Opini

Menilik Penjaringan Bakal Calon Rektor Unsri

Tahun 2019 tampaknya akan menjadi tahun keemasan bagi masyarakat Indonesia untuk menyampaikan hakĀ  suaranya. Terlepas dari pemilihan umum legislatif dan eksekutif pada 17 April lalu, dari jenjang pendidikan tidak kalah ketinggalan. Universitas Sriwijaya (Unsri) pun tengah berada dalam masa pemilihan wajah baru pemimpinnya, tak lain adalah rektor universitas.

Sama halnya dengan pemilihan presiden yang berperan penting dalam keberlangsungan dan berjalannya Indonesia selama lima tahun ke depan, pemilihan rektor juga tidak kalah penting untuk disoroti. Tentunya kita sebagai mahasiswa harus turut andil dalam mengawal proses tersebut. Adapun agenda pemilihan rektor Unsri untuk masa jabatan 2019-2023 akan diberlangsungkan dari pertengahan Maret sampai Juli mendatang.

Penjaringan bakal calon rektor telah dilakukan secara online pada pertengahan Mei lalu. Total keseluruhan nama bakal calon yang ada yaitu 115, yang mewakili beberapa fakultas dan jurusan di Unsri. Seluruh mahasiswa aktif dan civitas akademika dapat memberikan hak suaranya untuk turut menngajukan bakal calon rektor terbaik untuk Unsri ke depan.

Lalu, bagaimana dengan tingkat partisipasi yang ada di Unsri terkait agenda akbar yang berlangsung tiap lima tahun sekali ini? Melansir dari sumselupdate.com, Alfitri, ketua panitia menyatakan bahwa sebanyak 22,5 persen partisipan menyampaikan aspirasinya dari 35 ribu jumlah civitas akademika. Melihat dari jumlah persentase tersebut, dapat dilihat bahwa partisipasi dari civitas akademika Unsri bisa dikatakan kurang, bahkan sangat kurang. Hal ini dikarenakan jumlah tersebut bahkan tidak sampai menyentuh angka 50 persen.

Tentu saja ini sangat disayangkan, karena polling ataupun penjaringan bakal calon rektor ini merupakan salah satu bentuk cara dan cerminan dari civitas akademika dan terkhususnya mahasiswa, untuk memilih bakal calon pemimpin terbaik untuk Unsri. Sayangnya lagi, untuk tahap awal ini partisipasi kita terbilang kurang. Jika hanya 22 persen saja yang menyampaikan haknya, maka bagaimana dengan 80 persen lainnya ? Bisakah saya menyebutnya bersikap apatis ? Tentu saja. Karena menurut saya, pemilihan bakal calon rektor tersebut menjadi langkah awal dari rangkaian kegiatan yang selanjutnya. Terlebih lagi dengan titel mahasiswa yang katanya merupakan agen of change, tentu saja sikap apatis seperti ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus ambil andil yang cukup besar terhadap agenda akbar ini, karena terpilihnya pimpinan tersebut akan menentukan nasib kampus untuk beberapa tahun ke depan, bagaimana proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, selanjutnya juga menentukan mengenai perkembangan fasilitas dan infrastruktur kampus, serta yang tidak kalah penting tentang kegiatan organisasi dan aktivitas mahasiswa selama berada dilingkungan kampus. Beberapa poin tersebut tentu akan sangat berpengaruh dengan kebijakan rektor juga.

Selain dari penjaringan bakal calon rektor, masih ada beberapa tahapan lagi yang akan dilaksanakan ke depannya. Perjalanan menuju wajah baru Unsri hanya tinggal menghitung bulan saja. Maka dari itu, buang jauh-jauh sikap apatis yang ada di dalam diri kita, terlebih lagi jika hal yang kita sikapi tersebut merupakan untuk kepentingan bersama dengan mengharapkan kemajuan bersama pula. Ingat, pemilihan bakal calon rektor akan menentukan nasibĀ Unsri lima tahun ke depan. Pastinya kita ingin yang terbaik untuk Unsri. Aplikasikan peran sebagai mahasiswa, yang tidak hanya belajar saja, namun juga mengawal, memantau dan turut andil dalam agenda bersama ini. Menuju Unsri yang jaya.

Penulis : Fury Aura Bahri

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *