Uncategorized

Memaknai Hari Lahirnya Nabi Muhammad

Peringatan Maulid Nabi pada tahun ini jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal 1441 H atau 9 November 2019. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal setiap tahunnya. Kata maulid atau milad dalam bahasa Arab dapat diartikan sebagai hari lahir atau kelahiran.

Peringatan yang dilakukan setiap tahunnya oleh umat Muslim di seluruh dunia ini dimaksudkan sebagai bentuk kegembiraan dan penghormatan kepada nabi sekaligus rasul terakhir umat Muslim. Umat Muslim memperingati Maulid Nabi dengan mengucap hamdalah dan tasbih, bersalawat, berpuasa, bertemu sanak keluarga, jamuan makan bersama, dan kegiatan lainnya.

Banyak peristiwa luar biasa yang terjadi menjelang lahirnya Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam, seperti bergoyangnya singgasana Raja Persia Kisra Anusyirwan dan runtuhnya 14 balkon istananya, padamnya api abadi yang disembah oleh kaum Majusi, surutnya danau ‘A’ yang diagungkan oleh orang Persia, tenggelamnya Tasik Sava atau semenanjung yang disucikan oleh orang Persia, hingga salah satu kejadian besar yang tak telupakan oleh umat Muslim di seluruh dunia, yakni hancurnya pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah dari Abysinia

Terlepas dari percaya atau tidak dengan segala peristiwa tersebut, umat Muslim harus meyakini bahwa hal itu benar terjadi. Semesta alam menyambut lahirnya nabi dan rasul yang paling agung, mulia, dan istimewa. Umat Muslim sudah seharusnya menyambut hari istimewa ini dengan melakukan atau meneladani akhlak beliau sebagai pengikutnya hingga akhir zaman.

Banyak keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang dapat kita teladani dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, shiddiq atau jujur. Keteladanan yang pertama ini harus kita tanamkan dalam diri agar kita terbiasa berkata dan berperilaku jujur pada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Yang kedua, amanah atau dapat dipercaya. Setiap tindakan akan lebih baik apabila dilakukan dengan amanah sehingga kepercayaan orang terhadap kita akan tercipta atau bahkan meningkat. Keteladanan ketiga, tabligh atau menyampaikan. Sampaikanlah apa yang seharusnya disampaikan dan jangan menyembunyikan apa yang sudah seharusnya disampaikan. Terakhir, fathanah atau cerdas. Berpikir dan bertindak cerdas dapat menjauhkan kita dari hal-hal buruk.

Penulis : Royan Dwi Saputra
Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *