Citizen journalismSuara Pembaca

Minimnya Minat Berorganisasi dan Kompetisi Ilmiah Mahasiswa

Dengan jumlah total populasi sekitar 250 juta penduduk, Indonesia menempati posisi negara berpenduduk terpadat keempat di dunia. Padatnya populasi di Indonesia menunjukkan bahwa angka Sumber Daya Manusia (SDM) sangatlah tinggi. Selain itu, Indonesia juga diperkaya dengan potensi Sumber Daya Alam (SDA).

Namun sayangnya, SDM di Indonesia belum optimal. Hal tersebut dibuktikan dengan peningkatan jumlah pengangguran di Indonesia yang mencapai 40%. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik 2014, jumlah penduduk yang menganggur sebanyak 7.240.000 jiwa.

Angka yang fantastis ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor pendidikan. Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia sangat memengaruhi kualitas SDM di negara kita. Padahal, salah satu tujuan Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan, yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat, yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta mengembangkan kebudayaan menuju ke arah keluhuran hidup kemanusiaan.

Pendidikan juga diharapkan dapat menjadi sebuah cara untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Melalui pendidikan, Indonesia dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian, menegakkan hukum, dan juga mengembangkan kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu, kini Indonesia telah mencanangkan program wajib belajar 12 tahun. Program ini diharapkan dapat menjadi perwujudan nyata dari PP No. 47 Tahun 2008, dimana setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan. Dalam hal ini, peran akademisi sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan pendidikan di Indonesia.

Oleh karena  itu, sebagai agent of change, iron stock, dan social control, mahasiswa juga diharapkan berperan aktif di dalam sebuah organisasi. Karena skill tidak hanya didapatkan melalui proses belajar-mengajar, namun juga  bisa diperoleh melalui kegiatan organisasi yang positif. Melalui organisasi, mahasiswa dapat mengembangkan potensi sesuai passion yang ia miliki. Mahasiswa juga akan memiliki akses yang lebih mudah untuk mengikuti kompetisi lewat organisasi.

Maka dari itu, organisasi memiliki peran penting dalam upaya mengaktualisasi kemampuan mahasiswa.  Namun sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang mau terlibat dalam kegiatan organisasi ataupun kompetisi ilmiah. Hal ini disebabkan oleh faktor intermal dan faktor eksternal dalam diri mahasiswa.

Faktor internal adalah faktor yang memengaruhi dalam diri, seperti sikap pragmatis, study-oriented, dan manajemen waktu, serta kegiatan yang buruk. Sikap pragmatis kerap kali menjadi penghambat mahasiswa untuk berproses, karena sikap ini hanya menitikberatkan kepada hasil dan kebermanfaatan saja, sedangkan kehidupan di organisasi bukanlah tentang sesuatu yang menguntungkan saja, melainkan juga tentang pengorbanan. Bagi aktivis kampus, slogan “no pain, no gain” adalah motivasi mereka bertahan di organisasi. Selain itu, sikap pragmatis biasanya timbul dari tidak adanya kemauan untuk berkarya dan berpretasi.

Sedangkan study-oriented  menjadi julukan bagi mahasiswa yang kerjanya kuliah-pulang dan hanya berorientasi pada indeks prestasi akademik di bangku perkuliahan saja. Faktor internal lainnya adalah buruknya manajemen waktu dan kegiatan, dimana menjadi aktivis kampus memiliki banyak konsekuensi. Sehingga banyak sekali mahasiswa yang tidak siap dengan konsekuensi yang ia terima jika terlibat dalam kegiatan organisasi ataupun kompetisi ilmiah.

Lain halnya dengan faktor internal, faktor eksternal adalah faktor yang muncul dari luar, seperti pengaruh lingkungan dan intervensi kawan sejawat. Berdasarkan teori Sosiologi, lingkungan yang positif tentu akan menciptakan kondisi yang kondusif, dan sebaliknya. Faktor lingkungan biasanya berkaitan erat dengan kawan sejawat. Lingkungan yang positif biasanya menghadirkan kawan sejawat yang progresif dan memiliki kemauan untuk berkembang sedangkan lingkungan yang negatif biasanya menghadirkan kawan sejawat yang pragmatis dan hedonis. Secara tidak langsung, faktor-faktor tersebut berpotensi membatasi mahasiswa untuk berkarya dan berprestasi.

Jadi, upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan minimnya minat berorganisasi dan berkompetisi, antara lain yaitu: Menanamkan niat dan juga kemauan untuk berorganisasi dan berkompetisi, melihat peluang dan dampak positif yang didapatkan setelah mengikuti organisasi dan kompetisi, serta bergaul dan berteman dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama baik dalam berorganisasi maupun berkompetisi. Ketiga upaya ini dapat diterapkan, sehingga dapat memacu kemauan untuk terus meningkatkan potensi diri sekaligus meraih prestasi.

 

Penulis: Novia Handayani

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *