Artikel

Mengenal Sayyid Umar Baginda Sari, Penyebar Agama Islam Pertama di Sumatera Selatan

Sayyid Umar Baginda Sari dikenal oleh penduduk Tanjung Atap sebagai salah satu ulama penyebar agama Islam pertama kali di wilayah Sumatera Selatan. Perkembangan Islam di Sumatera Selatan sudah berlangsung sejak zaman Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi. Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang besar sehingga menjadi tempat singgah para pedagang dari berbagai penjuru dunia.

Dipercaya pada abad ke-15 Masehi Islam sudah masuk ke wilayah Kerajaan Sriwijaya, hal ini terbukti dengan terbentuknya pemerintahan yang bercorak agama Islam di Palembang. Lalu pada abad ke-17 Masehi, agama Islam sudah mulai berkembang pesat yang ditandai dengan munculnya kegiatan keagamaan diberbagai wilayah di Sumatera Selatan termasuk Ogan Ilir.

Sayyid Umar Baginda Sari atau dahulunya dikenal dengan nama Tuan Umar Baginda Saleh (1575-1600) menyebarkan agama Islam di daerah Uluan Palembang, yaitu di daerah Marga Madang Suku Satu. Beliau pertama kali menetap di Dusun Mendayun. Tuan Umar menempuh perjalanan perairan dari Ogan Komering Ulu, melalui Sungai Komering (Tanjung Lubuk), Sungai Ogan (Tanjung Raja), Talang Balai, Lintang dan berakhir di desa Tanjung Atap. Beliau menyiarkan agama Islam di Tanjung Atap, Ogan Ilir pada 1600 Masehi hingga wafat.

Seiring berjalannya waktu, Tuan Umar dikenal dengan nama Sayyid Umar Baginda Sari. Kata “Sari” menunjukkan gelar raja. Sayyid Umar Baginda Sari selain sebagai ulama, beliau juga ahli dalam dunia politik dan pemerintahan. Masa itu Tuan Umar menerapkan sistem keraton atau kerajaan kecil di daerah ia menetap. Hal tersebut dibuktikan ada beberapa pulau atau kampung yang diberi nama yang menunjukkan sebagai tempat pemerintahan, seperti Pulau Punoraja yang bermakna tempat raja, Pulau Mahkamah atau Pulau Kuto yang bermakna tempat pengadilan.

Sampai saat ini masih ada beberapa barang peninggalan Sayyid Umar Baginda Sari yang tersimpan rapih seperti tongkat, senjata tombak, keris dan sorban. Benda-benda tersebut banyak disimpan oleh penduduk setempat, serta bangunan musala di ujung desa Tanjung Atap yang masih berdiri kokoh.

Dahulu saat perjalanannya untuk menyebarkan agama islam, Sayyid Umar sering mendapat perlawanan dari penduduk yang masih berpikiran primitif. Namun dengan bijaksana, sabar dan usaha yang terus menerus, pada akhirnya penduduk di daerah Ogan Ilir, menerima kepercayaan baru tersebut selain itu terdapat kemajuan juga di bidang kebudayaan. Sayyid Umar Baginda Sari tutup usia pada abad 16 Masehi dan dimakamkan di sebuah pulau di seberang dusun Tanjung Atap. Pulau tersebut dikenal dengan Pulau Keramat Sayyid Umar Baginda Sari.

Tidak terlalu sulit menuju ke makan Sayyid Umar Baginda Sari, makam tersebut terletak di Desa Tanjung Atap, kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Untuk ke lokasi, pertama-tama ke Desa Tanjung Atap terlebih dahulu, dari desa tersebut sudah ada jalan darat yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki ataupun dengan kendaraan.

Jika berjalan kaki kita membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke lokasi. Bisa juga melalui jalur perairan, seperti perahu dan lain sebagainya apabila air sedang pasang. Nah, untuk mempercepat perjalanan kalian bisa menggunakan kendaraan berupa sepeda motor namun ada beberapa tempat di jalan timbunan tersebut yang belum terlalu sempurna. Disarankan berjalan kaki saja untuk menuju kelokasi agar lebih aman.

Penulis: Fatmawati

Editor: Febby Anggraini

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!