EditorialOpini

Pelecehan Seksual, Jangan Salahkan Perempuan!

Beberapa waktu yang lalu, jagat maya geger karena berita yang diterbitkan oleh Lembaga Pers Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Awalnya, saya tak terlalu mengindahkan berita tersebut. Namun, lama-kelamaan rasa penasaran membuat saya turut mencari tulisan tersebut. Butuh waktu yang lama untuk mengakses situs yang menerbitkan berita itu, banyaknya pengguna internet yang membuka laman itu membuat server down.

Ternyata, tulisan tersebut mengungkit kasus pemerkosaan yang menimpa mahasiswa KKN tahun lalu. Meskipun tulisan itu sempat menuai banyak kritik karena konten yang dinilai terlalu vulgar, saya mengapresiasi pihak Lembaga Pers yang sudah berani membongkar kasus pelik yang sempat disembunyikan oleh universitas.

Satu hal memprihatinkan yang dapat saya tangkap, pihak universitas cenderung menyalahkan korban, dan menganggap korban ikut andil dalam kasus ini. Bahkan, salah satu pejabat universitas tersebut menganalogikan korban sebagai ikan asin yang memancing nafsu kucing.

Kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual memang bukanlah hal tabu lagi bagi masyarakat. Namun, tetap saja hal seperti ini tidak boleh dianggap remeh. Kasus memprihatinkan ini harus dikupas tuntas, dan pelakunya harus dijatuhi hukuman yang setimpal. Alih-alih menghukum para pelaku pelecehan seksual, banyak warganet “Maha Benar” yang justru menghakimi dan menyalahkan korban, dengan dalih bahwa sudah kodrat lelaki untuk cepat bereaksi dengan hal berbau seksual. Bukankah seharusnya korban mendapat dukungan dan pembelaan? Bukannya malah disudutkan. Alasan penghakiman masyarakat terhadap korban pelecehan seksual ini pun bermacam-macam, salah satunya ialah pakaian korban yang terlampau terbuka.

Satu hal yang perlu digaris bawahi, pakaian yang dikenakan oleh perempuan tidak ada sangkut pautnya dengan pelecehan seksual. Sebuah pameran di Belgia telah membuktikan pernyataan ini. Sekilas, pameran itu terlihat biasa saja, hanya menampilkan pakaian yang kerap dikenakan oleh banyak orang. Namun, kisah dibalik pakaian itulah yang memaknai pameran tersebut. Pameran berjudul “Iit My Fault?” itu memamerkan pakaian dari para korban pemerkosaan. Pameran di Belgia itu menampar telak asumsi tentang pakaian wanita yang mengundang hasrat lelaki untuk melakukan pelecehan seksual. Bagaimana tidak? Pakaian yang ditampilkan sebagian besar jauh dari kata minim, bahkan ada seragam polisi berikut senjata lengkap, dan kaus anak-anak bergambar My Little Pony. Masih mau menyalahkan pakaian?

Stigma yang telah disebutkan di ataslah yang membuat para korban pelecehan seksual terkadang lebih memilih untuk bungkam. Mereka terlalu takut untuk dihujat, mereka tidak mau menambah beban hidupnya dengan menerima penghakiman-penghakiman dari orang-orang yang sebenarnya tidak mengerti posisinya. Akhirnya, para korban harus berpuas hati dengan melupakan kejadian traumatis yang menimpanya begitu saja. Penghakiman terhadap korban pelecehan seksual harus segera dihilangkan. Sebab, hal seperti ini dapat memengaruhi mental korban pelecehan seksual. Tidak ada perempuan di dunia ini yang mau jadi objek pelecehan seksual, entah ia berpakaian tertutup, atau berpakaian minim sekalipun. Selain itu, dengan ketakutan para korban untuk bersuara, para pelaku pelecehan seksual akan lebih leluasa untuk melancarkan “aksinya”.

Kasus pelecehan seksual ini pun tidak sesederhana analogi “ikan asin yang memancing kucing”. Kucing tidak bisa disamakan dengan manusia. Karena, manusia diciptakan lebih mulia daripada hewan, dengan akal yang dilekatkan Sang Pencipta kepadanya. Wajar jika kucing mudah tergoda dengan ikan asin, karena ia hanya memiliki nafsu tanpa akal yang mengiringi. Sedangkan lelaki sebagai manusia memiliki akal, yang bisa dijadikan pengontrol nafsunya untuk tidak melakukan perbuatan keji seperti pelecehan seksual terhadap perempuan. Jadi, jangan hanya perempuan yang selalu ditekankan tentang cara menjaga diri dan tata susila. Lelaki juga harus dicekoki dengan tata susila dan sadar akan posisinya sebagai manusia yang berakal.

Penulis: Dinar Wahyuni

Editor: Fatta Sofiana Solihah

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *