Artikel

Penyair di Zaman Milenial

21 Maret ditetapkan sebagai Hari Puisi Sedunia. Pada perayaan Hari Puisi Sedunia 2016, Irina Bokova, mantan Direktur Jenderal UNESCO mengungkapkan bahwa Puisi menjadi simbol dari kreatifitas jiwa manusia. Dunia telah melahirkan banyak sosok penyair hebat, termasuk Indonesia.

Indonesia mempunyai banyak penyair legenda yang tidak kalah dengan penyair luar negeri. Sejumlah puisi dari para penyair Indonesia cukup melekat pada ingatan para penikmat sajak. Sebut saja Chairil Anwar, dengan karyanya Aku (1943). Di zaman milenial seperti sekarang, puisi tetap eksis berdiri. Setiap zaman mempunyai “karya puisinya sendiri” dan “penyairnya sendiri”. Berikut penyair-penyair muda yang meneruskan perjuangan penyair legendaris Indonesia.

  1. Adimas Immanuel

Adimas Immanuel ialah seorang penyair Indonesia yang lahir di Solo, 1991. Kumpulan puisi nya telah banyak dibukukan, yang terbaru ialah buku “Karena Cinta Kuat Seperti Maut (2018)”. Sebelum menerbitkan bukunya sendiri, Adimas Immanuel pernah berkolaborasi dengan Bernard Batubara, Mohammad Irfan, dan Esha Tegar Putra dalam buku “Empat Cangkir Kenangan (2012)”. Adimas Immanuel juga pernah diundang untuk menghadiri ASEAN Literary Festival dan Ubud Writers and Readers Festival pada tahun 2015, serta Melbourne Emerging Writers Festival 2016.

  1. Bernard Batubara

Bernard Batubara atau dikenal dengan Bara telah menulis sejak tahun 2007. Ia mengaku, Rowling dan serial Harry Potter-nya menjadi salah satu alasan Bara untuk menulis. Pria kelahiran Pontianak ini telah menerbitkan banyak buku. Buku kumpulan puisi pertamanya terbit ditahun 2010 dengan judul “Angsa-angsa Ketapang”. Tahun 2011, ia sukses mengangkat buku nya berjudul Radio Galau FM ke bentuk film.

Bara adalah penulis terpilih Ubud Writers Readers Festival (UWRF) 2013. Karya terbaru Bara adalah cerita bersambung Espresso (2018) yang bisa dibaca di aplikasi dan laman Storial.co. Ia juga merupakan salah satu penulis di laman mojok.co.

  1. Aan Mansyur

Untuk pembaca yang mengetahui Film Ada Apa Dengan Cinta 2, pasti mengenal sosok Rangga. Aan Mansyur lah sosok dibalik puisi-puisi yang Rangga lontarkan. Puisi-puisi tersebut juga dibukukan dengan judul “Tidak Ada New York Hari Ini (2016)”.

Pria yang lahir di Bone, Sulawesi Selatan, 14 Januari 1982 ini dikenal dengan nama pena Huruf Kecil. Ia juga sosok dibalik pesta literasi Makassar yakni Makassar International Writer Festival (MIWF).

Nah, itulah beberapa penyarir di zaman milenial ini yang dapat penulis rangkum dan bisa juga kalian nikmati sajak-sajaknya. Maka dari itu bertepatan dengan Hari Puisi Sedunia, semoga kita lebih menghargai serta memberi apresiasi bagi para penyair. Selamat Hari Puisi Sedunia dan tulislah dikolom komentar siapa penyair favoritmu!

Penulis: Anggi Putri Sefri

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!