ArtikelOpini

Mengurangi Efek Buruk Media Sosial dengan Detoks Media Sosial

Teknologi saat ini telah sangat membantu manusia untuk terus terhubung meskipun dalam keadaan pandemi seperti sekarang. Media sosial memberikan kita sejuta manfaat melalui informasi serta edukasi yang terdapat di dalamnya. Namun dibalik segudang manfaat yang ditawarkan, media sosial juga tidak terlepas dari efek buruk bagi para pengguna, seperti kecanduan. Bagi sobat GS yang telah merasakan banyak efek buruk dari media sosial, dapat mengurangi hal tersebut dengan detoks media sosial.

Apa itu detoks sosial media? Maksud dari detoks media sosial adalah istirahat dari bermain media sosial. Tanpa kita sadari, media sosial benar-benar telah membelenggu diri kita. Oleh sebab itu, istirahat media sosial ini merupakan hal yang penting bagi diri kita semua, terutama ketika kita telah kecanduan scrolling beranda media sosial dan terus-terusan memantau aktivitas orang lain. Apalagi jika kita sampai menganggap media sosial segala-galanya. Berikut beberapa alasan mengapa pentingnya melakukan detoks media sosial:

1.Menjadi lebih tenang serta terhindar dari stres dan perasaan cemas

Para ahli menyatakan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat menganggu kesehatan mental yang akan membuat seseorang merasa cemas berlebih hingga stres. Terlebih lagi jika kita mulai mengalami FOMO (Fear of Missing Out) atau takut ketinggalan zaman yang membuat risiko terancamnya kesehatan mental. Namun dengan melakukan detoks media sosial, kita dapat menghindari terjadinya hal tersebut. Kita tidak perlu cemas menunggu jumlah like dan comment dari orang lain di posting-an kita. Nyatanya, menepi sejenak dari hiruk-pikuk media sosial dapat membantu pikiran kita menjadi lebih rileks.

2. Mengembalikan kepercayaan diri yang hilang

Masyarakat zaman sekarang sangat rentan sekali mengalami krisis kepercayaan diri atau sering disebut dengan insecure. Di media sosial, kita sulit sekali mengontrol diri untuk tidak stalking akun-akun milik orang lain, baik itu teman sendiri ataupun public figure. Dari kegiatan tersebutlah yang dapat memicu diri kita membanding-bandingkan diri dengan orang lain, hingga menimbulkan rasa iri serta dengki.

Namun dengan melakukan detoks media sosial, kita akan lebih menghargai kehidupan kita sendiri karena tidak perlu mengikuti standar kesuksesan atau kebahagiaan yang tinggi dan mungkin “semu” di media sosial. Karena terlalu sering terpapar akan kemewahan, kecantikan ataupun prestasi seseorang di media sosial mengakibatkan diri menjadi tidak pernah puas dan menghargai pencapaian-pencapaian yang pernah didapati. Maka dari itu, detoks sosial itu diperlukan agar kita tidak men-dewa-kan standar-standar yang ada. Padahal, tiap-tiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Semua orang itu unik dengan cara yang berbeda. Jadi tidak perlu memukul rata semuanya dengan standarisasi yang semu tersebut.

3. Menjaga kesehatan fisik

Selain masalah kesehatan mental, masalah paling umum dari penggunaan media sosial berlebih, yaitu terkait dengan kesehatan fisik. Kita terkadang terlalu asik bahkan sampai lupa waktu ketika menyelami media sosial. Padahal kegiatan tersebut berdampak negatif pada kesehatan fisik, terutama mata. Terlalu sering menatap layar biru dari ponsel dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mata. Dampak buruk paling umumnya lagi ialah tidur larut malam. Tidak hanya itu, hal ini pun dapat berdampak terhadap menurunnya kualitas tidur kita. Kebiasaan begadang serta tidur yang tidak teratur dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya, seperti jantung. Nah loh, bahaya banget, bukan?

4. Privasi lebih terjaga

Tanpa disadari media sosial terkadang membuat diri kita tidak lagi mengenal batasan mana yang perlu menjadi konsumsi dengan mana yang perlu kita simpan sendiri. Sekarang ini orang-orang dengan mudahnya mengunggah kegiatan sehari-hari bahkan tak jarang pula ditemui orang-orang yang curhat di media sosial. Orang-orang terkadang dengan mudahnya menceritakan permasalahannya di media sosial, padahal kita tidak tahu apa yang orang lain lakukan terhadap posting-an kita. Mungkin ada yang kagum, iri, mengumpat atau bahkan bisa jadi memanfaatkan informasi pribadi kita untuk tindak kejahatan. Nah, dengan detoks media sosial kita dapat mengontrol diri kita untuk tidak membagikan hal-hal bersifat pribadi di ranah publik.

5. Mempererat hubungan dengan orang-orang di dunia nyata

Media sosial pada zaman sekarang telah banyak mengubah bentuk komunikasi. Sebenarnya, komunikasi melalui media sosial saat ini sangat efektif untuk mendekatkan yang jauh agar dapat merasa dekat. Interaksi yang terjadi tidak hanya terjadi antara yang dekat dengan dekat, bahkan sekarang bentuk interaksi ini bisa menembus antarbenua.

Namun mirisnya, media sosial ini menimbulkan dampak yang negatif pada hubungan dengan orang-orang terdekat menjadi menjauh, sebab sekarang orang-orang malah sibuk dengan telepon masing-masing dan berinteraksi dengan orang jauh, sedangkan orang terdekat menjadi terlupakan. Memang, manusia itu merupakan makhluk sosial yang memerlukan interaksi antar sesama. Namun, bukan karena asik berinteraksi dengan orang secara online justru kita melupakan orang-orang di dunia nyata.

6. Menjadi lebih produktif

Kita cenderung sering terdistraksi ketika ingin melakukan suatu hal. Seperti contohnya, kita ingin membersihkan rumah namun di media sosial ada berita yang lagi trending, hingga akhirnya membuat kita lupa untuk bersih-bersih rumah dan malahan ikut nimbrung di kolom komentar, berdebat sana-sini. Coba bayangkan saja jika kita tidak mudah terdistraksi akan kehebohan media sosial, tentunya urusan bersih-bersih rumah akan cepat kelar, bukan? Dengan detoks media sosial, setidaknya kita bisa menghabiskan waktu yang kita gunakan berselancar di media sosial untuk kegiatan yang lebih produktif serta bermanfaat, seperti contohnya olahraga.

Memang, awalnya begitu berat ketika kita baru memutuskan untuk detoks media sosial. Hal tersebut dikarenakan otak kita telah diprogram untuk terus mengecek media sosial setiap harinya. Namun setelah beberapa minggu atau berapa bulan, kita akan terbiasa dengan sendirinya. Waktu efektif yang dianjurkan untuk detoks media sosial adalah kurang lebih sekitar 30 hari atau untuk bagi pemula bisa dilakukan secara bertahap selama 7 hari terlebih dahulu. Bagaimana, tertarik mencoba?

Penulis: Alfria Hazania (Jurnalis Muda LPM GS)

Editor: Febby Anggraini

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!