BeritaNews

Satpam Unsri Keluarkan Surat Pemberitahuan Larangan untuk Keri/Angdes dan Bentor

INDRALAYA, GELORASRIWIJAYA.CO – Pada Selasa (29/10), Satuan Pengamanan (Satpam) Universitas Sriwijaya (Unsri) mengeluarkan surat pemberitahuan bahwa Angkutan Desa (Angdes) dan Becak Motor (Bentor) tidak diperbolehkan lagi masuk ke kampus Unsri Indralaya mulai hari Senin (4/11).

Pemberitahuan tersebut keluar berdasarkan hasil rapat bersama Rektor dan pimpinan Unsri pada Senin (28/10). Kepala Satpam Unsri, Junaidi, mengakui hal tersebut dilakukan untuk ketertiban kampus juga untuk menjaga keamanan warga Unsri. Menurutnya, keadaan di lingkungan Unsri sudah tidak teratur lagi, siapapun dapat masuk ke lingkungan Unsri. Ia menambahkan bahwa imbauan tersebut baru permulaan dan akan diterapkan pada Januari 2020.

“Kendaraan yang dilarang adalah Angdes, Bentor, sama mobil umum yang mentas. Kendaraan bermotor tidak boleh orang luar, ojek kampus itu pun harus mahasiswa dan harus menggunakan id card Unsri. Kalau tidak punya id card Unsri tidak boleh masuk, ini semua berlaku untuk semua warga Unsri. Untuk alumni atau tamu undangan, diwajibkan mengisi buku tamu di pos Satpam terlebih dahulu dan akan diberi id card khusus tamu,” tutur Junaidi.

Junaidi menyampaikan bahwa larangan tersebut dikarenakan Angdes dan Bentor yang kerap melanggar aturan lalu lintas yang ada di Unsri, dan berkemungkinan membahayakan keselamatan warga Unsri. Ia juga menambahkan jika bus yang berada di terminal tidak menjadi masalah karena langsung ke terminal dan tidak mengganggu lalu lintas.

Namun, Junaidi mengaku masih ada kemungkinan perubahan, seperti menambah atau memperbolehkan beberapa Angkot/Angdes apabila ternyata setelah percobaan nanti diperlukan. Akan ada aturan lalu lintas khusus dan Angkot/Angdes akan ditandai secara khusus. Mahasiswa yang masuk ke lingkungan Unsri di hari libur harus tetap membawa id card dan angkutan yang dinaikinya harus meninggalkan tanda pengenal seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) di pos Satpam. Bagi pedagang di kantin, Junaidi mengaku belum ada kebijakan yang pasti, namun akan dicarikan jalan keluarnya.

Menanggapi hal tersebut, Dedi, sopir Bentor mengaku tidak setuju dengan hal tersebut. “Kami tidak setuju, karena akan mengurangi pendapatan sehari-hari. Tidak ada pemasukan untuk dapur dan kami rasa itu akan merepotkan mahasiswa juga,” ungkapnya.

Di lain sisi, Inggrid Dea Arini, mahasiswi Ilmu Komunikasi merasa hal tersebut akan membawa dampak positif dan negatif. “Ada bagusnya dan tidak bagusnya. Dengan adanya peraturan itu, memang lebih bagus untuk kampus, terus akan terlihat lebih rapi. Namun, apakah akan lebih efektif? Menurut saya akan lebih ribet jadinya, karena mahasiswa punya jadwal dan kesibukan masing-masing dan kadang ada urusan yang harus cepat. Kalau menunggu bus dulu pasti akan jadi ribet,” tuturnya.

Penulis : (apn)
Editor : (oya)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *