EditorialOpini

Polemik Cadar di Kampus

Indonesia adalah daerah yang rawan konflik, bahkan bisa dikatakan sebagai lumbung konflik. Mengingat luasnya wilayah Indonesia yang menciptakan kondisi ekonomi, sosial dan geografi berbeda-beda. Perbedaan di negara kita menjadi warna yang menarik jika saling merangkul. Akan tetapi, jika prasangka curiga dan mudahnya menghakimi seseorang atau suatu kelompok dengan status sosial yang berbeda justru menimbulkan perpecahan.

Saat ini negara kita sangat rentan dengan isu SARA, terutama agama. Cara berpakaian pun menjadi sorotan dan tolakukur baik buruknya suatu golongan. Isu yang sebenarnya dari dulu terkait penggunaan cadar hingga sekarang masih menjadi perbincangan. Dilarang kah atau sebaliknya di perbolehkan? Mengingat berpakaian adalah hak asasi manusia itu sendiri, mungkinkah harus dibatasi. Sedangkan banyak fenomena di luar sana yang menggunakan pakaian tidak senonoh tapi dibiarkan begitu saja. Tidak adil rasanya, bukan?

Institusi pemerintah, khususnya pendidikan biasanya sangat rawan persebaran isu radikalisme dan fundamentalis yang merujuk adanya aliran sesat kelompok tertentu. Belakangan, penggunaan cadar acap kali dicap sebagai gerakkan yang menyesatkan. Apalagi tertangkapnya pelaku-pelaku kejahatan yang merusak citra cadar menguatkan pandangan buram publik terkait  bercadar. Hal inilah membuat banyak Oknum yang ingin merusak citra kelompok tertentu, sehingga buruk di hadapan publik.

Terkait beredarnya isu pelarangan penggunaan cadar di ranah kampus, rasanya perlu dipertimbangkan lagi. Jika hanya beralasan sebagai usaha menghindari radikalisme dan anti-Pancasila. Sudah kah terbukti mahasiswi yang menggunakan cadar adalah anti-Pancasila? Justru kadang kita temukan mahasiswi bercadar masuk dalam aktivis kampus, aktif dalam diskusi-diskusi ilmiah yang membangun rasa nasionalisme. Perlu diketahui, justru isi dari 5 sila pancasila itu tertera dalam Al-Qur’an. Bagaimana mungkin, seorang muslim yang mematuhi ajaranya dalam Al Qur’an  dianggap anti-pancasila.

Hal ini tentu banyak melahirkan perdebatan terutama dikalangan mahasiswa dan pemegang kebijakan kampus. Penggunaan cadar menjadi hal yang dipertanyakan legalitasnya. Padahal menggunakan cadar tidak meresahkan, tetapi menimbulkan banyak prasangka buruk bagi pihak lain. kesangsian mereka terhadap pengguna cadar yang hanya berdasarkan curiga tanpa dasar menimbulkan rasa diskriminasi dan enggan bersosialisasi oleh pemakainya.

Selanjutnya maksud penggunaan cadar atau niqab dianggap sebagai bentuk kehati-hatian wanita muslim, karena wajah adalah hal yang pertama kali dilihat. Kehati-hatian ini dimaksud untuk melindungi dari napsu lawan jenis yang bisa menimbulkan pelecahan seksual. Selain itu, penggunaan cadar juga bukan berarti paksaan atau paham fanatik, tetapi sukarela. Meskipun ada pihak yang mengatakan bahwa penggunaan cadar adalah sikap konservatif, yaitu mempertahankan kebiasaan atau tradisi. Sering kita mendengar bahwa penggunaan cadar adalah budaya orang Arab. Notabene Islam lahir dinegara Arab, jika begitu tidak bolehkah kita mengikuti tradisi agama kita sendiri. Sedangkan Indonesia dianggap sebagai negara Islam terbesar di dunia dengan jumlah umat muslim diperkirakan sebanyak 207 juta jiwa. Jika begitu, mayoritas bisa menjadi dominan meskipun terkadang terkalahkan oleh minoritas yang justru menjadi dominan. Tentu saja, stakeholder sangat berperan dalam hal ini.

Namun perlu diingat, setiap hak manusia dibatasi oleh hak manusia lainnya. Maksudnya dalam hak kita ada juga hak orang lain. Penggunaan cadar bukanlah suatu kewajiban mutlak, bisa kita lihat di negara-negara Arab tidak semua mahasiswinya menggunakan cadar di kampus.Terlepas dari persepsi setiap orang, penggunaan cadar tidak salah selama hal itu bisa dikondisikan. Terutama di Indonesia, negara kita bukanlah negara Islam meskipun jumlah pendudukanya penganut terbesar agama Islam. Kita tahu, tingkat kesensitifan bangsa ini amatlah tinggi. Menggunakan busana seperti wanita Arab di negaranya, jika  digunakan di Indonesia akan banyak menimbulkan persepsi dan asumsi-asumsi yang buruk. Citra teroris dianggap melekat ada simbol cadar,itu hal yang harus berantas.

Lagi pula, kondisi geografis tanah Arab dan Indonesia juga berbeda, mungkin hal ini juga bisa dipertimbangkan. Kita harus bisa mengkondisikan diri kita sedang berada dimana dengan situasi yang bagaimana, selagi hal itu tidak bertentangan dengan perintah agama Islam.

Sebaiknya bagi mahasiswi pengguna cadar juga harus benar-benar memahami pemakaian cadar ini agar bisa dikondisikan. Semisal saat jam kuliah berlangsung dikelas, tatap muka bersama dosen itu sangat penting. Bagaimana dosen bisa menilai mahasiswanya benar-benar memerhatikannya atau tidak jika tidak melihat mimik wajahnya. Selain itu, misal saat ujian berlangsung untuk menghindari kecurigaan sebaiknya cadar bisa dilepas sebentar. Bisa saja ternyata pemakai cadar itu bukanlah wanita tapi pria yang menyamar. Who knwo’s? bukankah kita harus menyesuaikan dengan lingkungan kita, seperti itu lah Islam. toh tidak berdosa jika tidak menggunakan cadar. Jika melepas cadar sebentar itu bisa menghindari kecurigaan tentunya itu dianggap kebaikan, kenapa tidak dilakukan. Nah, jika telah usai jam kuliah atau kegiatan lain yang dirasa kondisi sudah aman memakai cadar, silahkan digunakan kembali.

Jadi, harus ada kesadaran dari dua pihak. Pihak pengguna cadar yang bisa memahami bahwa cadar dikondisionalkan. Sedangkan pihak yang bertentangan juga tidak melarang, berbeda pendapat itu wajar asal tidak saling menjatuhkan sehingga timbul perpecahan. Toleransi harus benar-benar diterapkan untuk saling merangkul menuju persatuan. Karena kita satu!

Penulis : Redaksi

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *