EditorialOpini

Mana Lebih Tinggi? Derajat Kertas atau Manusia

Akal pikiran menjadi alat pembeda manusia dari makhluk lain yang hidup di bumi, dari kemampuan berpikir tersebut lahir gagasan-gagasan yang mengatur cara hidup dan membawa masyarakat pada keadaan hari ini.

Dari pikiran tersebut, lahir suatu gagasan yang disebut dengan nilai. Pada masyarakat kita, umumnya nilai dianggap sebagai sesuatu yang bersifat materil. Namun bila merujuk pada definisi yang dibuat oleh Louis O Kattsoff, ia menyebut sebuah pengertian yang dinamai sebagai nilai instrumental. Ini merupakan salah satu dari 2 definisi yang membahas tentang nilai.

Nilai instrumental merupakan nilai dari sesuatu hal karena dapat dipakai sebagai sarana mencapai tujuan. Hal-hal tersebut dapat kita temukan contohnya dalam wujud ideologi, organisasi, dan benda-benda mati yang menjadi berharga karena ada nilai yang diberikan oleh manusia seperti bangunan bersejarah, batu mulia, dan kertas-kertas berharga. Seiring waktu kertas telah menjadi medium penyampai nilai, selain fungsinya sebagai medium informasi dan fungsi-fungsi lainnya.

Kertas telah menjadi alat untuk menyampaikan pengakuan dari orang yang berkedudukan lebih tinggi untuk mengangkat derajat orang lain yang kedudukanya lebih rendah. Kertas digunakan sebagai penanda derajat seseorang dikarenakan nilai yang dibawa oleh kertas itu sendiri, misalnya seorang yang telah selesai menempuh pendidikan di suatu institusi diberi gelar sarjana dengan bukti adanya surat tanda tamat belajar atau ijazah, dengan begitu seorang yang telah menyelesaikan kuliah S1 berhak disebut sebagai sarjana, dibuktikan dengan selembar kertas ijazah.

Kertas juga digunakan sebagai penanda legalitas kepemilikan atas sesuatu, contohnya pada kepemilikan lahan. Sertifikat kepemilikan tanah dijadikan sebagai bukti legalitas kepemilikan lahan, tanpa sertifikat tersebut maka kepemilikan lahan seseorang dianggap tidak sah, meskipun tanah tersebut sudah dimiliki secara turun-temurun oleh si empunya. Kertas digunakan sebagai alat pengakuan dari individu atau organisasi yang memiliki kedudukan terhadap sesuatu, seperti pemerintah dan rakyatnya dalam hal kepemilikan individu.

Demikian pula terhadap uang kertas, uang menjadi penanda kekayaan materil dari seseorang. Kertas yang digunakan sebagai alat yang dapat ditukar dengan sesuatu yang menjadi kebutuhan seseorang. Uang kertas juga menjadi benda yang menentukan kesejahteraan masyarakat terutama di perkotaan. Dengan uang, seseorang bisa sampai pada derajat yang tinggi dan memiliki kekuasaan yang besar. Karena uang juga, seseorang dapat menjadi melarat dan menderita karena kemiskinan materil mengakibatkan akses terhadap kebutuhannya menjadi terbatas.

Keluarga saya mengumpulkan surat-surat berharga dan uang tunai yang kami miliki dalam sebuah tempat khusus yang tahan api dan mudah dimobilisasi. Ayah saya sering mewanti-wanti kami ketika terjadi keadaan genting seperti kebakaran, maka yang pertama kali harus diselamatkan adalah kertas-kertas berharga tersebut, barulah hal hal lain ikut diselamatkan selagi bisa.

Contoh diatas merupakan beberapa kasus bagaimana kertas menjadi sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia, bahkan menentukan derajat dan kuasanya dalam masyarakat. Apabila kita uraikan bagaimana kertas-kertas itu seakan sangat berpengaruh, maka kita tidak dapat mengesampingkan nilai yang terikat pada kertas-kertas tersebut.

Namun permasalahanya adalah kertas-kertas bernilai tersebut telah sedikit banyak merubah pola pikir dan orientasi manusia terhadap prinsip-prinsip kehidupanya sendiri. Tanpa sadar kertas-kertas tersebut telah menciptakan pola pikir pada masyarakat yang justru mengisolisasi individu yang tak memilikinya.

Ketika lahir seorang terjebak pada pemikiran bahwa uang adalah segalanya, hingga beberapa orang mati-matian mengejarnya, akhirnya uang bagi sebagian orang itu merupakan tujuan hidup yang terus menjadi orientasinya hingga akhir hayat. Pada keluarga pra-sejahtera, uang dianggap menjadi satu-satunya faktor yang dapat menaikan kesejahteraan dan derajatnya di tengah-tengah masyarakat. Maka bekerja menjadi satu-satunya cara bagi mereka untuk meningkatkan kesejahteraan. Anak-anak disekolahkan agar mendapat ijazah sebagai syarat bekerja di masa yang akan datang, yang cenderung merubah motivasi belajar anak dari tujuan besar pendidikan itu sendiri, yaitu mencerdaskan kehidupan seorang manusia.

Akibat misorientasi tersebut maka sekolah dianggap hanya sekedar formalitas untuk memperoleh selembar ijazah, bukan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Juga muncul fenomena-fenomena seperti orang-orang yang mengikuti seminar atau forum lainya dengan tujuan untuk mendapat sertifikatnya saja, ilmu yang diterima tidak lagi diperhitungkan sebagai tolak ukur. Hal ini tentu menjadi keprihatinan dimana lembaran kertas bernilai yang seharusnya mempermudah hidup manusia, justru membawa manusia terjebak pada pola pikir yang mengisolasi diri. Tanpa sadar manusia yang memiliki pola pikir seperti itu akan terjebak pada rutinitas yang tak Ia mengerti dan akhirnya nasib seseorang seakan ditentukan oleh selembar kertas.

Memang dalam hidup, kita sangat memerlukan kertas-kertas bernilai tersebut, namun jangan sampai menjadikannya sebagai orientasi utama, banyak substansi dasar dari kegiatan yang di akhiri dengan pemberian kertas dan selalu ada hal yang dapat kita pelajari didalamnya. Terkadang banyak kita dengar orang-orang yang mengeluh terhadap pekerjaannya, karena dirasa membosankan namun tetap harus dilakukan untuk mendapatkan uang. Maka lakukanlah pekerjaan yang dirasa menyenangkan dan sesuai dengan minat dan bakat kita, agar orientasi untuk mendapatkan uang tidak menjadi orientasi utama dari pekerjaan kita, namun kebahagiaan dalam menjalani kehidupan sehari-harilah yang menjadi tujuannya.

Berhenti berpikir bahwa hanya dengan ijazah kita bisa survive dalam kehidupan, banyak orang yang telah membuktikan keberhasilan tanpa selembar ijazah, Thomas Alva Edison, Bill Gates, dan Susi Pudjiastuti adalah beberapa diantaranya. Bukan ijazah yang menbawa keberhasilan tapi kerja keras dan pengetahuan.

Pada dasarnya kita tidak bisa memungkiri keberadaan kertas-kertas yang bernilai sebagai alat mencapai tujuan, namun baiknya jangan sampai terjebak pada pola pikir yang justru membuat kita tidak berdaya tanpa kertas-kertas tersebut. Kita adalah manusia dan kitalah yang memberi nilai pada kertas-kertas tersebut, bukan sebaliknya.

Penulis : Piky Herdiansyah
Editor : (num)

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!