Feature

Raja yang Meninggal dalam Keadaan Sedih

Suatu siang aku memiliki sebuah misi perjalanan yang tidak begitu jauh. Sekitar 15 menit dari kampus, bukan pula misi yang dikatakan “wow” akan tetapi ini sebuah misi yang membuatku merasa seorang jurnalis. Kali pertama bagiku mewawancarai seseorang diluar lingkup Universitas Sriwijaya. Misi itu adalah wawancara juru kunci salah satu makam raja kesultanan Palembang.  Sebagai pendatang baru di kota Indralaya salah satu kabupaten yang berada di Sumatera Selatan hal itu sedikit tabu.

Aku tidak sendirian menjalankan misi tersebut, bersama temanku. Kami langsung meluncur ke desa Saka Tiga. Desa ini terkenal dengan masyarakatnya yang agamis. Ada  pondok pesantren Raudhatul Ulum yang berdiri kokoh sebagai ikon desa tersebut. Sebelum memasuki desa itu, kami harus melewati jembatan cat berwarna hijau-putih dengan pemandangan dibawahnya terdapat air yang mengalir perlahan dan kami berjumpa beberapa orang yang sedang mengemudikan prahunya untuk mencari ikan.

Akhirnya kami tiba di rumah juru kunci makam, Azwar namanya. Pria paruh baya itu mengajak kami menuju makam raja kesultanan Palembang yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Ia sudah lama menjadi juru kunci makam sejak 1994 sampai sekarang.  Pak Azwar meminta kami untuk tidak mengumpat dalam hati ketika di dalam komplek makam tersebut, dan jangan lupa mengucap salam serta melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu. Dengan alasan demi keselamatan kami selama ditempat itu.  Jantungku mulai berdetak lebih cepat dari biasanya jika ini masalah keselamatan. Aku berpikir tidak akan terjadi apa-apa seandainya hanya menjalankan misi wawancara. Kerana aku termasuk orang yang awam terhadap mistis, akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya, kenapa harus kaki kanan terlebih dahulu dan ada apa dengan kaki sebalah kiri?

Menurut  penjelasan pak Azwar kaki sebelah kanan merupakan kaki yang bagus atau sopan dalam lingkup masyarakat kita dengan tujuan menghormati makam tersebut, selain itu masyarakat setempat mempercayai adanya harimau putih di gerbang masuk. Meski aku tidak melihat atau merasakan adanya tanda-tanda harimau itu, tapi apa salahnya jika menghormati kepercayaan warga setempat. Toh, negara kita juga mengajarkan sifat toleransi.

Pak Azwar lalu menjelaskan siapa tokoh di balik makam tersebut. Pangeran Ratu Sultan Jamaludin Mangkurat VI atau yang lebih dikenal dengan Sedo Ing Rejek  keturunan dari daerah Kesultanan Demak yang menerapkan kebijakan bahasa dan budaya Jawa di daerah Palembang. Hal tersebut ada beberapa kata bahasa melayu Palembang yang sama dengan bahasa Jawa. Perjalanan Raja Sedo Ing Rejek  sampai ke Saka Tiga bermula dari datangnya kolonial Belanda yang menjajah di tanah Palembang dengan pertempuran yang sengit antara rakyat Palembang dengan pasukan VOC yang dipimpin oleh Johan Van Der Lean. Sayangnya pasukan rakyat Palembang yang dipimpin oleh  Sedo Ing Rejek dapat di taklukan oleh VOC pada tanggal 24 November 1569. Karena kurangnya dukungan persenjataan yang canggih. Sebagai seorang raja di kerajaan Palembang Sedo Ing Rejek tidak tinggal diam atas kejadian kekalahan yang dialaminya. Sehingga ia membuat markas tepatnya di tugu meranjat simpang tiga, markas itu berfungsi sebagai  tempat menyusun strategi agar dapat memukul mundur koloni Belanda yang menduduki daerah Palembang.

Bukan hanya menyusun strateginya saja Sedo Ing Rejek bersama putra mahkota Pangeran Mangkubumi Nembing Kapal atau yang lebih di kenal dengan Raja Kancing Bosi dan para pengikutnya melakukan perlawanan secara gerilya terhadap Belanda. Namun pada tahun 1569, sialnya pangeran Ario Kesumo alias Ki Mas Hindi berkhianat kepada raja, iamemiliki ikatan persahabatan dengan Belanda yang di iming-imingi sebuah kekuasaan sebagai sultan serta mengubah kepemimpinan dari kerajaan Palembang menjadi kesultanan Palembang.Dengan tahun yang sama pula Sedo Ing Rejek wafat setelah Palembang rata dengan tanah.

Menurut Pak Azwar, nama Sedo Ing Rejek berasal dari bahasa sanskerta yang memiliki arti raja yang  meninggal dalam keadaan sedih. Ia meninggal dalam keadaan sedih karena adiknya sendiri memiliki hubungan persahabatan dengan Belanda.  Sebelum meninggal Sedo Ing Rejek memberi wasiat kepada putra mahkota untuk segera meninggalkan Saka Tiga, agar terhindar dari kejaran Belanda dan melanjutkan perjuangannya untuk merebut Palembang dari pendudukan Belanda.

Banyak orang berdatangan untuk berziarah dimakam tersebut ketika bulan Ramadan. Bukan masyarakat sekitar, melainkan dari kota Palembang bahkan dari daerah Jawa yang masih memiliki keturunan darah bangsawan dari kerajaan Demak.

Penulis: (drk)

Editor: (rhs)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *