BeritaFeature

Masjid Raya Al-Mashun dan Sultan yang Malu pada Tuhannya

Senin (14/10), jarum jam merangkak perlahan menuju pukul sebelas. Sang surya nampak malu-malu menunjukkan cerahnya, Medan terselimuti kabut tipis dan aroma sisa hujan malam tadi. Bus sewaan panitia membawa saya menuju salah satu tempat bersejarah di kota ini.

Belum juga memasuki gerbang tempat wisata ini, mata saya disuguhkan oleh kemegahan yang membuat saya berdecak kagum. Desingan mesin kendaraan tidak dapat mengalihkan atensi saya dari salah satu ikon kota Medan ini. Sepanjang jalan menuju gerbang, saya menikmati ornamen unik bangunannya.

Masjid Raya Al-Mashun atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Raya Medan merupakan salah satu bangunan ikonis di kota Medan. Dibangun sejak tahun 1906 hingga 1909, masjid ini berdiri kukuh di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Masjid Raya Al-Mashun sendiri berarti masjid besar yang sangat baik, suci, dan terpelihara. Seiring berjalannya waktu, masyarakat luar lebih sering menyebut Masjid Raya Al-Mashun sebagai Masjid Raya dengan artian masjid yang besar.

Ubin berwarna hijau dan putih membentang di pekarangan masjid yang luas. Di sisi kanan masjid, terdapat kompleks pemakaman keluarga Kesultanan Deli, termasuk Sultan Deli ke-9 hingga Sultan Deli ke-13. Pelancong dari dalam dan luar negeri juga tak ketinggalan menangkap keindahan masjid serta mengabadikan momen dengan kameranya.

Masjid Raya ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian barat, timur, utara, dan selatan. Sebelum menjejakkan kaki lebih dalam ke bangunan masjid, di sisi kanan terdapat tempat penitipan alas kaki yang dijaga oleh tiga pemuda berwajah melayu. Mengapa harus lepas alas kaki? Karena, Masjid Raya sendiri merupakan destinasi wisata religi yang mana selain menjadi tempat wisata, digunakan juga sebagai tempat beribadah umat muslim. Maka dari itu, kebersihan lingkungan masjid harus dijaga layaknya pepatah arab yang mengatakan “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.

Memasuki area utama masjid, nuansa lintas budaya terasa begitu kental dan menjadi suatu keunikan tersendiri dari bangunan ini. Masjid Raya dibangun oleh arsitektur handal dengan mengadopsi gaya bangunan dari tiga negara, yakni Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Saat pertama memasuki bangunan masjid, saya disambut dengan nuansa Eropa, di mana bangunan berfondasi tinggi, dilengkapi dengan marmer, serta jendela kaca dengan motif yang unik. Begitu pun dengan nuansa Arab dan Timur Tengah yang berpadu di masjid ini.

Saya tidak sendirian menjelajahi destinasi ini, melainkan bersama 29 peserta pelatihan dan dipandu oleh seorang pemandu untuk mengulik keunikan dari Masjid Raya ini. Ia bernama Muhammad Hamdani, salah satu pengurus Masjid Raya yang fokus dengan kegiatan yang ada di dalam masjid. Lelaki berperawakan berisi dan sedikit tegap, memakai baju koko berwarna putih, celana dasar cingkrang, serta dilengkapi dengan peci di kepalanya mengajak kami memasuki masjid untuk mengetahui lebih lanjut sejarah dari Masjid Raya.

Dari apa yang Hamdani sampaikan, ada perihal yang membuat saya tertarik, yakni tujuan didirikannya Masjid Raya. Ia mengatakan ada dua tujuan yang melatarbelakangi pembangunan Masjid Raya. Pertama, Sultan Deli ke-9, Sultan Ma’mun Al-Rasyid, merasa malu sebagai hamba kepada Allah Swt. karena memiliki istana yang megah, sedangkan tidak dengan masjid yang ia dirikan sebelumnya. Maka dari itu, Sultan memiliki hasrat untuk membangun Masjid Raya sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt.

Sultan Deli ke-9 mendirikan kerajaan megah yang bernama Istana Maimun pada tahun 1888 – 1891 dan letaknya tidak jauh dari lokasi Masjid Raya. Sultan mendirikan Masjid Raya dengan sangat megah melebihi megahnya istana milikinya. Masjid Raya mampu menampung hingga 2000 jamaah.

Kedua, Sultan ingin menyiarkan Islam di kota Medan. Hamdani menceritakan bahwa dahulu Sultan mendatangkan para ulama dan guru agama untuk mengajarkan agama Islam kepada masyarakat kota Medan. Bagi ulama dan guru yang bersedia mengajarkan agama Islam, dihadiahkan tanah oleh Sultan. Hingga saat ini, Masjid Raya tetap menjadi wadah untuk menyiarkan agama Islam, seperti pengajian rutin yang diselenggarakan oleh dewan pengurus masjid.

Dari segi arsitektur, setiap ornamen yang ada di Masjid Raya memiliki makna tersendiri. Contohnya, terdapat lima kubah yang berarti lima waktu solat, setelah itu terdapat tujuh pintu masuk yang menandakan tujuh hari dalam satu minggu. “Umur kita hanya sebatas hari-hari dalam satu minggu, tidak ada hari lain untuk kita mati selain Senin sampai Minggu,” tutur Hamdani. Masjid Raya sendiri belum pernah mengalami pemugaran, tetap mempertahankan wujud asli dari pertama kali dibangun. Pengecualian untuk beberapa bagian yang memang harus dibenahi, seperti atap bocor, kaca pecah, hingga pengecatan beberapa ornamen.

Saya menghela napas panjang, kagum akan hasrat Sultan Deli yang membangun masjid semegah ini atas dasar rasa malu kepada tuhannya karena membangun keperluan dunia lebih mewah dibandingkan dengan masjidnya. Dengan kata lain, beliau membangun Masjid Raya lebih mewah dari pada istananya sendiri. Rasa kagum saya tidak berhenti sampai di situ, Sultan Deli juga mampu membangun peradaban Islam dengan sangat baik lewat Masjid Raya.

Hamdani mengakhiri penjelasannya dengan mengucapkan salam, kerumunan bubar setelahnya. Rasa syukur berulang kali saya ucapkan karena diberi kesempatan untuk melihat bukti kehebatan Kerajaan Melayu dan indahnya kebesaran tuhan.

 

Penulis : Annisa Dwi Kurnia

Editor : Royan Dwi Saputra

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!