Artikel

Suntik Virus HIV ke Tubuh Sendiri, Bentuk Protes Komunitas Punk di Kuba

Apa yang pertama kali tergambar di benak kalian ketika mendengar kata “punk”? Kekuatan solidaritas? Rambut mowhak ala duri landak? Kehidupan bebas dan liar? Atau sikap mereka yang terkenal anarkis dengan penampilan yang nyentrik? Pemikiran tersebut dapat dibenarkan jika melihat realita saat ini. Hal tersebut membuat masyrakat cenderung memandang anak punk dengan sebelah mata.

Dari beberapa literatur, terdapat alasan-alasan yang mendalangi anak punk untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai Raja Jalanan penganut hidup bebas tersebut. Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya hal ini ialah lingkungan keluarga, teman sepermainan, kecintaan pada musik Rock ‘n Roll, juga rasa ingin dianggap ada oleh masyarakat.

Begitu banyak cerita menarik hingga menggidikkan dari perjalanan hidup anak punk. Salah satunya berasal dari Kuba, komunitas punk bernama Los Frikis.

Kisah ini berawal  Ketika Uni Soviet runtuh di tahun 1989, Kuba kehilangan sekutu utama perekonomiannya, membuat negara kepulauan kecil ini jatuh ke dalam periode kemiskinan yang ekstrem. Terjadi kelaparan, kekurangan bahan bakar, dan kesulitan meluas yang dikenal dengan nama Special Period. Selama Special Period, lebih tepatnya pada pemerintahan Fidel Castro, Frikis dianiaya dan diserang oleh polisi demi menciptakan ketertiban dan keteraturan di negara miskin tersebut. Para Frikis tidak  memiliki kebebasan untuk berkumpul dalam sebuah kelompok. Aparat keamanan akan dengan sigap mengusir di mana pun mereka duduk, diperlakukan berbeda, seakan mereka adalah yang terburuk dalam mayarakat. Frikis menempati posisi terendah dalam strata kehidupan.

Lalu, wabah AIDS pun melanda, Kuba menangani krisis ini dengan agresif. Menguji 80% dari populasi yang aktif secara seksual dan menempatkan semua yang terinfeksi untuk dikarantina di sanatorium. Walaupun kebijakan ini sangat keras, namun mampu mengurangi penyebaran HIV di Kuba dengan drastis. Ketika sanatorium dibuka, 100% penghuninya adalah Frikis.

Tidak seperti penderita AIDS di seluruh dunia, para punk ini menularkan penyakit mematikan tersebut kepada diri mereka sendiri hanya agar pemerintah memberikan mereka penghidupan, saat kuba melakukan penghematan besar-besaran. Para Frikis sengaja menginfeksikan diri mereka sendiri dengan tujuan melayangkan protes kepada masyarakat yang menolak mereka, dan agar pemerintah mengirim mereka ke sanatorium, dimana akses mereka terhadap makanan, tempat berlindung, dan obat-obatan lebih layak dibandingkan dengan kehidupan mereka di jalan. Mereka melihat autoinfeksi sebagai pelarian dari penderitaan mereka.

Melihat realita yang ada, jika menularkan dirinya dengan virus HIV, otomatis mereka akan dikirim ke sanatorium, bertemu dengan orang-orang yang sama sepertinya. Polisi tidak akan mengganggu mereka, dan mereka bisa hidup dengan damai. Frikis sengaja menginfeksikan HIV dengan cara menyuntikkan darah temannya yang sudah positif terjangkit HIV langsung ke dalam pembuluh darah mereka.

Alih-alih terus hidup menggelandang di jalanan dan jadi sasaran persekusi polisi, anggota Frikis yang nekat ini menemukan tempat untuk hidup nyaman dan ideal, yakni sanatorium. Hampir seluruh penghuni sanatorium adalah anggota Los Frikis. Mereka mengubah sanatorium menjadi surga punk di bumi.

Namun saat ini, mayoritas anggota Los Frikis yang ada di sanatorium sudah meninggal digerogoti penyakit yang mereka idamkan, AIDS. Hanya tersisa beberapa Frikis yang mampu bertahan hidup berkat obat antiretroviral yang didistribusikan lewat program layanan kesehatan di Kuba.

Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Melukai diri sendiri demi aktualisasi diri bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Hidup terlalu berharga untuk terluka. HIV/AIDS bukanlah perkara sepele yang dapat dijadikan pelarian untuk hidup yang lebih baik. Alih-alih hidup nyaman selamanya, malah mengundang bencana yang kemudian membuat diri binasa.

Penulis: Annisa Dwi Kurnia

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close