OpiniSuara Pembaca

Sebuah Keresahan : Calon Tunggal Gubma FISIP? Yang Benar Saja!

Pemira sebentar lagi dilaksanakan di Fakultas saya tercinta, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sriwijaya. Namun,ada yang berbeda pada Pemira kali ini dan membuat saya resah.

Beginilah diriku yang masih polos dan suci kalau ingin bicara masalah yang sakral. Hal yang hanya dibicarakan oleh dewa-dewa langit kampus tempatku. Sedangkan aku, akumah apa atuh hanya mahasiswa yang masih meratapi soal-soal UTS.

Entah mengapa tiba-tiba terpikir untuk membuat sebuah tulisan tentang hal ini.Jika hanya sekedar bicara terus nyebar sebagai gosip yang redaksinya pasti berubah sesuai keinginan atau sesuai ingatan. Kalo tulisan, everyone can access it every time in the real form. Itupun Kalau mau dan ada yang baca.

Back to topic, diawal tadi saya bilang bahwa saya sedang resah karena ada yang berbeda dari Pemira tahun ini. Ya,saya resah karena Pemira Fisip tahun ini terjadi fenomena yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Fisip, yaitu hanya ada “Calon Tunggal” Gubma (Gubernur Mahasiswa) dan Wagubma (Wakil Gubernur Mahasiswa).

Kenapa saya resah ? Hello…
Teman-teman pasti paham bahwa Fisip selalu dianggap menjadi Fakultas paling hidup atmosfer politiknya,seharusnya demokrasi diadakan dengan sangat meriah.Fakultas yang dinilai paling berdinamika dan paling hidup gerakannya, kali ini sepertinya anggapan itu segera bisa kita hilangkan saja.Mahasiswa fisip sekarang seperti enggan peduli dengan keadaan sekitar dan hanya memikirkan kuliah saja. Terbukti dengan terjadinya fenomena “Calon Tunggal”.

Bukannya saya tidak setuju dengan si calon tunggal tersebut, saya hanya heran .Apakah apatisme mahasiswa sudah sedemikian tinggi,sehingga banyak yang tidak mau ambil pusing dan ambil bagian dalam Pemira tahun ini? Atau kita lupa dengan esensi Pemira itu sendiri?

Setidaknya menurut saya fenomena calon tunggal ini mengartikan 3 hal yang penting :
1. Apatisme Mahasiswa.
Berapa banyak Mahasiswa yang peduli dengan Pemira, yang tahu tanggal dan kapan diadakan nya Pemira oleh KPU ? Jadi ingat tidak ada kepedulian tanpa kesadaran dan tidak ada kesadaran tanpa pengetahuan. Tidak ada pengetahuan juga tanpa kepedulian.Jika memang tidak ada yg peduli dengan Pemira lagi, sekalian saja Gubma dan Wagubma dipilih oleh DPM biar kita bisa buat isu tandingannya negara beberapa tahun lalu.

2. Tergerusnya Jiwa Berpolitik Mahasiswa.
Jika kita masih menganggap bahwa politik adalah sesuatu yang kotor, jahat, dan harus dihindari, saya sarankan ubahlah pola pikir itu sekarang, atau sekalian saja berhenti jadi mahasiswa FISIP. Saya kira di kelas-kelas dosen sudah seringkali menjelaskan bahwa politik adalah suatu upaya untuk membuat keadaan menjadi lebih baik lagi. Mahasiswa fisip anti politik, aneh sekali.

3. Melemahnya Daya Analisa dan Kritis Mahasiswa.
Fenomena calon tunggal ini juga menjadi pertanda bahwa daya analisa dan kiritis kita sudah mulai melemah, entah karena pola hidup mahasiswa saat ini yang terkesan Hedon atau karena kurangnya budaya literasi pada mahasiswa itu sendiri sehingga kita mulai tidak aware lagi dengan hal-hal seperti Pemira.

Ini pure menurut pemikiran saya yang bukan apa-apa, seorang bujang kampus polos yang masih sangat unyu. Jadi kalo ada yang menyebalkan atau melenceng dari tulisan ini ya monggo samperin saja saya-nya,tidak perlu melibatkan institusi atau lembaga di mana saya berusaha bermanfaat sekarang ini. Saya masih berkeliaran di kampus sebagai mahasiswa biasa kok, belum jadi pejabat dan gamau juga sih.

Saya kira mungkin ini saja tulisan yang mencuat dari sedikit keresahan saya, ini murni bentuk kepedulian saya.Mohon maaf atas kata-kata yang mungkin menyakiti.Mari sama-sama kita wujudkan KM FISIP yang jauh lebih peduli dengan sekitar.

Salam Perjuangan, Hidup Mahasiswa!

Penulis : Dimas M. Perkasa
Editor : (tkn)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!