Opini

Mendidik, Dididik, Terdidik

Ada dua kisah menarik mengenai Pendidikan di Jepang. Pertama, ketika Hisroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu, Jepang diambang kehancuran. Ketika krisis parah mengancam, pertanyaan yang pertama keluar dari mulut kaisar adalah “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Dari peristiwa ini, kita dapat belajar bahwa Jepang yang saat ini kita kenal sebagai negara besar dengan teknologinya yang mutakhir, bangkitnya adalah hasil daripada proses yang disebut pendidikan. Kedua adalah kisah seorang anak yang masih harus berangkat sekolah menggunakan kereta, padahal perusahaan kereta api terdekat sudah harus tutup karena sepinya penumpang. Namun, begitu mendengar nasib si anak, perusahaan kembali membuka stasiunnya dan alhasil hanya si anak yang jadi satu-satunya penumpang di kereta itu. Kita bisa melihat betapa Jepang sangat menghargai pendidikan. Agar seseorang dapat tetap menuntut ilmu, perusahaan tersebut bersedia merugi setidaknya sampai si anak selesai menempuh pendidikannya.

Cerita-cerita di atas seharusnya menginspirasi negara-negara di dunia, khususnya Indonesia. Pemuda adalah pemimpin masa depan suatu bangsa. Membentuk para muda-mudi adalah sebuah keharusan agar layak diwariskan nasib bangsanya. Oleh sebab itu, negara diharapkan mampu mencetak generasi muda yang cerdas dan berkarakter. Ironis, kita yang menjalankan proses pendidikan di dalam negeri seringkali harus kalah dengan mereka yang menempuh pendidikan di luar negri. Malah, cenderung membuat kesan bahwa lulusan dalam negri adalah untuk pekerja dan lulusan luar negri adalah pejabatnya. Sebenarnya ada apa?

Di Indonesia, terjadi permasalahan dalam peran, baik itu yang mendidik, yang dididik, dan yang terdidik. Kadang kita melihat mereka yang mendidik hanya sebatas formalitas kelembagaan. Meskipun tidak semua, namun rasanya banyak. Yang penting para murid masuk dalam kelas, mengerjakan tugas, dan mendapat nilai bagus dalam ujian. Cara berpikir seperti ini yang menghambat pendidikan di Indonesia. Padahal, lembaga pendidikan adalah lingkungan di mana tempat mayoritas waktu produktif kita dihabiskan yang artinya juga merupakan lingkungan pembentuk karakter dan kemampuan kognitif masyarakatnya.

Tidak hanya yang mendidik, yang dididik pun perlu dievaluasi. Kecenderungan malas dan kurangnya dahaga pada pengetahuan adalah masalah masyarakat di negara ini. Perasaan nerimo dan malas mencari tau seperti sudah menjadi sebuah budaya masyarakat yang tertanam dalam-dalam di akarnya sehingga sulit dicabut atau dihilangkan. Mungkin mulai dari hal sederhana, sekarang kita bisa sedikit mencontoh pada kebiasaan barat dalam mengenalkan literasi lewat membacakan buku sebelum tidur pada si anak agar kelak dia dengan sendirinya haus akan bacaan. Semoga ini bisa diterapkan di Indonesia.

Yang terakhir adalah mereka yang terdidik menjadi masalah utama di negeri ini. Mengenyam pendidikan setinggi-tingginya hanya untuk dirinya. Duduk di kursi kekuasaan bermodal gelar pendidikan tinggi, namun tak pernah sedikitpun melihat mereka yang jauh di bawahnya yang tak pernah sekolah barangkali. Turun gunung ketika masa nyaman mendekati ujung, menyapa masyarakat berharap suara, ketika duduk tahta kembali, malah korupsi. Bukan itu yang diharapkan, esensi dari pendidikan adalah mewariskan sehingga turut mencerdaskan.

Maka dari itu, untuk membangun suatu bangsa perlulah semua unsur mulai dari yang mendidik, yang dididik, hingga yang terdidik dalam menjalankan perannya sungguh-sungguh. Tepatlah ucapan Ki Hadjar Dewantara “Ing ngarso sing tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Penulis : Renaldo Gizind, Mahasiswa FE 2017
Editor : Royan Dwi Saputra

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!