ArtikelOpini

Sedotan Plastik, Ancam Lingkungan dan Makhluk Hidup

Sedotan plastik merupakan benda yang sering kita gunakan terutama saat minum. Namun benda berbentuk tabung kecil dan ramping ini selalu masuk dalam 10 besar sampah yang mencemari lautan. Berdasarkan data dari Divers Clean Action penggunaan sedotan platik di Indonesia tercatat mencapai 93 juta batang setiap harinya dan jika sedotan ini direntangkan bisa mencapai 16,78 km atau setara dengan jarak tempuh Jakarta menuju Meksiko.

Walaupun ada beberapa tindakan daur ulang, penggunaan sedotan plastik ini kian hari semakin bertambah dapat dipastikan sedotan-sedotan ini akan langsung dibuang meskipun sekali pakai. Murah dan tahan lama menjadi alasan sedotan plastik ini masih digunakan, namun alasan ini pula yang harusnya menjadi nilai lebih malah menjadi ancaman bagi lingkungan dan makhluk hidup.

Kini berbagai gerakan anti-sedotan mulai disuarakan oleh pemerhati lingkungan hingga organisasi seperti Wild Conservation Society yang meminta pengusaha di Amerika Serikat segera menghentikan penggunaan sedotan plastik. Turut pula Perusahaan besar seperti McDonals melarang pemakaian sedotan plastik di seluruh restorannya di Inggris dan Irlandia pada 2019 dan Starbucks akan melarang pemakaian sedotan plastik pada seluruh gerainya pada 2020. Hal serupa juga dilakukan di Indonesia berupa Peraturan Gubernur Bali No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbunan Sampah Plastik sekali pakai, dimana salah satu bahan yang dilarang yaitu sedotan plastik. Beberapa gerai di Indonesia telah mengganti sedotan plastik dengan sedotan yang terbuat dari bambu. Bahkan di Korea Selatan telah mengeluarkan inovasi baru yaitu sedotan yang terbuat dari beras sehingga bisa langsung dimakan.

Untuk meminimalisir dampak buruk dari sedotan plastik tersebut, dapat dimulai dari diri sendiri dengan tidak menggunakan sedotan, kecuali dalam  keadaan tertentu yang mengharuskan kita membutuhkan sedotan plastik atau jika masih mau menggunakan sedotan, kita dapat menggantinya dengan sedotan stainless yang bisa digunakan berulang-ulang. Dan tentunya pemerintah harus bijak bertindak, serta berperan untuk mengawasi hal tersebut.

Meskipun dampak yang dihasilkan tidak terlalu signifikan, hal ini dapat menjadi langkah awal kita untuk mengurangi penggunaan sampah plastik. Ingat bukan hanya sedotan plastik, hal ini juga berlaku untuk penggunaan barang sekali pakai yang terbuat dari plastik lainnya.

Penulis: Amalia Ulfa

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!