Cerpen

Perjalanan Pulang dan Tamparan Keras dari Pedagang Gorengan

Lembar kertas dari buku yang terbuka di hadapanku kini berganti halaman karena terpaan angin. Mataku menilik layar ponsel yang menyala, menampilkan satu pesan masuk dari teman yang menanyakan keberadaanku. Sudah pukul 16.30, namun aku masih bergeming, enggan beranjak meninggalkan tempat ini. Ruang terbuka yang masih merupakan bagian dari fakultasku ini merupakan spot yang tepat bagiku untuk menulis atau sekadar membaca buku seperti saat ini.

Aku begitu muak dengan dunia kampus. Sebentar, apakah aku harus menceritakan masalah ini padamu? Ah, baiklah. Sejak semester awal, aku tak pernah menaruh minat pada jurusan yang sekarang aku geluti. Terlalu rumit jika dijelaskan lebih rinci. Singkatnya, aku merasa salah telah berkuliah di jurusan yang menjadi pilihan keduaku ini, hingga kadang untuk masuk kelas saja rasanya begitu enggan, dan membolos adalah pilihan terbaikku saat aku jenuh. Dungu? Memang, aku sudah mendengar kegeraman dari teman-temanku setiap kali aku membolos karena malas, mereka sudah terlalu bosan menasihatiku yang keras kepala ini.

Aku ingat betul bagaimana aku bersikeras tidak ingin datang saat daftar ulang satu setengah tahun yang lalu, dan berdalih akan mencoba lagi di tes tahun berikutnya, meyakinkan keluargaku bahwa pilihanku adalah yang terbaik, bahkan berniat untuk menyerah pada perguruan tinggi. Namun, melihat wajah kecewa ibu karena tingkah kekanakanku, aku memilih mengalah. Mengikuti setiap proses yang membawaku ke titik ini, seperti kapal yang mengarungi laut tanpa nahkoda, bergerak dengan dorongan angin, dan peluang untuk karam selalu mungkin.

Angin yang terus berembus perlahan membuat cup ukuran sedang berisi minuman dingin di atas meja berembun. Matahari sudah mulai merangkak ke arah barat, menuju peraduannya. Aku akhirnya memilih untuk mengusir rasa malas, bangkit, menuju ke depan gedung fakultas dan menanti angkutan umum yang akan membawaku pulang.
Angkot datang beberapa jenak kemudian, aku masuk. Beruntung, sopir angkot tidak memutar-mutar terlalu lama untuk mencari penumpang. Mungkin karena petang telah datang, dan lingkungan kampus saat ini sudah lengang. Entahlah, untuk yang satu ini aku mesti banyak-banyak berterima kasih.
**
Suara klakson terdengar tak sabaran, berbaur dengan lagu dangdut di angkot yang kutumpangi, asap dari knalpot kendaraan yang berlalu lalang melengkapi suasana monoton sore itu. Angkot berhenti tepat di depan sebuah kios. Seorang wanita berumur sekitar setengah abad masuk, bersama dengan rantang dan beberapa kotak plastik transparan yang ia ikat sedemikian rupa agar tidak terlepas. Ibu itu tersenyum kepadaku, membuat kerut di sudut matanya terlihat. Kentara sekali ia kelelahan, namun senyuman hangatnya menular padaku.

“Jualan apa, Bu?” tanyaku.
“Gorengan sama kue seribuan.”
“Masih, Bu?”
“Masih. Mau?”
“Boleh. Roti goreng 2 sama risoles 2,” pintaku. Ibu itu membuka kotak plastiknya, membungkus dua roti goreng dan 2 potong risoles. Aku menyerahkan selembar lima ribu rupiah.
“Pulang kuliah, ya?”
“Iya, Bu,” jawabku.
“Di Universitas A?” aku mengangguk mengiyakan.
“Anak saya sudah tiga kali ikut tes di sana, tidak lulus terus. Alhamdulillah tahun ini lulus,” Aku diam, tak tahu harus memberi respon bagaimana.
“Belajar yang rajin,” ujarnya, lagi. Entah mengapa, aku teringat pada ibuku. Nasihat yang sangat sering aku dengar terlontar dari ibuku sejak aku kecil, yang selalu kujawab dengan anggukan kepala, walau kadang membuatku jengah sendiri. Dan tak sekali aku sebal jika dibanding-bandingkan dengan kedua kakakku yang selalu lebih dariku.

“Tidak semua orang bisa punya kesempatan untuk kuliah. Anak ibu juga bisa kuliah karena beasiswa dari pemerintah. Beruntung ada bantuan untuk orang tak punya seperti Ibu,” Ibu itu kembali bersuara, aku bergeming, menyimak ceritanya.

Aku seperti ditampar, tersadar bahwa apa yang kulakukan saat ini malah membuatku lebih buruk, bermalas-malasan, sebagai bentuk pemberontakan yang sia-sia. Aku kembali memutar memori, menengok ke belakang. Berapa banyak orang-orang yang kurang beruntung untuk mencecap pendidikan di universitas tempatku berkuliah, mengikuti tes berulang kali, jatuh dan bangkit, dan berulang kali pula menjemput gagal. Sedang aku, bermalas-malasan menuruti ego yang membubung tinggi.

Aku termangu. Perjalanan menuju rumah terasa begitu lama. Ibu—bahkan tak sempat kuketahui namanya– yang baru saja turun di persimpangan tadi seolah sengaja dihadirkan untuk menarikku keluar dari ego yang telah menyedot begitu dalam. Entah sejak kapan, lagu dangdut yang tadi diputar berulang-ulang kini berganti. Suara Adera yang menyanyikan lagu Catatan Kecil mengalun, mengisi gendang telingaku.

Bila ingin hidup damai di dunia
Bahagialah dengan apa yang kaupunya
Walau hatimu merasa semua belum sempurna
Sebenarnya kita sudah cukup semuanya
Bila dunia membuatmu kecewa
Karena semua cita-citamu tertunda
Percayalah segalanya telah diatur semesta
Agar kita mendapatkan yang terindah.

Penulis: (din)

Editor: (rhs)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close