Resensi

Perempuan di Titik Nol: Mengupas Budaya Patriarki di Arab


Judul : Perempuan di Titik Nol
Penulis : Nawal El Saadawi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit : 2003
Tebal : 156 halaman

“Buku yang keras dan pedas.”

Demikian komentar yang ditulis oleh Mochtar Lubis dalam pengantar buku ini.

Perempuan di Titik Nol. Sebuah buku karya dokter ternama di Mesir, sekaligus penulis feminis, Nawal El Saadawi. Buku yang membuat pembaca tertampar lewat kisah pelik perempuan Mesir di era 70-an.

Adalah Firdaus, pelacur kelas atas yang ditemui penulis di balik jeruji besi, dengan sorot mata yang sedikitpun tak gentar menghadapi dunia. Ia divonis hukuman gantung lantaran membunuh seorang germo. Beberapa orang menyadari bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Firdaus semata-mata merupakan bentuk perlindungan diri. Bahkan, ia mendapat kesempatan untuk mengajukan grasi. Namun, perempuan itu menolak.

Ada kalimat menohok yang diucapkan Firdaus, “Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan, daripada mati untuk salah satu kejahatan yang laki-laki lakukan.” Kematian ialah kebebasan tertinggi bagi Firdaus. Ironis.

Sedari kecil, Firdaus sudah begitu terbiasa dengan budaya patriarki di kehidupannya. Ayahnya seorang petani yang senang memukul istri. Di keluarga, ayah diperlakukan bagaikan raja. Ketika musim dingin tiba, ayahnya akan tidur di dekat perapian agar tetap hangat, sedangkan Firdaus dan adik-adik kecilnya harus menggigil di dekat pintu karena cuaca yang kian membeku. Di lain waktu, seorang ayah sekaligus suami dapat menyantap makanan dengan lahap di saat anak-anak dan istrinya harus menahan lapar selama beberapa hari. Ketika ibunya meninggal, Firdaus harus menggantikan posisi ibunya: membasuh kaki ayah dan dipukul. Tak hanya itu, masa kecil Firdaus yang suram diperparah dengan pelecehan yang ia dapat dari teman sebayanya.

Selepas kedua orang tuanya meninggal, Firdaus dibesarkan oleh pamannya yang merupakan pelajar di El-Azhar. Kehidupannya tak lebih baik, ia sering mendapat pelecehan seksual dari lelaki tersebut.

Setelah pamannya menikah, Firdaus sekolah di El-Azhar dan tinggal di asrama. Ia cukup beruntung dapat mencecap pendidikan di El-Azhar, Kairo, berkat bantuan pamannya. Padahal, pada waktu itu El-Azhar hanya diperuntukkan untuk kaum adam. Sekali lagi, kenyataan miris yang realistis. Namun, kehidupannya setelah lulus tidak lebih menyenangkan dibanding masa kecil dulu. Pamannya menikahkannya dengan seorang tua pelit yang gemar memperlakukannya dengan kasar.

Kehidupan pernikahan yang menyiksanya membuat Firdaus bertekat kabur dari rumah, mempertemukan ia dengan Bayoumi, laki-laki yang awalnya tampak baik, namun ternyata tak jauh berbeda dengan pamannya dan laki-laki bejat lain.

Serangkaian peristiwa panjang nan keras yang dilalui Firdaus membuat perempuan itu menjelma mejadi wanita dewasa yang kuat. Ia memilih menjadi pelacur kelas atas setelah hatinya dipatahkan laki-laki teman sekantornya yang meninggalkannya demi perempuan kaya. Di titik itu, kebencian Firdaus terhadap lelaki semakin memuncak. Baginya, menjadi pelacur jauh lebih baik dibanding seorang suci yang sesat, ia dapat menetapkan tarif tubuhnya setinggi mungkin.

Firdaus secara berani dan jujur menggambarkan laki-laki tidak lebih dari hewan buas yang dikuasai nafsu. Kritik sosial terhadap cara patriarki menempatkan perempuan dalam kehidupan. Tak ketinggalan, ia juga menceritakan dengan gamblang bagaimana perempuan selalu diperbudak dan dapat mengalami kekerasan serta pelecehan seksual, terlepas dari kenyataan bahwa semua jenis kelamin dapat mengalaminya.

Penulis dengan apik mengemas narasi tentang betapa bobroknya kondisi sosial di Mesir yang dipimpin oleh kaum adam lewat kisah perempuan berani yang ia temui di bui tersebut. Penulis menggambarkan bagaimana perempuan sebagai liyan atau makhluk nomor dua, dan selalu menjadi ‘barang kepemilikan laki-laki’ dalam tatanan sosial dengan sistem patriarkat yang melekat. Dunia seolah selalu menempatkan wanita pada kedudukan terendah. Bahkan posisi rendah tersebut dapat ditemui pada hampir setiap dialog yang disajikan.

Tutur bahasa khas novel terjemahan membuat buku ini cukup sulit dipahami jika hanya sekali baca. Meskipun begitu, makna mendalam tetap tersampaikan.

Penulis: Dinar Wahyuni

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
error: Content is protected !!