ArtikelOpini

Perayaan Hari Ibu Nasional, Sebenarnya untuk Siapa?

Sejak pagi kemarin membuka media sosial, beranda saya telah dipenuhi posting-an terkait perayaan Hari Ibu Nasional yang selalu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Saya ingat betul dengan hari peringatan ini.

Sosok ibu memang pantas mendapatkan hari perayaan tersebut. Wanita yang tercipta dengan istimewa dan mulia, bahkan selalu kita dengar istilah “Surga dibawah telapak kaki ibu”.

Setelah puas melihat postingan teman-teman yang kebanyakan mengunggah fotonya bersama sang ibunda dengan caption “selamat hari ibu”, saya berpikir, apakah hari ibu tertuju untuk seluruh ibu? Lalu, apa pantas disebut ibu yang baik, seorang ibu yang tidak memberikan kasih sayang yang sepatutnya didapat oleh anak?

Saya teringat kejadian beberapa hari lalu, ketika sedang berada di restoran cepat saji. Saya duduk tepat di depan meja yang diisi oleh seorang ibu, anak TK, anak SD dan asisten rumah tangga (ART), yang saya kenali lewat pakaian yang dikenakannya.

Awalnya, saya tidak begitu menghiraukan kegiatan mereka. Toh, mereka hanya menikmati ayam goreng beserta minuman soda seperti pengunjung lain.

Namun, yang menarik perhatian adalah, wanita yang saya ketahui adalah “ibunya” justru asyik memainkan gadget sambil menyantap hidangannya, tanpa memedulikan kedua anaknya. Siapa yang mengurus anaknya makan? Sang ART dengan telaten menyuapi kedua anak tersebut hingga mengantar keduanya mencuci tangan selepas makan.

Saat itu, saya hanya bisa tersenyum miris. Jadi, siapa sosok ibu sesungguhnya? Sang ART mungkin memang dibayar untuk membantu pekerjaan rumah tangga, namun bukan berarti sang ibu dapat membiarkan anaknya dan menyerahkan sepenuhnya peran yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu, ‘kan?

Lantas, bagaimana dengan sosok ibu yang melakukan aborsi? Tindakan yang jelas menghilangkan nyawa janin dalam kandungan. Jangankan menunggu anaknya lahir, belum menjadi seorang ibu saja sudah tega menyingkirkan anaknya? Bahkan, yang lebih parah, ada beberapa wanita bergelar “ibu” yang dengan mudah membuang bayinya selepas melahirkan. Entah karena sang ibu malu dengan anaknya yang merupakan hasil hubungan di luar nikah, ataupun keadaan ekonomi yang mencekik membuatnya menjual bayinya. Telah hilangkah naluri keibuanmu?

Sudah menjadi kodrat seorang ibu untuk mencurahkan kasih sayangnya, merawat dan memberi perhatian kepada anak-anaknya, serta sebagai figur utama dalam memberi pendidikan pertama pada diri seorang anak. Ibu tetaplah ibu yang melahirkan kita. Namun, jika seorang ibu melakukan tindakan seperti hal-hal di atas, ia dapat dikatakan tidak pantas menjadi seorang ibu yang baik. Saya merasa, seharusnya hal ini mampu menjadi tamparan bagi wanita yang kelak menjadi seorang ibu, agar nanti tidak melakukan hal serupa.

Dengan adanya peringatan Hari Ibu, berarti memperingati atau mengingat peran yang telah dilakukan sosok ibu di dalam keluarga, bahkan peran ibu di dalam lingkungan sosial. Mari kita sejenak mengingat jerih payah yang telah ibu kita lakukan, dari mulai merawat kita sejak dalam kandungan hingga kita tumbuh sebesar ini.

Penulis: Herni Widyaretha

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *