ArtikelOpini

Pembebasan Perempuan oleh Surat Kartini

Setiap orang memiliki cita-cita tersendiri, namun tidak banyak yang bercita-cita terhadap kemajuan negara layaknya pejuang perempuan seperti R. A. Kartini. Beliau berjuang tidak di medan perang, melainkan melalui surat-suratnya kepada para sahabat penanya di Eropa. Kumpulan surat-surat ini dijadikan satu oleh J.H. Abendanon dalam buku yang berjudul Door Duisternis Tot Lich atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ketika itu, kaum perempuan dibatasi, dalam hal ini kaum laki-laki-lah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang istilahnya patriarki. Kaum perempuan sebelum era Kartini menjadi masa-masa memprihatinkan, dalam catatan seperti jurnal perempuan.org, yang menjadi pengamatan sejak dulu adalah kaum perempuan terutama dari keturunan Jawa. Perempuan harus tetap di rumah, ada aturan pakaian, aturan jalan yang pada intinya mengekang kaum perempuan.

Dominasi budaya patriarki pada perempuan Indonesia telah lama dirasakan dampaknya dalam masyarakat. Secara luas, budaya ini telah masuk dalam berbagai bidang kehidupan, baik dunia pendidikan, ekonomi, sosial, termasuk dunia politik. Di lain pihak, dominasi patriarki telah memicu lahirnya diskriminasi dan ketimpangan gender. Peran dan kedudukan perempuan dalam keluarga, masyarakat dan negara berada di bawah kuasa laki-laki.

Adanya Kartini, baru mulai muncul gerakan kesetaraan gender. Kartini tidak setuju dengan istilah perempuan harus mengikuti aturan. Saat itu para perempuan yang ada di lingkungan Kartini tidak memperoleh hak kebebasan seperti saat ini. Dalam salah satu suratnya, Kartini menyebutkan keprihatinannya terhadap perempuan yang banyak mengalami diskriminasi sosial.

Kartini mencoba untuk membebaskan perempuan dari dominasi maskulin dan budaya feodalisme melalui tulisan. Ia mengharapkan agar perempuan mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, Kartini ingin memperjuangkan hak-hak perempuan sebagai manusia. Tak hanya itu, Kartini juga berjuang untuk menolak pernikahan perempuan dengan laki-laki yang tak dikenalnya bahkan tak dicintainya. Baginya ini telah melanggar hak asasi perempuan sebagai manusia.

Dalam jurnal Sari tahun 2019, bahwa dari pemikiran dan segala perjuangannya lah akhirnya Kartini dikenal sebagai penggerak emansipasi wanita. Emansipasi merupakan tuntutan yang disampaikan gerakan feminis untuk mendapatkan kesamaan dan keadilan hak dengan laki-laki. Ini adalah perjuangan kaum perempuan untuk tidak dipandang sebelah mata apalagi rendah. Mereka yang merasa terkekang oleh budaya patriarki dan dominasi maskulin dijuluki gerakan feminis. Kartini ingin kaum perempuan tidak dibedakan dalam hal ini, ia ingin perempuan memiliki hal pendidikan yang sama dengan laki-laki agar perempuan juga diakui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan ilmunya, agar perempuan tidak merendahkan dan di rendahkan derajatnya di mata pria. Semua demi kesetaraan bukan melebihkan.

Selamat Hari Kartini untuk semua perempuan Indonesia.

Penulis: Fatmawati

Editor: Desi Rahma Sari

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!