KolomOpini

“Rundung”, Momok Nyata bagi Anak

Bukan hanya kisah mistis dan takhayul, perilaku rundung tak kalah menyeramkan bahkan dampaknya lebih menakutkan.

Juli 2017 lalu, Indonesia digemparkan oleh kasus seorang siswi SMA di Riau tewas bunuh diri diduga sebagai korban bully di sekolah.  Dilansir dari sebuah portal berita online, beberapa hari sebelum korban melakukan aksi nekatnya yakni menceburkan diri ke Sungai Kampar, korban sudah tidak mau sekolah lagi. Korban mendesak pihak keluarganya segera memindahkannya ke sekolah lain. Usut punya usut, korban tertekan karena diejek miskin dan buruk rupa oleh teman-temannya di sekolah. Namun, katanya, pihak sekolah tidak mendeteksi hal tersebut dan keluarganya pun tidak mengetahui masalah yang dihadapi anaknya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidup.

Sungguh malang, karena secara tidak langsung para pelaku bullying dapat mengatur singkat atau lamanya durasi hidup korban dengan cara bunuh diri.

Bullying atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan rundung merupakan sebuah tindakan tercela, dimana satu pihak yang lebih kuat merendahkan pihak lain. Dilihat dari tingkat pengulangan dan adanya kekuatan yang tidak seimbang antar kedua belah pihak yang terlibat. Dalam perilaku rundung, ada niat untuk menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bagi korban, secara fisik maupun psikologis. Cakupan aksi penindasan mulai dari mencela, memaki, atau bahkan melakukan kekerasan fisik.

Fakta mengerikan dibalik kisah-kisah perundungan pada anak-anak ialah dampak yang ditimbulkan. Baik itu perundungan secara verbal maupun kekerasan fisik, menimbulkan luka yang sulit sembuh bagi korban. Dikutip dari salah satu laman kesehatan, dampak yang mendera korban perundungan diantaranya; gangguan kecemasan, depresi, hingga kecenderungan gangguan jiwa. Jika diibaratkan sebuah luka kecil yang lama-kelamaan menjadi borok penuh nanah apabila dibiarkan begitu saja.

Terkait kasus perundungan masa kini, saya melihat anak-anak sekarang ada yang cenderung merasa wah, sok jago, sok pintar dibandingkan dengan teman-teman yang lain hingga mendorong mereka untuk mengintimidasi anak yang berbeda dengannya. Sungguh realita yang menyedihkan.

Korban perundungan cenderung takut untuk menceritakan apa yang telah mereka alami kepada keluarga atau orang terdekat. Mereka justru hanya menyimpan rasa sakit yang kemudian membuat hati korban lebam dengan sendirinya.

Ada beberapa kasus yang menunjukan bahwa perundungan yang dialami dijadikan motivasi untuk korban berbuat lebih banyak kebaikan, bahkan mencapai kesuksesan. Hal tersebut untuk membuktikan bahwa tak selamanya mereka hidup untuk ditindas, tentu ini merupakan hal positif yang patut dicontoh oleh korban perundungan lainnya. Namun, ada pula yang menyimpan dendam masa lalu yang memotivasi korban untuk membalaskan dendamnya.

Menyedihkan, bukan? Anak-anak mestinya hidup bahagia, dapat bermain dengan teman-temannya, belajar dengan tenang, bukan malah ketakutan akan momok yang terus menghantui setiap langkah mereka yakni “rundung”. Ada senyum yang harus tersemat pada raut tiap anak, ada ketakutan yang harus dibumihanguskan dalam jiwa mereka.

Apakah mungkin rantaian kisah tentang momok menakutkan bernama rundung dapat diputuskan? Bagaimana menurutmu?

 

 

Penulis : Annisa Dwi Kurnia

Editor : Fatta Sofiana Solihah

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *