Asa.

“aku tau aku salah ‘ra ini uang yang aku kumpulkan untuk mengganti modal usaha yang ku ambil dulu aku minta maaf sungguh tak akan ku ulang lagi” Asa memberikan uang

“aku tidak meragukan mu Lara kau tulus dan punya hati yang sangat ikhlas jika kesalahan ku ini tak pantas dimaafkan aku akan pergi dari hadapanmu” tambah Asa

Namun Lara tak bergeming untuk bicara atau menoleh “baiklah Lara aku pergi, jaga dirimu baik-baik aku akan selalu merindukan sahabat seperti mu” ucap Asa terakhir

Satu meter sudah Asa melangkah dari Lara, semakin jauh langkah Asa “entah kenapa aku selalu ada alasan untuk memaafkan salahmu Asa” ucap Lara menoleh ke Asa air mata pun tak dapat ditahan lagi dua sahabat itu berpelukan.

Terkadang kita menyalahkan Tuhan rencana kita hancur, doa kita sedikitpun tak dikabulkan Tuhan, marah,kecewa dan tersesat melupakan doa yang pernah terucap menutup mata dan hati untuk memaafkan orang lain bahkan mendengarkan nasehatpun tak ada tempat lagi di rongga telinga kita, pesimis untuk merajut mimpi-mimpi yang gagal lalu menyerah namun pernahkah kita merenungkan salah kita, kemalasan dalam kita dan kesombongan kita dimasa lalu?, mungkin Tuhan mengujimu agar sadar dan bertaubat tunjuk satu bintang untuk mu dan raihlah mimpi-mimpi mu karena akan tiba suatu saat bintang mu bersinar.

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *