Artikel

Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan Berdasarkan Survei Microsoft

Beberapa hari lalu, jagat sosial media Indonesia dihebohkan mengenai sebuah survei yang dilakukan oleh Microsoft. Dalam survei tersebut dikatakan bahwa netizen Indonesia merupakan netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Dilansir dari Kompas.com, skor tingkat kesopanan netizen Indonesia yang dirilis dalam laporan Digital Civility Index, yaitu sebesar 76 dan angka tersebut berada diurutan paling bawah diantara negara Asia Tenggara lainnya.

Tak lama setelah data survei tersebut dirilis, akun Instagram milik Microsoft ramai diserang oleh netizen Indonesia. Hingga terpaksa Microsoft harus menonaktifkan kolom komentar dalam postingan tersebut. Hal yang sungguh menggelikan, tentu saja. Dengan menyerang akun Microsoft tersebut, secara sadar atau tidak, netizen Indonesia malah membuktikan sendiri ke mata dunia bahwa survei yang dilakukan Microsoft itu benar adanya.

Jika ditelaah kembali, bukan hal yang mengherankan terkait apa yang dinyatakan dalam survei tersebut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa netizen Indonesia terlalu bar-bar dalam ber-media sosial. Ujaran kebencian, hoaks, penipuan, diskriminasi sangatlah mudah ditemukan di lini masa Indonesia. Entahlah, mungkin memang sudah menjadi karakter anak bangsa yang mudah sekali diprovokasi ataupun memprovokasi.

Salah satu karakter warganet Indonesia yang perlu segera dihilangkan, yaitu tidak mau berdiskusi. Saya kurang paham, apakah itu memang tidak mau berdiskusi atau tidak bisa dan tidak tahu cara berdiskusi. Segala sesuatu yang dianggap “berbeda” akan dihujat habis-habisan oleh netizen maha benar ini, padahal seringkali hal yang dihujat tersebut tidak sepenuhnya salah. 

Agaknya, netizen Indonesia tidak tahu bahwa hujatan tersebut mengartikan bahwa seseorang memaksakan pendapatnya terhadap orang lain dan sekaligus menutup pintu diskusi. Padahal dengan berdiskusi akan membuka perspektif baru bagi seseorang dan juga akan menambah pengetahuannya. Namun, tampaknya netizen Indonesia terlalu malas dalam berdiskusi dan mencari jalan pintas yaitu dengan menghujat.

Selain itu, warganet Indonesia kurang dapat membedakan kritikan dan hujatan. Menghujat seseorang habis-habisan dikatakan sebagai kritik, memaki-maki juga dikatakan kritikan. Sungguh ironis memang. Kritikan dan hujatan sangatlah berbeda. Kritik disampaikan untuk membangun seseorang, sedangkan hujatan ataupun ujaran kebencian disampaikan untuk melemahkan mental seseorang. Dapat dilihat bahwa tujuan keduanya sangat berbeda jauh. Namun, sebagian besar warganet Indonesia sepertinya tidak begitu mengetahui letak perbedaanya sehingga dapat dengan mudah menghujat seseorang dan berdalih di balik kata kritikan. 

Netizen Indonesia tampaknya harus agak santai dalam mencerna setiap kasus di media sosial, jangan apa-apa dibawa serius. Agar gelar yang disematkan oleh Microsoft ini hanyalah sebatas hasil survei, bukan kenyataan. Ingat! Media sosial itu tujuannya sebagai tempat hiburan ataupun tempat mencari pengetahuan baru, jangan mau dipusingkan oleh urusan orang lain yang sama sekali tidak ada pengaruh untuk hidup kita. Lebih cerdaslah dalam ber-media sosial.

Sumber foto : Medium.com

Penulis: Febby Anggraini

Editor: Fatmawati

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!