ArtikelOpini

Quarter Life Crisis, Krisis Awal di Masa Muda

“Aku bingung nih mau ngapain setelah lulus kuliah. Kerja atau lanjut S2? Belum lagi ditambah masalah-masalah lain,”
“Temanku sudah mencapai fase suksesnya, aku belum berbuat apapun,”

Kalimat di atas sering kali diucapkan oleh orang-orang di lingkungan kita, baik teman kampus, lingkungan rumah, atau teman semasa SMP dan SMA. Pernyataan seperti itu sering disebut dengan Quarter Life Crisis.

Kita ketahui bahwa, manusia adalah makhluk kompleks yang melalui beberapa tahap kehidupan mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Manusia memiliki karakteristik atau kecenderungan yang berbeda-beda di setiap tahapan tersebut.

Apa itu Quarter Life Crisis? Apa benar pernyataan di atas merupakan salah satu dari Quarter Life Crisis?

Quarter Life Crisis merupakan fase kehidupan yang membuat kita sering merasa cemas, ragu, kebingungan, hingga kesepian. Quarter Life Crisis ini biasanya dialami oleh manusia yang menginjak usia 20 tahun sampai 30 tahun.

Dilansir dari laman Tirto, Dr. Oliver Robinson, peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London mengatakan ada empat fase dalam Quarter Life Crisis ini. Pertama, perasaan terjebak dalam suatu situasi, entah itu pekerjaan, relasi, atau hal lainnya. Kedua, pikiran bahwa perubahan mungkin saja terjadi. Ketiga, periode membangun kembali hidup yang baru, dan terakhir adalah fase mengukuhkan komitmen anyar terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang dipegang seseorang.

Quarter Life Crisis ini juga dialami mahasiswa di perguruan tinggi, di mana banyak pertanyaan yang muncul tentang bagaimana masa depan atau apa dan mana yang belum dilakukannya di masa sekarang yang nantinya akan berpengaruh terhadap masa depannya.

Langkah yang dapat kita lakukan untuk menghadapi Quarter Life Crisis adalah :

Pertama, meyakinkan diri bahwa semua kecemasan, kegalauan, dan kekhawatiran akan segera berlalu dengan meningkatkan kapasitas diri.

Kedua, tanyakan pada diri sendiri apa impian terbesar dan mulai melakukan hal-hal yang dapat mewujudkannya.

Ketiga, latih terus kesabaran dan jangan melihat standar keberhasilan seseorang jadi standar keberhasilan kita juga. Jalani apa yang ada dan dipunya. Tidak ada yang sempurna di dunia ini dan mengalami kegagalan adalah hal yang biasa.

Keempat, lihat skala prioritas, mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Jika memiliki nilai dalam diri, coba kembangkan dan mulai susun prioritas yang harus segera diselesaikan.

Mungkin itu yang dapat penulis sedikit sampaikan tentang Quarter Life Crisis. Jika anda sedang mengalaminya, yakinkan pada diri anda bahwa Anda bisa menghadapi fase ini.

Penulis : Desi Rahma Sari
Editor : Royan Dwi Saputra

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!