Editorial

Para Perempuan Bergelar “Ibu” Jangan Hancurkan Anakmu

Pagi ini matahari bersembunyi karena hujan turun lebat sekali, padahal aku sudah siap untuk berangkat kuliah ke kampus. Sembari menunggu hujan redah, aku duduk di kursi ruang keluarga, menggapai remot televisi dari atas meja, lalu menyalakan televisi. Sambil menyeruput segelas teh manis hangat yang kugengam di tangan kananku, sedangkan tangan kiriku sibuk menekan-nekan tombol remot. Aku terus mengganti channel mencari siaran berita hari ini.

Ya, aku memang jarang menonton televisi, sudah hampir 3 bulan. Nonton sih, tapi hanya saat pagi hari seperti sekarang dan selalu siaran berita yang kucari. Menurutku, acara di televisi saat ini rata-rata sudah tidak menarik lagi bagi penonton, terutama untuk anak remaja.

Mungkin alasannya karena kemajuan zaman, sehingga banyak orang, tak hanya remaja, kini telah beralih perhatian pada gadget. Semuanya bisa dilakulan melalui gadget, mulai dari berkomunikasi, menonton, membaca, menulis hingga menyanyi. Tak heran bila kini kebanyakan orang lebih memilih menonton melalui gadget dari pada televisi.

Tanganku berhenti menekan tombol remot saat melihat judul berita yang tertera di layar kaca, “Bayi meninggal disiksa ibunya”.

Tanganku  terkaku dan mataku tak berkedip. Seorang bayi berusia dua bulan bernama Calista, beberapa waktu lalu sempat heboh dikabarkan mendapat siksaan dari pacar ibu kandungnya hingga koma di rumah sakit, kini Calista dikabarkan telah meninggal. Namun Bukan itu yang mengagetkanku, tapi judul yang tertera pada berita tersebut.

Aku memang sudah beberapa hari tidak menonton siaran berita, ku akui aku tertinggal beberapa kabar, contohnya saja berita yang satu ini. Setelah waktu itu aku sempat mengoceh panjang lebar, bahkan sempat mengumpat si pacar ibu kandung sang bayi, mengasihani sang ibu kandung, ternyata aku salah. Pelaku sesungguhnya  adalah ibu kandungnya sendiri. Aku benar-benar kesal, bagaimana bisa ada perempuan yang diciptakan dengan hati setega itu? Aku tak habis pikir dengan para wanita yang sudah bergelar “Ibu”, namun memiliki hati sekejam itu.

Yang kutahu, ibu adalah seorang wanita dengan hati paling lembut dan halus, apalagi bila berurusan dengan masalah anak, buah hatinya. Seorang ibu biasanya akan berjuang sampai titik darah terakhir untuk melindungi anaknya. Jangankan untuk melukainya, melahirkan anak saja sudah berjuang antara hidup dan mati. Mana tega seorang ibu membiarkan anaknya tersakiti. Aku pikir semua wanita setuju akan hal ini.

Waktu kecil aku tinggal bersama Ibu di sebuah rumah yang Ayah belikan untuk kami, di sebuah perumahan yang lumayan padat, namun bukan di tengah kota. Kami memiliki banyak tetangga dan mereka memiliki anak yang rata-rata seusia denganku. Ayah dinas di luar kota, sehingga aku hanya tinggal berdua dengan ibu.

Aku tinggal di rumah ini sejak usiaku 3 tahun, yang kuingat sejak aku taman kanak-kanak, aku tidak mempunyai teman bermain saat sore hari yang cerah. Hanya bisa bermain bersama boneka-boneka kesayanganku di teras rumah.

Saat asik bermain, tak jarang aku dikejutkan dengan suara keras yang tak tahu asalnya dari mana, yang pasti itu jelas terdengar seperti suara dua benda yang berbenturan, sumber suara terdengar dekat. Karena aku asik bermain, terkadang aku tak menghiraukannya. Namun tidak dengan Ibuku, terkadang ia sampai berlari keluar pintu, bahkan keluar pagar hanya untuk mencari sumber suara, setelah itu Ibu akan menarikku untuk pindah bermain di dalam rumah saja.

Suara-suara seperti itu sudah seperti alarm sehari-hari, terkadang muncul saat pagi hari, siang hari saat jam tidur siang, sore hari, dan malam hari saat jam mengerjakan tugas sekolah. Suara ini menghiasi hari-hariku hingga aku duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Dari yang awalnya aku merasa tidak peduli dengan suara-suara itu, hingga  aku mulai penasaran, mencari tahu cerita dibaliknya.

Saat aku duduk di sekolah dasar kelas 2, aku bertanya pada Ibu, tentang suara apa yang aku dengar saat itu dan dari mana asalnya.

Ibu hanya menjawab, “Oh, itu suara barang jatuh.”
Tapi aku yang penasaran bertanya lagi, “Kok jatuh terus? Apa yang jatuh?”
Pertanyaan polos dari anak perempuan kecil ini tak dihiraukan oleh Ibunya.

Suatu ketika aku mendengar suara benda yang sengaja dibenturkan, “plak!” suaranya keras dan disertai suara wanita seperti membentak dan berteriak. Lalu disahut suara rintihan anak perempuan, “Ampunnn,” teriaknya.

Aku kali ini penasaran. Aku berjalan keluar pintu, membuka pintu pagar dan celingak-celinguk mencari sumber suara. Sekali lagi kudengar wanita itu membentak keras, dan suara tangis seorang anak perempuan itu pun pecah. Aku mulai sadar suara itu datang dari rumah yang berada tepat di seberang rumahku. Aku berjalan mengendap-endap ke depan pintu pagarnya, ku lihat pintu rumahnya terbuka.

Tiba tiba, “Blak!”

Wanita itu membating daun pintu secara keras. Aku kaget dan langsung berlari kedalam rumah, dengan napas yang terengah-engah, aku mencari Ibu di dapur.

Ibu yang melihatku panik seperti itu memasang wajah cemasnya, “Kenapa? Ima kamu kenapa?”

Setelah mengatur napas aku menceritakan kejadian tersebut, Ibu memegang tanganku dan bilang, “Makanya jangan suka ngintip, ga baik, itu mamanya Tia lagi marah.”

Mendengar hal itu, otakku mulai merekam alasan yang Ibu bilang. Sejak saat itu aku mulai tahu kalau suara yang sering aku dengar asalnya dari sana, dan juga alasan suara itu muncul karena mamanya temanku sedang marah.

Selang beberapa bulan, aku mulai mendengar jenis-jenis suara baru,

“Cetar!” suaranya seperti kaca yang pecah karena dihempaskan.

Namun asal suaranya bukan dari arah depan rumah, tapi dari balik tembok kamarku. Terdengar juga suara cek-cok antara dua orang, lelaki dan perempuan, seperti sedang memperebutkan sesuatu. Suara apa lagi ini, batinku.

Kini suara yang tiap hariku dengar menjadi bervariasi, tak jarang aku malah menunggu suara-suara ini sebagai pengganti jam dinding yang harus kulihat di ruang tamu. Contohnya saat waktunya mandi sore, aku kadang menunggu suara “Plak!” dan teriakan wanita dari seberang rumah dulu, baru aku bergerak menarik handuk dan mandi.

Semakin aku besar, aku mulai tahu dan mengerti cerita di balik suara-suara ini. Suaranya kini semakin beragam sejak ada tetangga baru yang pindah di seberang rumahku, tepat brsebelahan dengan rumah Tia. Penambahan jenis suara kali ini bukan suara benda, namun suara kasar dari mulut seorang wanita dengan bumbu-bumbu gurih dari kata-kata kotornya. Kalau kata orang-orang, semua isi kebun binatang lantang ia lontarkan. Belum lagi kata-kata bagian anggota tubuh yang tersembunyi, juga lancar ia teriakkan.

Sekarang tahukan, apa alasan aku dari kecil hanya bermain dengan boneka kesayanganku dan bersama adik-adik kecilku tersayang di teras rumah?

Ya, teman-teman seusiaku berada di dalam rumahnya juga, namun dalam keadaan yang berbeda. Memang aku tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam sana, tapi semua yang kudengar bisa mendeskripsikannya dengan jelas. Belum lagi ditambah bukti-bukti jika aku bertemu dengan Tia di sekolah, tak jarang kutemui luka lebam yang tidak tertutup sempurna oleh plester luka. Jika di tanya, “Tia itu kenapa?” Jawabnya hanya, “Jatuh.”

Di sekolah Tia tak memiliki banyak teman, Tia dikenal sebagai “gadis bisu”. Ya, bukan bisu dalam arti yang sebenarnya. Julukan tersebut diberikan bukan tanpa alasan, Tia memang jarang berbicara, paling banyak mungkin hanya 3 kata saja.

Ini bukan hanya paradugaku sendiri, tapi aku sering mendengar jika ada ibu-ibu datang ke rumahku dan bercerita dengan Ibuku. Bahkan mereka bertanya mengenai kebenarannya, Ibu hanya menjawab, “Ga tau juga ya.”

Aku yakin Ibu ingin sekali bilang iya, tapi kata Ibu jangan menyebar fitnah, biarkan orang yang menilai sendiri, kita tidak tau kebenarannya seperti apa.

Beda ceritanya dengan Rio yang berusia 5 tahun, anak laki-laki dari wanita bermulut kasar. Rio pandai berbicara, bahkan ia lihai meniru semua kata-kata kasar khas milik Ibunya. Tak jarang Bima adik laki-lakiku, pulang ke rumah membawa beberapa pertanyaan mengenai kata-kata “baru” yang ia dapat seusai bermain dengan Rio.

“Bu, kata Rio, Bima tolol. Tolol itu apa bu?” ujar Bima adik bungsuku.

Ibu sudah berkali-kali melarang Bima untuk bermain dengan Rio, namun Bima ngeyel. Kalau sudah seperti ini, tugas tambahan untuk Ibu memberi tahu arti sebenarnya dari kata tersebut, lalu menjelaskan bahwa kata-kata itu kasar dan tidak boleh digunakan.

