Editorial

Memaknai Body Positivity

“Eh lu dekil amat, luluran gih!”


“Yaelah, punya jerawat bukannya skincare-an malah dibiarin aja
.”


“Coba elu diet pasti cantik, sayang sama wajah elu dah mendukung tuh
.”


“Elu cowok apa banci sih, krempeng banget.
Ett dah gini amat mulut manusia
.”

Kalian pasti sering atau pernah mendengar kalimat-kalimat tersebut, yang dilontarkan oleh orang disekitar kita. Seolah-olah mereka menuntut kita untuk menjadi apa yang mereka harapkan, karena kebanyakan orang beranggapan bahwa standar kecantikan wanita adalah harus kurus, putih, mulus tanpa ada noda sedikitpun baru bisa dikategorikan cantik. Sedangkan untuk laki-laki sendiri terobsesi dalam hal membangun massa otot, agar diakui maskulin tanpa memikirkan kondisi fisik sendiri.

Padahal standar kecantikan sendiri tak ubahnya hanyalah akal-akalan media, karena media merupakan salah satu kontributor yang cukup berpengaruh dalam membangun standar kecantikan. Tak hanya media, sekarang industri kecantikan juga ikut memberi sumbangsih dalam menciptakan definisi kecantikan di masyarakat dan membuat masyarakat menjadi insecure dengan diri sendiri, lalu mereka mengambil keuntungan dari insecurity masyarakat dengan menjual produk mereka. Ironinya, masyarakat hanya menelan mentah-mentah body image tersebut, sehingga tak ayal banyak orang yang depresi dan tidak percaya diri karena tidak bisa memenuhi tuntutan terhadap standar kecantikan.

Namun, belakangan ini muncul kampanye body positivity yang mengajak sekaligus mendorong setiap orang agar lebih mencintai diri sendiri, salah satunya yang dilakukan oleh public figure tanah air, Tara Basro. Walaupun hal yang dilakukan Tara Basro ini sempat menuai pro dan kontra, karena dinilai tidak sesuai dengan kultur Indonesia, namun itu sudah menjadi awal untuk memperkenalkan body positivity ke masyarakat Indonesia, terlebih di Indonesia saat ini masih sangat jarang orang-orang yang mendukung untuk berpikir positif terhadap tubuh sendiri yang akhirnya mental dan mindset kita jadi berpikir negatif.

Body positivity itu sendiri merupakan sikap menerima tubuh apa adanya. Baik ketika bentuk, ukuran, dan kemampuan tubuh berubah sebab sifat, usia, atau pilihan pribadi. Orang yang body positivity biasanya lebih menghargai dirinya sendiri dan berpikiran positif terhadap tubuhnya, walaupun orang lain masih melihatnya dengan ketidaksempurnaan.

Namun, ada juga orang-orang yang berpikir seperti ini, “Lantas body positivity juga bisa bermakna negatif dong, ‘kan mengajak orang-orang untuk stay dengan tubuhnya sekarang. Misalnya kalau gemuk dan banyak lemak ya dibiarkan saja padahal itu dapat mempengaruhi kesehatan.”

Tentu bukan begitu konsepnya. Itulah mengapa kita jangan sampai menyalahartikan body positivity. Body positivity bukan berarti mendorong orang-orang yang misalnya gemuk untuk stay gemuk, tapi lebih mendorong untuk menerima tubuh kita dan bangga terhadap tubuh sendiri serta mendorong untuk tetap sehat. Orang gemuk juga tidak harus melulu kurus untuk menjadi sehat tapi bisa dengan melalui pola hidup yang sehat.

Banyak hal yang dapat kita lakukan agar bisa body positivity, terutama bagi mahasiswa, salah satunya dengan cukup istirahat di malam hari, itu sudah bentuk dari body positivity. Selain itu, kita juga dapat mengampanyekan body positivity di lingkungan kita, mengingat pentingnya body positivity, dengan cara membuat tulisan tentang body positivity, menyuarakan body positivity lewat media sosial, dan cara lain yang sesuai dengan kultur Indonesia.

Penulis : Redaksi

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!