BeritaNewsSeputar Sumsel

Resah, Kemalingan Bertubi-tubi di Sekretariat Ormawa FKIP : Bagaimana Sistem Keamanan Kampus?

INDRALAYA, GELORASRIWIJAYA.CO – Kemalingan bertubi-tubi yang terjadi di sekretariat Organisasi Mahasiswa Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (Ormawa FKIP) membuat resah mahasiswa FKIP. Kemalingan pertama kali terjadi di ruang jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan (PMIPA), dengan total kerugian sekitar 80 juta rupiah. Kemudian berlanjut ke sekretariat BEM KM FKIP, DPM FKIP, sekretariat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Matematika, PPKN, Bahasa Indonesia, PGSD, PLS, bahkan mahasiswa dan dosen.

M. Danny Pratama Lamura (20), Sekdin Polkasrat BEM KM FKIP menjelaskan, “Awal terjadinya kemalingan ini ialah di ruang jurusan PMIPA gedung D FKIP, 5 Juli lalu. Barang yang hilang ialah kamera, handycam, laptop, dan lain-lain, dengan total kerugian sekitar 80 juta rupiah.”

Junaidi, Pimpinan Satpam Unsri, membenarkan adanya laporan kemalingan yang terjadi di ruang jurusan PMIPA gedung D FKIP. “Kemalingan di ruang jurusan PMIPA gedung D FKIP telah dilaporkan ke kepolisian, dan telah dilakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk memindai sidik jari,” jelasnya.

Junaidi juga menambahkan bahwa, tidak adanya fasilitas pendukung seperti CCTV yang dapat membantu kepolisian dalam melacak pelaku menjadi kendala, hingga sampai sekarang pelakunya belum diketahui walau polisi telah turun ke TKP.

Kemalingan juga terjadi secara bertubi – tubi di sekretariat Ormawa FKIP. Dimulai setelah PK2, sekretariat DPM FKIP kehilangan sound system. Awalnya, hilangnya barang tersebut dianggap karena kelalaian semata. Namun setelah itu, terdengar kabar Gubernur Mahasiswa kehilangan laptopnya di sekretariat BEM KM FKIP, dan kipas angin pada pukul 12 siang, Minggu (9/9). Kemudian mulai diikuti kehilangan di beberapa sekretariat.

Data-data sekretariat yang kemalingan dan barang-barang hilang yang didapat dari M. Danny Pratama Lamura (20) selaku Sekdin Polkasrat BEM KM FKIP, adalah sebagai berikut.

(1) Sekretariat DPM KM FKIP kehilangan sound system setelah PK2;

(2 )Minggu (9/9), sekretariat BEM KM FKIP. Barang yang hilang ialah laptop Gubernur mahasiswa FKIP, dan kipas angin. Sebelumnya di bulan September juga kehilangan LCD;

(3) Senin, (15/10) secara bersamaan, tiga sekretariat HMJ juga jadi sasaran maling, antara lain Sekretariat HMJ Matematika, barang yang hilang: sound system dan printer. Sekretariat HMJ PPKN, barang yang hilang kipas angin. Sekretariat HMJ Bahasa Indonesia, barang yang hilang sound system;

(3) Selasa, (16/10) sekretariat HMJ PGSD. Barang yang hilang sound system;

(4) Rabu, (17/10) Dosen kehilangan helm;

(5) Kamis (18/10), Melyanti, mahasiswa FKIP, kehilangan telepon genggam dan dompet, dan mahasiswa PLS kehilangan sepatu dan helm;

(6) Sekretariat KPU FKIP kehilangan telepon genggam, perkiraan pada saat Pemira;

(7) Minggu (25/11), Sekretariat Madani Pers. Barang yang hilang: printer, 6 helai gamis.

Dilakukan Dua Kali Audiensi

Pelaporan sudah dilakukan oleh BEM KM FKIP ke Dekanat dan mereka telah melakukan audiensi meminta penguatan pengamanan. Salah satu solusi yang mereka tawarkan adalah pemasangan CCTV. Namun, pihak dekanat menyarankan untuk melakukan pemasangan terali. Setelah digelar diskusi terbuka, seluruh mahasiswa KM FKIP Unsri sepakat bahwa pemasangan terali itu dirasa tidak efektif, karena terali bisa dilepas.

Audiensi pertama telah dilakukan dengan Akman, Bagian Kepala Perlengkapan Dekanat FKIP, Selasa (23/10). Tanggapan yang diberikan adalah langsung mengajukan surat pengadaan atau pengajuan peminjaman CCTV ke Dekanat oleh BEM KM FKIP.

Audiensi pertama dirasa belum ada otoritas penuh karena Dekan tidak ikut andil. Maka, kemudian diadakan audiensi lanjutan dengan Wakil Dekan II, Rabu (24/10). Danny menjelaskan, “Tanggapan dari WD II pada audiensi kedua ialah, ajukan dulu surat pengadaan atau peminjaman CCTV. Silahkan data engsel-engsel pintu yang rusak, dan nanti akan diperbaiki. Bukan dipasang terali.”

Tuntutan pemasangan CCTV dirasa tidak mungkin direalisasikan sekarang, karena akan dicantumkan dulu ke RKUHP tahun ini, dan tahun depan baru bisa diwujudkan apabila disepakati. Saat ditemui untuk wawancara pada Rabu (7/11), mengenai keamanan dan tanggapan kemalingan bertubi-tubi di sekretariat Ormawa FKIP, Wakil Dekan III FKIP Bidang Kemahasiswaan, Syarifuddin Gani mengatakan bahwa Kepolisian Ogan Ilir sudah dipanggil untuk memproses kasus kemalingan di ruang PMIPA. Namun sampai sekarang belum diketahui kelanjutannya. “Bukannya kami tidak menindaklanjuti. Mestinya, secara menyeluruh ini tanggung jawab Unsri dan untuk keamanan, kembali lagi pada individu masing-masing,” tegasnya.

“Di Unsri ini, untuk pembelian ada dana Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-KL) Kalau sekarang diusulkan, maka tahun depan baru bisa dibelikan. Mungkin akan direkomendasikan oleh Wakil Dekan II, untuk mengetahui kalau seandainya kehilangan, minimal kita bisa mengetahui pelakunya. Usulan CCTV dari audiensi BEM KM FKIP akan dirembukkan dalam rapat pimpinan dulu. Solusi sementara yang dapat kami tekankan ialah untuk menjaga barang masing-masing,” tandasnya.

Solusi sementara dari mahasiswa ialah mengadakan ronda malam sembari menunggu tanggapan lebih lanjut dari pihak birokrat.  Danny berharap tidak ada lagi kasus kemalingan yang terjadi, dan juga perketat keamanan.”Solusi yang lebih konkret adalah pemasangan CCTV, karena jelas kelihatan siapa saja yang masuk,” tuturnya.

Satpam Tak Merasa Punya Tanggung Jawab

Menurut keterangan Satpam FKIP, pihaknya tidak bertanggung jawab atas kejadian ini. “FKIP ini tidak ada piket malam lagi mulai dari bulan Mei. Sejak dihilangkan piket malam inilah mulai ada kasus maling. Dulunya tiga shift, yaitu siang, malam, dan off. Nah, kebijakan sekarang, mulai hari senin sampai Jumat, jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Setelah di atas jam tersebut, sepenuhnya tanggung jawab pimpinan satpam, atau satpam yang menjaga gerbang yang melakukan patroli,” papar Dadia, satpam FKIP.

Junaidi,  Pimpinan Satpam Unsri, membantah adanya perubahan sistem tiga regu yang telah diterapkan sejak dulu. Ia mengaku, bahwa sampai hari ini masih menggunakan sistem tiga regu, tapi ada pertukaran satpam, misalnya bulan ini satpam FKIP berjaga di FKIP, bulan depan di Fakultas Pertanian. “Dari zaman dulu tidak ada satpam pulang jam 4 sore,” sanggahnya.

Junaidi juga menyampaikan, sistem pelaporan kemalingan di Unsri ialah, satpam fakultas wajib lapor kepada pimpinan satpam. Kemudian, kepala satpam turun ke lokasi untuk melihat situasi dan keadaan, dan akan diselesaikan jika bisa ditangani sendiri. Tetapi, jika tidak bisa, akan dilanjutkan ke pihak kepolisian. Ia pun mengaku belum menerima laporan kemalingan di beberapa sekretariat Ormawa FKIP.

Jumlah Satpam yang Minim jadi Faktor Penyebab

Menurut Junaidi, kuantitas tenaga keamanan di Unsri ini tidak sesuai dengan  luasnya Unsri. Pimpinan satpam telah mengajukan usulan penambahan tenaga pengamanan kepada rektorat sejak bulan Juni. Pengajuan penambahan satpam di Palembang sekitar 30, sedangkan Indralaya sekitar 10-15. Namun, hingga sekarang belum ada penambahan. Selain itu, kendala lain ialah fasilitas handy talkie (HT) yang kadang-kadang bermasalah, sehingga sulit untuk berkomunikasi.

“Bisa dibayangkan, Unsri sebesar ini dijaga oleh tenaga keamanan yang sangat minim. Jadi, kalaupun ada kasus maling, itu mungkin wajar-wajar saja,” tutupnya.

Penulis: (shi)

Editor: (din)

Facebook Comments
Tags

Related Articles

3 Comments

  1. Sbenernya ada mahasiswa yang tahu kira-kira siapa yang berada saat kejadian. Toh, sekret salah satu hmj juga pernah ditiduri oleh orang yang bukan anggota himpunan. Dia masuk dengan cara mencongkel pintu. Setelah itu banyak barang hilang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *