BeritaNews

Mengawali 2019, Gabi’91 Pilih Tema Isu Realis

INDRALAYA, GELORASRIWIJAYA.CO – Mengawali tahun 2019 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Gabi’91 mempersembahkan pentas yang bertemakan isu realis. Pentas yang bertajuk Paranoia “tidak ada yang lebih berharga sekarang, kecuali mempertahankan”, diadaptasi dari naskah karya Yondik Tamto. Bertempat di gedung teater Universitas Sriwijaya (Unsri), Kamis (24/01).

Alasan Rillo Abyudaya selaku sutradara memilih tema isu realis dikarenakan dari lima produksi terakhir Gabi’91 selalu mementaskan tentang naskah realis yang berdasarkan kehidupan nyata.

“Isu realis itu adalah sebuah imajinasi yang maknanya luas dan tidak spesifik karena merupakan khayalan dari manusia. Jadi, saya ingin Gabi mengusung tema yang tidak realis saja, tapi isu realis juga bisa, bahkan absurd juga mungkin nantinya”, ujarnya.

Rillo menyatakan, Paranoia sendiri menceritakan tentang sebuah halusinasi dari sang pemeran utama yaitu Bagas yang diperankan oleh Medio Lailatin Nisphi, terkait dengan hasil dari apa yang dilakukannya di masa lalu.

“Disebutkan di pementasan tadi apa yang ditanam itulah yang kau tuai. Untuk tindakan yang tadi misalnya membunuh, dampaknya bukan hanya di penjara saja, tapi bisa juga gangguan mental”, ujarnya.

“Untuk genrenya membawa ke thriller horror, tapi bukan yang mistis seperti hantu, lebih ke paranoidnya seseorang ditambah juga dengan musik yang mengganggu kejiwaan”, kata Rillo.

Salah satu alumni teater Gabi’91, Balqis Alifia menyatakan senang melihat perkembangan Gabi’91 yang terus meningkat, ia juga menambahkan bahwa pementasan tersebut sebagai pemanasan untuk ke festival nasional.

“Dijadikan sebagai pemanasan untuk menuju festival teater mahasiswa nasional di Medan dan untuk mengatur bakat dari spesialis bidang di Gabi’91. Selain itu juga, untuk menyambut anggota baru”, ujarnya.

Rizki Ramadhanti Ajengtriani, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi 2018 yang turut menyaksikan mengatakan bahwa alur dari cerita Paranoia tidak bisa ditebak.

“Saya pikir cerita Paranoia itu sama seperti pada umumnya, tapi di akhir cerita ternyata pemeran utama memang punya penyakit itu. Jadi, bisa dibilang sukseslah pementasan ini”, ujarnya.

Rizki juga menambahkan, “Sebenarnya penampilannya sudah bagus, tapi yang membuat pecah suasana itu audiensnya yang alay. Momen yang seharusnya serius, seram dan klimaks mereka justru malah tertawa. Lebih ke audiensnya saja sih bukan ke teaternya”, tutupnya.

Penulis : (fab)
Editor : (nas)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *