CerpenSastra

Tawa

Pengirim: Yakev

Aku telanjang dihadapan takdir. Kubiarkan tangannya bergemebyar menjelajahiku. Sesekali kucium tangannya, dan tak lupa kutempatkan ia pada syukur yang paling tinggi yang bisa kulakukan. Meski seringkali aku ditempatkan pada paksaan untuk mengerti, pada paksaan untuk bersiap diri, pada situasi yang tak mudah dikendali dan bahkan sulit mengenali diri sendiri, serta harus merevisi hal yang sudah bertahun-tahun dijalani. Kucium tangan takdir dan ku tempatkan ia pada syukur paling tinggi yang bisa aku lakukan.

Meski menerima ketelanjanganku, ia tetap bertanya-tanya. “Kenapa kau telanjang? Tidak cukup aku membacamu sendiri? Tiadakah cukup aku?”

Aku tak bisa menjawab. Kubanting tubuhku. Kupasrahkan seluruh beratku pada kepasrahan itu sendiri sambil nafas panjang menguap tanpa terkendali. Pasrah sepenuhnya. Menyerahkan diri seutuhnya. Tak peduli apakah aku membanting diriku pada air, api, kayu, atau kapas hasilku bertani. Terserah. Lagipula, takdir punya kuasa, jadi rasanya tak perlu aku memilih sesuatu dihadapannya.

Pagi bangun begitu segera. Seperti biasa, seseorang didepan pintu kamarku membangunkanku dengan paksa, dengan berteriak pula. Mataku belum sepenuhnya terbuka, tapi aku sudah diseret-seret untuk cuci muka lalu bekerja. Tidak, bukan bekerja. Tapi diperkosa. Diperkosa hari-hari dengan rutinitas yang itu-itu saja, aturan yang memaksa, tugas yang mengikat asa, tuntutan untuk menjadi luar biasa didalam ruang sempit yang untuk bernafas pun susah! Aku tersengal menyebutkannya.

Dalam perjalanan, diam-diam aku bersetubuh dengan waktu. Aku telanjang padanya agar ia melekat bersamaku. Sebab, aku percaya padanyalah aku bisa hidup atau terbunuh. Kucium bibir waktu agar aku tak tertinggal terlalu jauh. Kujilati wajahnya agar ia tak bergerak selagi aku istirahat. Aku kelelahan, sungguh teramat sangat benar-benar lelah sekali. Pekerjaanku masih sangat banyak. Aku tak mau waktu begitu cepat habis. Makanya aku merayu, begitulah.

Ya, aku selingkuh. Kujual ketelanjanganku padanya pula selain pada takdir. Aku tak tahu apakah aku benar atau salah. Karena menurut pandangku, kebenaran dan kesalahan hanya terletak pada pemahaman dan tidak semua orang bisa menggunakan daya telaah mereka dengan baik! Tidak ada yang bisa menentukanku!

Didalam desah panjangnya, waktu sempat berucap, “Aku tak bisa kau kemudikan. Tapi aku menikmatimu.”
Janin-janin malam tumbuh di udara. Semesta membiru sedemikian rupa. Angin begitu tenang sikapnya. Dedaun tak banyak tindak. Pohon-pohon enggan bergerak. Diujung padang luas ini, surya tengah tergeletak, merah tembaga dibelakang takdir yang sedang menatapku. Matanya tajam, wajahnya merah padam, tak ada tawa, tak ada suara, tangan mengepal dan langkah dipercepat menuju ke arahku. Dan, “Ada apa denganmu?! Kau tidak percaya padaku?!” Teriaknya tepat didepan wajahku. Telunjuknya naik menunjuk kepalaku.

“Aku membawamu pada semua hal yang pantas untukmu! Meski sedemikian sulit, tapi tidak mungkin tak bisa kau lalui. Apalagi kau sudah beberapa kali telanjang dihadapanku. Itu bukti bahwa kita saling tahu dan saling menikmati. Kenapa kau jual dirimu pada sesuatu yang hanya memberi jeda? Kenapa kau telanjang padanya? Kau kira bagaimana waktu bisa mendapatkan jawaban-jawaban kalau bukan aku yang mengerjakannya? Bajingan! Keparat!”

Suaranya naik tinggi. Tepat didepan mataku kulihat mata yang sangat merah dibalik helaian panjang rambutnya. Amarahnya bukan main-main. Ini bukan sekedar kecemburuan. Bukan. Kepal tangannya sesekali naik ke kepalaku namun berusaha ia tahan agar tak menghajarku.

“Aku begitu dekat dengan Tuhan, meleset adalah kemustahilan. Sedangkan waktu diberi begitu banyak ruang, banyak kemungkinan didalamnya. Tidak ada yang pasti disana kecuali ia terus bergerak dan mati suatu hari.”

Suaranya mulai pelan. Tubuhnya berbalik dan menjauh. Aku menyerah. Seluruh kata-katanya adalah kebenaran. Mutlak tak dapat ku elak.

Janin-janin malam tumbuh diudara. Semesta membiru sedemikian rupa. Angin begitu tenang sikapnya. Dedaun tak banyak tindak. Pohon-pohon enggan bergerak. Diujung padang luas ini, surya tengah tergeletak, merah tembaga dibelakang takdir yang sedang menatapku. Rambutnya tergerai panjang, hitam melambai-lambai menutupi hidungnya, mata luas dan coklat, kumis tipis yang rumit, dan garis senyum yang manis mendatangiku, langkahnya terhenti ketika hidungnya menyentuh hidungku. Dan ia masih tersenyum. Kepalnya yang kini lemah menyentuh lembut rambutku dan tersenyum lagi. Senyum yang lama sekali.

Ingin mengirim karya tulisan kalian (artikel, berita, opini, cerpen, puisi, dll) kemudian diterbitkan di halaman website LPMGSUNSRI ?
Silahkan kirim karya kalian ke email redaksilpmgsunsri@gmail.com
(format: jenis tulisan – nama pengirim/nama pena – no.hp)

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *