EditorialOpini

Siapa Pahlawan Sesungguhnya di Era Milenial?

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Kutipan tersebut mungkin sudah tidak asing bagi bangsa Indonesia. Tepat hari ini sudah 73 tahun bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Setiap 10 November selalu  diperingati untuk merayakan hari bersejarah yang bertempat di kota pahlawan, Surabaya.

Bagi bangsa Indonesia momentum ini sudah selayaknya digunakan untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah rela mengorbankan tenaga, jiwa, dan raganya untuk mendapatkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Jika di zaman Bung Karno dan Bung Hatta, para pahlawan merupakan sosok yang rela berkorban demi mengusir kolonialisme di negeri ini. Lalu, bagaimanakah sosok pahlawan di era milenial saat ini? Siapa sebenarnya sosok pahlawan di era dimana kita tidak lagi berjuang menghadapi musuh negara penjajah?

Walaupun tidak lagi berada di masa penjajahan, saat ini dalam merayakan hari pahlawan dapat dimaknai dengan menghargai pahlawan yang telah berjasa dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya setiap zaman memiliki kerumitan dan tantangan yang berbeda-beda.

Mungkin definisi pahlawan di era milenial bukan lagi sosok yang mengangkat senjata dan berdiri paling depan untuk memerangi musuh. Tetapi sebenarnya diri sendirilah yang dapat dikatakan sebagai pahlawan utama yang memiliki peran penting. Mengapa? Karena diri sendirilah yang mampu menahan dan mengontrol arus perkembangan teknologi yang paling tidak memperkenalkan beragam budaya luar yang tidak sesuai dengan budaya hidup bangsa Indonesia.

Bukan hanya menyaring berbagai dampak perkembangan teknologi, diri sendiri juga merupakan tonggak utama yang menjadi penyaring penyebaran hoax yang marak terjadi akhir-akhir ini. Dampak yang diakibatkan dari hoax jauh lebih buruk dibandingkan dengan kolonialisme. Yakni, dapat memecah belah bangsa dengan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

Sosok pahlawan lain yang sering dilupakan dalam kehidupan sehari-hari ialah driver Ojek Online (Ojol).  Bagi pengguna jasa Ojol tentunya tahu bagaimana perjuangan mereka dalam melayani para customers demi mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka rela mengantarkan penumpang ketempat tujuan dengan selamat. Mereka yang rela mengantre lama demi mengantar pesanan yang tak jarang ditipu oleh pelanggan. Bahkan mereka yang rela mengantarkan pesanan walau hujan turun, mengejar waktu untuk cepat sampai ketempat tujuan. Namun, naasnya di cancel sepihak oleh pelanggan karena alasan yang tak jelas.

Padahal jika ada sedikit saja rasa kemanusiaan, sudah sepatutnya kita menghargai jasa mereka yang telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan yang kita inginkan. Contoh pahlawan lain yang patut diapresiasi di era saat ini ialah seseorang yang rela memberikan kursinya kepada orang tua, wanita hamil, dan ibu yang membawa anaknya. Seringkali kita temui di kendaraan umum banyak orang yang bersikap acuh dan enggan memberikan kursinya demi orang-orang yang membutuhkan. Bahkan mirisnya, mereka adalah anak remaja atau lelaki muda yang memiliki kondisi fisik lebih kuat dibandingkan orang tua, wanita hamil, dan ibu yang membawa anaknya. Sehingga,  bagi mereka yang memiliki jiwa berkorban tersebut layak disebut sebagai pahlawan masa kini.

Mungkin masih banyak sosok lain yang patut disebut sebagai pahlawan masa kini. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda ikut meneruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Misalnya dengan berkontribusi dalam hal kebaikan yang dapat memajukan bangsa serta mengisi makna baru kepahlawanan dan kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Selamat Hari Pahlawan!

 

Penulis : Herni Widyaretha

Editor : Fatta Sofiana S

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *