Artikel

Menolak Lupa Peristiwa 1998 Lewat Trending #GejayanMemanggil di Twitter

Sejak tulisan ini dibuat, sebanyak 30 ribu lebih cuitan dengan tagar #GejayanMemanggil meramaikan laman twitter Indonesia. Beragam cuitan dilayangkan oleh netizen guna menyuarakan aksi damai dengan turun ke jalan. Keresahan akan isu-isu yang sangat mencekam saat ini menjadi penyebab utama dari ramainya seruan aksi seperti RKUHP, UU KPK, RUU ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, kriminalisasi aktivis diberbagai sektor, dan ketidakpastian pemerintah dalam menangani isu lingkungan.

Gejayan sendiri merupakan sebuah daerah yang terletak di Yogyakarta. Daerah tersebut menjadi saksi bisu peristiwa bentrokan berdarah pada 8 Mei 1998 yang disebut “Peristiwa Gejayan”. Gejayan juga telah menjadi saksi perlawanan mahasiswa dan masayarakat Yogyakarta terhadap rezim yang represif.

Peristiwa kelam yang berlangsung hingga malam hari itu menuntut adanya reformasi dan menolak terpilihnya kembail Soeharto sebagai presiden berdasarkan hasil rapat Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Selain itu, krisis ekonomi yang melanda juga menjadi faktor pemicu aksi kala itu.

Dinamakan bentrokan berdarah karena ada ratusan massa aksi yang mengalami luka-luka. Bahkan, satu orang dinyatakan meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Trending-nya tagar #GejayanMemanggil sontak membuka kembali memori kita akan peristiwa tersebut. Ditambah lagi dengan rentetan demo besar-besaran oleh mahasiswa di Yogyakarta yang terjadi 21 tahun belakangan ini. Diantaranya, tahun 2004 demonstrasi dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Nasional. Saat itu demonstran mengajak masyarakat untuk menolak orbaisme, status quo dan militerisme. Di tahun 2005, demonstrasi terjadi karena massa aksi menentang kebijakan penaikan harga Bahan Bakar Minyak.

Namun, kedua aksi tersebut tidaklah separah peristiwa Gejayan. Dimana aksi berjalan damai dengan penjagaan ketat, walaupun masih ada aksi saling dorong antara massa dan aparat keamanan.

Kembalinya Gejayan memanggil jiwa-jiwa yang resah karena kebebasan dan kesejahteraannya terancam oleh pemerintah, diharapkan menjadi titik-balik kebangkitan Indonesia untuk menjadi lebih baik lagi.

Penulis: Juniancandra Adi Praha

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *