BeritaFeature

Rezeki di Balik Potongan Buah Rujak

Matahari yang keemasan sudah mulai meredup, pertanda azan ashar akan dikumandangkan, terdengar lantunan ayat suci yang bersumber dari Masjid Al-Ghazali. Di antara lalu-lalang kendaraan dan mahasiswa yang bergegas pulang, kususuri trotoar menuju apartemen mahasiswa yang berada di dalam wilayah kampus Universitas Sriwijaya (Unsri). Namun, di pertengahan jalan pulang sebelum melintasi masjid, aku melihat lelaki tua berkacamata memakai kaus abu-abu berkerah. Pria itu duduk bersandar di pohon kelapa sawit dengan sepuntung rokok di sela jarinya yang hampir habis diisap.

Saipul Anwar, lelaki berusia 70 tahun yang telah menjadi pedagang rujak keliling di wilayah kampus Unsri sejak 10 tahun yang lalu. Ia biasa berjualan mengelilingi kampus dan terkadang sengaja mangkal di sekitar masjid, alasannya agar bisa sekalian melaksanakan salat. Terlebih banyak mahasiswa yang melakukan salat berjemaah di masjid, hal ini juga memberikan peluang supaya dagangannya cepat laku terjual. Sembari beristirahat, sesekali ia menegur mahasiswa yang lalu-lalang untuk menawarkan dagangannya.

Dengan topi lusuh yang ia kenakan saat melanjutkan perjalanan, ditambah dengan bahu yang semakin membungkuk dimakan oleh usia. Tubuhnya tampak bergetar, saat mengambil ancang-ancang untuk mendapatkan tenaga lebih saat mendorong gerobaknya melewati polisi tidur. Di dalam gerobak yang ia dorong, terdapat potongan semangka, mangga muda, serta aneka campuran buah yang telah diwadahi plastik mika, juga es batu sebagai pendingin agar dagangannya tetap segar. Terkadang, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas sambil mengusap keringat di dahi. Lelah dan gerah begitu tergambar di raut wajahnya yang telah keriput.

Kini, ia hidup sebatang kara. Istri dan anaknya telah meninggal dunia. Sebelum berjualan keliling, ia bekerja sebagai pekebun di kabupaten Lahat, namun 10 tahun terakhir ia lebih memilih berjualan dan pindah ke Indralaya, tempat ia tinggal saat ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Setiap hari ia berangkat pukul 10 pagi dari rumahnya di Griya Cipta Utama, Indralaya Utara. Ia mendorong gerobak kaca dagangannya menuju Unsri sejauh tiga kilometer, menyusuri jalan yang gersang karena kendaraan bermotor. Ia berkeliling menjajakan buah semangka dan rujaknya hingga sore hari. Jika dagangannya masih bersisa, ia pindah ke tempat ramai di luar kampus.

Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, ia selalu mengupayakan agar hidupnya jauh dari belas kasihan orang lain. Walaupun ia membeli bahan dagangannya dari pasar yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Sepulang dari pasar, ia membersihkan buah-buahan tersebut kemudian disulap menjadi rujak segar untuk dijual kembali.

Setelah berjualan keliling, tak jarang ia tiba di rumah menjelang magrib. Bahkan sering kali hingga azan magrib dikumandangkan, ia masih dalam perjalanan pulang, untuk memastikan barang dagangannya laku terjual meskipun jarang sekali habis. Keuntungan dari hasil penjualan rujak juga tidak begitu besar, biasanya ia hanya mendapatkan laba sebesar seratus ribu rupiah, itu pun apabila barang daganganya terjual habis. Jika masih terdapat sisa penjualan, ia tidak menyimpannya, melainkan diberikan kepada tetangga rumah sekitar tempat ia tinggal agar rujaknya tidak terbuang percuma.

Di hari libur mahasiswa, seperti Sabtu dan Minggu, ia tidak berjualan di dalam kampus maupun di luar, ia lebih memilih untuk istirahat di rumah mengembalikan tenaga yang terkuras karena berdagang. Jika sedang libur panjang, ia benar-benar tidak dapat berjualan di dalam lingkungan unsri. Untuk mengisi waktu tersebut, terpaksa ia berjualan lebih jauh menyusuri komplek Indralaya Utara yang sepi akan penduduk. Hal tersebut ia lakukan karena sumber pendapatannya hanya bergantung pada penjualan rujak, walau pendapatannya pun tidak sebesar saat berjualan ketika mahasiswa masih melakukan aktivitas perkuliahan.

Setiap kali melihat ia berdagang, aku selalu menyempatkan untuk membeli. Mangga muda dan semangka merah, seakan menjadi makanan langgananku dari dagangannya. Selain itu, aku merasa iba dengan kondisi tubuhnya yang telah renta dimakan usia, namun semangat kerjanya masih membara.

Gerobak kaca yang hampir setiap hari ia dorong untuk mengais rezeki menjadi saksi bisu perjuangannya. Bahkan, ia tidak ingin mengganti gerobaknya dengan kendaraan bermotor. Ia mengatakan kalau gerobak itu yang paling lama menemaninya mencari rezeki.

 

Penulis : Fahrur Ruzi

Editor : Royan Dwi Saputra

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *