OpiniSuara Pembaca

Memaknai Hidup Dari Nada-nada

Pernah, bahkan sering aku bertemu dengan seseorang sedang memaki. Memaki orang yang persis berhadapan didepannya. Memaki di ruang publik yang terbuka seterbuka-bukanya. Kulihat kesal dan malu diraut wajah orang yang dimaki itu. Seakan wajahnya dicakar-cakar oleh setiap mata yang terpusat padanya. Meskipun demikian, ia tidak berdaya untuk melawan karena Ia dipaksa untuk tidak melawan.

Fenomena ini sering terjadi di Bandara, Restoran, Rumah Sakit, di Kantor Pemerintahan, Sekolah, bahkan di Universitas. Sesuatu yang lazimya terjadi antara atasan dengan bawahan, antara konsumen dengan pelayan, antara guru dan siswa, atau antara dosen dengan mahasiswa.

Bagi ku memaki diruang publik adalah tindakan amoral. Alih-alih untuk memperingati atau memberi pelajaran kepada orang lain, bagiku memaki diruang publik adalah suatu tindakan melawan sikap humanisme, dimana kesetaraan sesama manusia sangat dijunjung dalam segala interaksi yang ada. beberapa kali juga aku menjadi objek makian. Namun dalam hal ini, aku bukan orang yang tidak pernah memaki. Sesekali aku juga pernah melakukannya.

Dari pengalaman itulah muncul suatu renungan yang mendalam. Dan karena itu, ingin sekali aku mengingatkan kepada setiap orang yang masih melakukannya bahwa sebagai manusia kita tentu memiliki keterbatasan. Kita tidak akan bertemu pada kesempurnaan yang kita harapkan dari orang lain.

Kesempurnaan itu hanyalah utopia, fatamorgana ditengah padang hati kita yang sedang gersang. Hati yang tercipta karena terbakar oleh sikap arogan yang membara, yang memancing kita untuk memaki hanya karena kesalahan dan keterbatasan orang lain.

Tentang keterbatasan manusia. Sesungguhnya alam telah mengajarkan kita tentang keterbatasan itu. Ia mengisyaratkannya melalui nada-nada. Amatilah irama musik dimanupun ia terdengar. Musik itu tersusun atas tangga nada DO, RE, MI, FA, SO, LA, SI. Tujuh tangga nada! Kita tidak akan pernah mendengar nada ke-8. Setelah tangga ke-7, nada akan kembali pada nada ke-1. Itulah sinyal alam, pertanda bahwa dunia serta isinya terbatas.

Sebagaimana juga nada, tidak ada yang lebih baik, tidak pula ada yang buruk. Setiap tinggi rendah nada memiliki nilai estetik masing-masing. Karena itulah apapun tingkat status sosial kita di dalam masyarkat, kita tetap tidak layak untuk memaki, menghujat bahkan merendahkan orang lain. Rasa kesal dan kecewa pun tak pantas menjadi alasan untuk melakukan itu.

Kesal, kecewa hanyalah variasi hidup, Maka, nikmati saja. Beruntung lah manusia yang masih punya rasa kesal dan kecewa, pertanda hidupnya masih berirama.

Sebagai manusia, kita tidak perlu malu untuk sedikit merendahkan dirinya dihadapan orang lain. Merendahkan diri dalam arti sekedar untuk menghormati orang lain, dan tidak memaksa kehendak sendiri. Dengarlah instrumen Beethoven.

Ia tidak pernah menciptakan instumennya hanya dari nada tinggi. Fure Elise yang mahsyur itu, ia ciptakan dari paduan antara nada rendah dan tinggi. Begitu pun hidup, hidup ini indah jika kita mainkan dengan irama yang terkombinasi. Kita butuh posisi tinggi, tapi tidak juga meninggalkan posisi rendah, sebab terkadang kerendahan itu lah yang justru membuat hidup manusia bernilai tinggi.

 

Tulisan ini dibuat dalam rangka memaknai hari musik nasional 9 Maret 2018.

Selamat hari musik nasional!

Penulis : Fajar Setya Hadi

Editor : Piky Herdiansyah

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *