Resensi

Rahasia Salinem, Kehilangan dan Kesetiaan yang Dalam


Judul buku : Rahasia Salinem
Pengarang : Briliant Yotenega dan Wisnu Suryaning Adji
Penerbit : Storical.co
Tahun terbit : 2019
Jumlah halaman : 387

Seperti biasa, novel dengan setting waktu masa kolonial Belanda memang selalu menarik minat saya, ulasan-ulasan positif dari para pembaca semakin memperkuat alasan untuk membaca novel ini.

Buku Rahasia Salinem berfokus pada Salinem, seorang abdi dalem, yakni perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk mengurusi kebutuhan keluarga keraton. Sepanjang hidupnya yang hampir satu abad, ia telah melalui serangkaian persitiwa.

Konflik mulai timbul ketika tiba di mana Salinem mangkat pada tahun 2013. Sebaris pertanyaan muncul, di mana nama Mbah Nem (panggilan Salinem) akan diletakkan pada pohon silsilah keluarga?

Tyo, salah satu cucu kesayangan Mbah Nem, baru mengetahui kenyataan yang sebenarnya, bahwa Mbah Nem yang hampir 30 tahun dikenalnya bukanlah nenek kandung. Berawal dari sanalah, potongan-potongan cerita yang sesungguhnya mulai terkuak, bagaimana seorang jelata yang menjadi pelengkap serta jembatan bagi sebuah keluarga.
Salinem dalam cerita ini digambarkan sebagai perempuan dengan pribadi yang kuat dan keras kepala. Berbeda dengan kedua sahabatnya, Gusti Soeratmi, gadis bangsawan yang penuh semangat, serta Gusti Kartinah, gadis anggun nan kalem selayaknya putri bangsawan lainnya.

Buku setebal 387 halaman ini sejatinya tak hanya menceritakan tentang jalan hidup Salinem. Ada begitu banyak pesan tersirat yang disampaikan penulis lewat rangkaian kata yang ia buat. Bagaimana Salinem menghadapi kehilangan-kehilangan yang ia terima dalam hidupnya, kesetiaan, persahabatan, hal sederhana yang mampu mencocokkan kepingan puzzle yang tercecer, serta cinta yang bukan dalam konotasi romantis belaka.

Dengan alur maju mundur, penulis sama sekali tidak membuat pembaca bingung, sebab alur ceritanya tertata rapi dan runut. Pada satu bab, setting waktu pada masa penjajahan Belanda menceritakan kisah hidup Salinem dan orang-orang di sekitarnya. Di bab berikutnya, setting waktu pada tahun 2013, akan diceritakan petualangan Tyo dan Bulik Ning yang berusaha memecahkan misteri Salinem.

Penulis menyuguhkan beberapa genre yang berpadu dengan pas, antara petualangan, sejarah, romansa, persahabatan, dan kuliner. Latar waktu pada masa kolonial yang disajikan pun terasa nyata, penulis mampu membangun suasana yang dapat menarik pembaca ikut menyaksikan adegan demi adegan yang terjadi dalam buku tersebut.

Dari segi gaya bahasa, penulis mampu menarasikan ceritanya dengan kalimat-kalimat sederhana yang dapat langsung dimengerti pembaca, tanpa menghilangkan unsur puitis di dalamnya. Penuturan bahasa dalam dialognya pun tepat pada tempatnya.

Untuk menambah cita rasa Jawa yang kental, penulis menyelipkan beberapa istilah serta dialog dalam bahasa Jawa. Sangat disayangkan, ada beberapa kalimat Jawa ini tidak diberi terjemahannya, sehingga pembaca yang awam akan sulit memahaminya. Alangkah lebih baik jika istilah serta dialog tersebut diberi catatan kaki.

“Benarlah, selalu ada kisah yang tak tersampaikan. Bukan karena ditutupi, melainkan manusia memang kerap khilaf pada hal-hal kecil, menganggapnya remeh. Kemudian, menyeruak seperti fajar di pagi buta, kisah-kisah kembali.”

Penulis: Dinar Wahyuni

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
error: Content is protected !!