Artikel

Tarsius Bangka Dinyatakan Berstatus “Genting” Oleh IUCN

Tarsius Bangka atau yang disebut Mentilin merupakan salah satu spesies Tarsius yang masuk ke dalam ordo primata. Mentilin sendiri memiliki nama latin Tarsius bancanus. Fauna ini merupakan fauna endemik dari Pulau Bangka.

Primata satu ini mempunyai ciri-ciri dan perilaku layaknya tarsius lain. Dia mempunyai tubuh yang panjang berkisar 12-15 cm dengan bobot tubuh sekitar 128 gram untuk pejantan dan 117 gram untuk sang betina. Ekor yang dimiliki Mentilin tumbuh lebih panjang dari panjang tubuhnya, yaitu sekitar 18-22 cm. Bulu di seluruh tubuhnya berwarna coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan.

Keunikan yang dimiliki Mentilin terletak pada tangan dan kakinya yang memiliki otot-otot yang sama kuatnya. Tak ayal ini membuat Mentilin dengan sangat mudah berpindah dari dahan yang satu ke dahan lainnya apabila dirinya merasa terancam. Mentilin juga dikenal sangat setia kepada pasangannya. Mentilin hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya.

Satwa endemik Pulau Bangka ini merupakan hewan nokturnal atau hewan yang aktif beraktivitas di malam hari. Mereka hidup di dahan-dahan pohon dengan tinggi 3-5 meter. Pada siang hari mereka akan tidur dan mencari makan saat malam tiba. Mentilin biasanya mencari makan berupa serangga seperti, belalang, kumbang, jangkrik, dan serangga kecil lainnya.

Sayangnya, Mentilin masuk ke dalam daftar merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan status konservasi endangered atau genting. IUCN sendiri adalah sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi Sumber Daya Alam (SDA). Status konservasi ini tentunya dinyatakan setelah melalui beberapa pertimbangan dan analisis terhadap Mentilin itu sendiri. Mulai dari populasi, luas hunian, keturunan, wilayah, dan beberapa penilaian lainnya. Status konservasi endangered patut diwaspadai mengingat status konservasi ini berada di titik tengah untuk kondisi threatened atau terancam.

Meskipun Mentilin kalah tenar dengan rekan Tarsius dari Sulawesi, primata kecil ini juga harus dijaga dan dilestarikan agar status konservasinya bisa menjadi lebih baik dan terhindar dari kepunahan. Terutama fauna ini merupakan hewan endemik dari Bangka Belitung dan fauna asli Indonesia. Bersama kita harus menjaga hutan tempat mereka tinggal agar keturunan kita selanjutnya tetap bisa melihat dan mengenalnya.

Penulis: Royan Dwi Saputra

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!