Feature

Makara, Patung Penjaga Gerbang Candi Gumpung

Pagi itu, pukul sebelas, aku beserta rombongan dari Palembang yang tengah berada di Kota Jambi menuju salah satu candi yang ada di sana. Candi yang hendak kami tuju berada di komplek percandian Muaro Jambi tepatnya terletak di Desa Wisata Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.

Memakan sekitar kurang lebih satu jam perjalanan untuk tiba di salah satu situs warisan tersebut. Belum lama ku rasa duduk di bus yang membawa kami, sudah nampak plang bertuliskan ‘Candi Muaro Jambi’ yang menjadi tanda bahwa kami sudah tiba di lokasi tujuan. Sepanjang jalan menuju bangunan candi, perhatianku hanya tertuju pada uniknya pernak-pernik yang dijual oleh warga di sana. Hingga tak terasa jalan sepanjang seratus meter yang hanya dapat dilalui oleh dua mobil telah ku susuri.

Setibanya di komplek tersebut, mataku disuguhkan dengan eloknya bangunan-bangunan candi yang pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke, yang saat itu sedang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer. Barulah kemudian pemugarannya dipimpin oleh arkeolog bernama R. Soekmono sekitar tahun 1970-an. Hamparan hijau rerumputan dan pepohonan rindang bak sabana menambah decak kagumku. Ditambah lagi dengan bangunan candi yang terbentuk dari susunan batu bata berwarna merah kekuning-kuningan memiliki daya tarik tersendiri bagiku.

Bahkan, rintikan hujan yang jatuh di tanganku dan kerasnya dentuman suara musik dari sebrang tempat aku berdiri pun tak ampu memalingkan perhatianku. Memang, bangunan-bangunan candi yang aku lihat masih kalah besarnya dari Candi Borobudur, Candi Prambanan dan candi lainnya. Akan tetapi, bangunan-bangunan tua dengan luas 3981 hektar itu tidaklah kalah bagusnya dari candi-candi yang telah aku sebutkan tadi.

Komplek candi muaro jambi yang saat ini pemanfaatannya sebagai objek wisata dan tempat ibadah, terus dikunjungi setidaknya oleh dua ratus hingga tiga ratus wisatawan per harinya. Saat hari libu,
kunjungan wisatawan baik lokal maupun dari luar Kota Jambi bisa mencapai seribu orang.

Salah satu candi yang aku kunjungi saat itu bernama Candi Gumpung. Candi tersebut memiliki bentuk bangunan persegi dengan sisi depannya terdapat teras dari susunan beberapa anak tangga dan tak ketinggalan juga patung penjaganya. Patung penjaga candi terbuat dari batu yang menyerupai seekor binatang dan seolah-olah menyambut siapa pun yang ingin berkunjung. Menariknya, penjaga yang aku lihat hanya sendirian saja tanpa ada pasangannya seperti yang biasa ku jumpai.

Apakah patung penjaga itu jomblo? Dalam hati aku bertanya sambil menatapnya. Namun, daripada dibuatnya penasaran, aku pun mencoba menemui Yadi selaku tourguide di sana untuk menanyakannya langsung. Ternyata dugaan ku salah, Lelaki dengan postur tubuh kecil dan kurus, berkulit coklat kegelapan serta murah senyum itu, menjelaskan bahwa patung penjaga tersebut sebenarnya ada dua.
Akan tetapi, satunya telah diambil oleh pihak pengelola dan diletakkan di dalam museum koleksi yang lokasinya tidak jauh dari Candi Gumpung.
“Terus kak, patung itu dinamakan apa?” tanyaku lagi, Yadi pun menceritakan bahwasanya penjaga yang aku lihat itu disebut ‘Makara’ yang artinya amarah.

Makara sendiri disimbolkan sebagai hewan suci bagi Agama Hindu-Budha, yang artiya sebelum memasuki candi para pengunjung diharapkan bisa melepaskan segala amarah tentang dunia sebelum berdo’a di Candi Gumpung. Dari makna tersebut telah memberikan suatu pelajaran agar setiap kali ingin berdo’a perlulah adanya ketenangan dan kesenangan dalam diri.

Sampai detik ini, perawatan terhadap peninggalan yang satu ini terus dilakukan oleh pihak pengelola yakni balai pustaka cagar budaya. Disamping perawatan bangunan candi yang kian hari semakin tidak kokoh karena dimakan usia, perlu diperhatikan lagi dalam hal penyediaan tempat sampah dibeberapa titik agar lingkungannya tetap terjaga. Plang pelarangan untuk tidak menginjak bangunan candi juga mesti terus di galakkan agar bangunannya tidak roboh karena injakan kaki pengunjung.

Penulis : Juniancandra Adi Praha

Editor: Desi Rahma S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *