BeritaNews

Pelecehan Seksual Bermodus Panggilan WA Menjamur di Kalangan Mahasiswa

SUMATERA SELATAN, GELORASRIWIJAYA. CO – Pelecehan seksual di ranah kampus masih menjadi momok bagi mahasiswa. Salah satu jenis pelecehan seksual yang masih marak terjadi ialah modus panggilan WhatsApp (WA) serta pengiriman foto berbau pornografi lewat chat.

Jum’at (26/6), kru LPM GS Unsri menghubungi salah satu mahasiswa Unsri yang menjadi korban, D.

D mengatakan, bahwa sekitar sebulan yang lalu ia mendapat telepon dari nomor yang tak dikenal melalui aplikasi chat WA. Tak diangkat, nomor tersebut justru mengirimkan foto tak seronok kepada D. Sontak saja D langsung memblokir nomor tersebut.

“Gak lama kemudian, kejadian itu terulang lagi, tapi dengan nomor berbeda,” ujarnya.
Kali ini, nomor tersebut melakukan panggilan video (Video Call) ketika tengah malam. D yang saat itu setengah sadar, tanpa sengaja menerima panggilan tersebut, namun langsung ia matikan. Lagi-lagi, foto tak senonoh dikirimkan pelaku ke ruang obrolan D.

Jauh sebelum kejadian tersebut, lanjut ia, teman D mendapat panggilan video yang mengatasnamakan dirinya dengan kedok tugas psikologi dewasa.

D merasa jika ada beberapa kemungkinan mengapa nomornya bisa tersebar. “Bisa jadi memang dia kenal saya, atau bisa jadi juga karena saya dulu sempat diamanahkan sebagai Humas di organisasi saya terdahulu,” jelasnya.

D juga mengaku bahwa ketika ia membicarakan apa yang ia alami kepada rekan-rekan organisasinya, banyak dari mereka yang mengalami hal serupa. “Rata-rata ex-BPH cewek dari organisasi saya terdahulu mengalami hal yang sama, bahkan ada salah satu nomor yang sama persis,” lanjutnya.

Pernyataan D dibenarkan oleh R, salah satu rekan D yang mengalami hal serupa. Dirinya mengaku kaget saat menerima panggilan dari orang asing serta foto vulgar.

D berharap semoga ke depan tidak ada lagi yang mengalami hal serupa. “Semoga pelakunya segera terungkap. Dan untuk yang mengalami hal yang sama, jangan takut untuk speak up. Karena hal seperti ini sangat meresahkan dan ada baiknya diketahui banyak pihak, supaya tidak ada lagi yang termakan modus seperti ini,” katanya.

Menanggapi hal ini, Fauzan Alkap, salah satu anggota tim #lawankekerasanseksualdiranahkampus, menyatakan bahwa pelecehan seksual semacam ini tidak bisa dianggap sepele, meskipun korban tidak mengangkat panggilan tersebut, foto tak senonoh yang dikirimkan pelaku juga tetap membuat tidak nyaman.

Tim lawan kekerasan seksual sendiri juga sudah menyediakan formulir pelaporan bagi korban pelecehan seksual. Sejauh ini, sudah ada sekitar 6 laporan yang masuk. Data-data tersebut nantinya akan diajukan ke pihak kampus, agar kampus sadar dan melakukan penanganan serta membuat peraturan yang berpihak ke pada korban.

“Berkaca dari kasus beberapa tahun yang lalu di Transmusi. Kampus seperti lepas tangan dengan alasan pelaku sudah jadi alumnus. Padahal seharusnya institusi pendidikan itu menciptakan ruang aman,” tambah Fauzan.

Lebih lanjut, Fauzan mengatakan bahwa kampus perlu payung hukum yang kuat terkait penanganan kasus kekerasan seksual, serta mengedepankan perlindungan terhadap korban.

“Tetapi gak cukup hanya di situ. Sebenarnya kita perlu banyak melakukan hal lain. Seperti misalnya turut bersolidaritas terhadap korban, menciptakan ruang aman dan suportif. Lalu bisa juga dengan kampanye-kampanye kesadaran tentang kekerasan seksual,” tutupnya.


Penulis: (din)

Editor: (rhs)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!