Feature

Perjuangan Nudan dan Sepeda Tua Kesayangannya

Pada siang yang terik, seorang pria tua menuntun sepeda menyusuri pinggiran jalan Nusantara, Indralaya. Dua sisir pisang raja yang digantung pada kiri-kanan setang sepeda, bergoyang-goyang ketika ban melewati jalan berlubang. Di bangku bonceng, terdapat keranjang putih yang berisi beberapa buah papaya dan pisang  putri. Sejenak ia berhenti untuk mengusap peluh didahi dengan lengan kanan, lalu melepas topi dikepala sehingga memperlihatkan rambutnya yang putih perak. Tampak lelah dan gerah terlukis diwajahnya yang keriput.

Nudan, pria berusia 60 tahun pedagang buah-buahan keliling, kepala keluarga dari istri dan tiga orang anak. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai pekebun. Namun, satu tahun terakhir berjualan buah-buahan keliling lebih menguntungkan baginya, setidaknya cukup untuk makan keluarga.

Setiap hari dari tempat tinggalnya di Palem Raya, Indralaya Utara, ia mengayuh pedal sepeda menyusuri jalanan yang dikuasai oleh kendaraan bermesin. Bersama sepeda tua miliknya ia menjajakan pisang, papaya, rambutan, serta kerupuk. Barang dagangan tersebut ia beli di pasar, kemudian dijualnya kembali.

Sebagai pedagang keliling tak jarang ia baru pulang ke rumah ketika hari sudah gelap, sampai barang dagangannya laku habis atau setidaknya laku beberapa. Biasanya ia dapat ditemui di sekitar jalan Nusantara, Gang Buntu, dan di depan toko Amanah. Sepeda menjadi saksi bisu perjuangan Nudan, umpama sahabat yang selalu menemani kala susah dan senang. Namun, di usianya yang tak lagi muda, Nudan berharap bisa mengganti sepedanya dengan sepeda motor. Meskipun belum bisa mengendarainya, ia ingin belajar. Akan tetapi, membayangkan beban cicilan tiap bulan membuat Nudan berpikir dua kali.

Penulis: Safina Riski

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *