Artikel

Potret Pilu Arie Hanggara yang Terus Saja Berulang

Sudah lebih dari tiga dasawarsa Arie Hanggara meregang nyawa karena dianiaya orang tuanya. Kini, kisah anak laki-laki yang dulunya berusia 8 tahun tersebut, menjadi gambaran kesedihan akan maraknya kekerasan terhadap anak-anak.

Dapat dikatakan bahwa Arie merupakan korban dari ketidakharmonisan keluarganya. Dimana orang tua kandung Arie memutuskan berpisah, sehingga Arie dan kedua saudaranya memiliki ibu sambung. Tak lebih baik dari ibu kandungnya, kehadiran perempuan bernama Santi dikehidupan Arie semakin mendekatkannya pada tempat persemayaman. Ditambah lagi, saat itu Ayah Arie yang bernama Machtino bin Eddiwan alias Tino ialah seorang pengangguran.

Nasib murid kelas 1 SD Perguruan Cikini, Jakarta Pusat tersebut memang tragis ketimbang kedua suadaranya. Arie kerap kali menjadi bulan-bulanan ayah dan ibu tirinya. Amarah yang terus dilampiaskan kepada Arie kabarnya dipicu rasa kesal dengan perbuatan mencuri si bocah malang itu. Berbagai kekerasan fisik berupa pukulan, jambakan, siraman air dingin, hingga kepala yang dibenturkan ke tembok pun menghujam tubuh kecilnya selama berhari-hari. Selain itu, Arie juga tidak diperbolehkan untuk makan dan minum.

Hingga pada akhirnya, tanggal 8 November 1984 Arie yang tak kuasa lagi menahan sakit pun menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuh Arie yang didapati oleh ayahnya tak sadarkan diri sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun, Arie tak tertolongkan dan malam itu sekaligus malam terakhir bagi Arie merasakan kekejaman ayah dan ibu tirinya.

Sontak saja, peristiwa ini mengundang banyak kecaman publik, tak sedikit pula yang mengutuk kejinya perbuatan orang tua Arie yang tega menghabisi nyawa anaknya sendiri. Tak tanggung-tanggung, melansir dari Tirto.id, pemerintah sempat ingin mendirikan patung berbentuk Arie Hanggara sebagai pengingat akan peristiwa yang memilukan ini. Tapi, akhirnya tidak diteruskan karena tak mendapatkan izin dari ibu kandung Arie. Selain itu, kisah pilu Arie juga diangkat ke layar lebar serta didendangkan lewat lagu yang berjudul “Alam Bebas Yang Damai” ciptaan Idris Sardi.

Melihat potret dari naasnya nasib Arie Hanggara nampaknya tak dapat memutus praktik kekerasan anak yang seolah-olah tak ada ujungnya. Misalnya saja, kematian bocah perempuan bernama Angeline yang ditemukan terbalut kasur dan terkubur di bawah kandang ayam pada 2015 silam juga memancing kegeraman. Pasalanya, bocah yang cantik nan manis itu mendapatkan perlakuan tak seperti anak seusianya. Angeline sering kali dijumpai gurunya memakai seragam sekolah yang berbau tak sedap. Serta Anggeline juga mengaku kelaparan dan alami sakit kepala.

Derita Angeline ini diterima bukan karena dari kekejaman orang tua kandung seperti Arie. Melainkan, perbuatan ibu angkatnya yang telah mengabaikan hak-haknya. Bahkan, hasil temuan autopsi mengindikasikan bahwa selain kekerasan fisik, Angeline rupanya sempat mendapatkan kekerasan seksual yang pernah dilakukan oleh mantan pembantu di rumah keluarga angkatnya.

Kekerasan terhadap anak-anak tak melulu dilakukan oleh orang tua di rumah. Tahun 2019 lalu, jagat maya digemparkan dengan viralnya video kekerasan yang dilakukan oleh senior kepada juniornya. Sejumlah siswa yang tengah mengikuti orientasi di sekolah tersebut, diperlakukan lebih dari seekor binatang. Mereka dicekoki makanan encer yang dicampurkan dan terlihat sangat menjijikkan.

Tidak kalah hebohnya, baru-baru ini santer pemberitaan kekerasan seksual yang dialami oleh ratusan anak. Bukan main lagi, pelakunya diketahui ialah seorang warga negara asing asal Prancis. Pria paruh baya itu dengan kejinya melecehkan sejumlah 305 anak dan parahnya lagi sampai mengabadikan perbuatan kejinya.

Kekerasan secara fisik, seksual, emosional dan penelantaran yang ditujukan kepada anak-anak memang tak ada habisnya di negeri ini. Buah hati yang sejatinya tak berdosa selalu menjadi boneka pelampiasan kemarahan dan hasrat. Bukankah anak dianugerahi tuhan untuk melengkapi kebahagian? Pepatah saja mengatakan kalau ‘banyak anak banyak rezeki’, sehingga sudah sepatutnya anak-anak memperoleh hak mereka.

Selamat Hari Anak! Semoga tak ada lagi kisah pilu seperti Arie dan Angeline.


Penulis : Juniancandra Adi Praha

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!