Biasanya Ibu akan mengahiri nasihat seperti ini, “Memangnya Bima mau dibilang seperti itu? Tidak kan? Makanya jangan gunakan kata ini pada siapa pun ya nak?”

Sekarang ini memang sudah jamannya krisis moral, bukan hanya moral pada anak-anak dan remaja, orang tua pun saat ini sudah melupakan moralnya. Orang tua sudah seharusnya mencontohkan hal baik dan juga berprilaku baik pada anaknya. Sangat disayangkan ketika orang tua, terutama Ibu yang memeperlakukan anak kandungnya sendiri secara tidak wajar. Hal tersebut akan berdampak pada pribadi anak, ia merekam semua hal yang diterimanya di dalam otak.

Dampak paling sederha adalah anak akan meniru apa yang orang tuanya lakukan, jelas ini tidak baik. Hal tersebut benar terjadi pada Rio, anak laki-laki berusia 5 tahun yang pandai berbiacara kasar. Anak tidak salah, karena ia belajar sesuatu secara alamiah melalui meniru, tetap yang salah adalah orang tua.

Pada kasus Rio, karena ia setiap hari mendengar kata-kata tersebut, maka ia mencoba untuk meniru, kesalahan bertambah ketika Ibunya tidak pernah menegurnya saat melakukan hal yang salah tersebut. Saat ini keluarga Rio memang sudah tidak tinggal di seberang rumahku lagi, namun kabar yang kudengar Rio menjadi anak nakal yang sudah beberapa kali pindah sekolah karena bermasalah dengan guru maupun teman sekolahnya.

Perlakuan tidak baik terhadap anak juga berdampak negatif, bahkan dampaknya lebih besar dan akan berkepanjangan. Contohnya jelas terjadi pada kasus Tia, “gadis bisu” yang bisa dikatakan sering mendapat perlakuan kasar dari Ibunya. Tia yang pendiam merupakan dampak dari perlakuan keras yang ia terima, membuatnya tertekan hingga tidak berani untuk berekpresi. Dampak jangka panjangnya adalah  Tia yang kini sudah berusia 23 tahun, nampaknya memiliki gangguan psikologi, Tia sampai sekarang takut untuk bertemu banyak orang, jarang keluar dari rumah, dan masih saja “bisu”.

Dampak yang paling negatif yang kemungkinan besar terjadi adalah anak akan meniru perilaku yang didapatnya saat ia berada di posisi sebaliknya, ketika ia telah menjadi orang tua. Ia akan mengulang perilaku tidak baik tersebut terhadap anaknya dan menyebabkan semakin banyak anak yang menjadi korban dari krisis moral.

Orang tua memang sudah seharusnya bertanggung jawab untuk mengurus, mendidik dan juga melindungi anaknya. Apalagi seorang ibu yang memiliki tanggung jawab lebih akan tumbuh kembang anaknya, karena seorang ibu rata-rata lebih banyak memiliki waktu dengan anak ketimbang ayahnya. Ibu tak hanya bertanggung jawab untuk mengajarkan sesuatu yang baik, namun juga meluruskan apa yang salah.

Contonya pada kasusku sendiri, Ibuku sadar, tahu dan paham bahwa anaknya berada pada lingkungan yang kurang baik. Seberapa kuat ibu untuk menahan kami yang mencoba masuk ke lingkungan terebut, akan kalah juga dengan yang namanya interaksi. Lingkungan tersebut yang mencoba memperkenalkan dirinya, sekuat apapun Ibu mengunci pintu dan pagar, namun suara-suara tersebut selalu menyapa untuk berkenalan. Ini akan menjadi tugas lembur untuk Ibu, ia harus siap dengan semua pertanyaan mengejutkan tentang rasa penasaran anak-anaknya. Ibu juga harus bekerja ekstra untuk menjelaskan semua hal tidak baik, agar anaknya mengerti bahwa semua itu adalah hal buruk yang tidak baik untuk ditiru.

Menjadi ibu adalah tanggung jawab yang berat, namun mulia. Jika ingin memilki anak yang cerdas, maka jadilah perempuan cerdas, beri anakmu ilmu, namun jangan lupa moral yang bermutu. Jika zaman dulu Ibu Kartini memperjuangkan hak anak perempuan untuk menuntut ilmu, kenapa ibu-ibu zaman sekarang malah seperti miskin ilmu? Wahai perempuan bergelar “Ibu” kenap kau hancurkan masa depan anakmu?

“Ima hujanya sudah reda, berangkat sana nanti telat,” teriakan Ibu membuyarkan lamunanku.

Aku beranjak dari kursi, meletakkan remot dan segelas teh hangat yang telah mendingin, tak sempat kubiskan. Ku raih tas ranselku, lalu berjalan keluar rumah membuka pintu pagar. Aku terdiam sejenak sembari memandangi rumah Tia yang berada tepat di depan rumahku.

Aku harus jadi wanita cerdas, anakku kelak berhak lahir dari rahim wanita cerdas yang berilmu, bermoral dan berpikiran maju, batinku dalam hati.

Penulis : Nurma Afrinda Prandansari
Editor : (Mtu)

 

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *