Artikelscience

Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit (PKS): Masa Depan Energi Biogas Indonesia

Kegiatan pembangunan industri adalah salah satu kegiatan sektor ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kontribusi sektor industri terhadap pendapatan nasional menggambarkan sejauh mana tingkat industrialisasi telah dicapai oleh suatu negara. Dengan demikian, maka sektor ini menjadi amat penting, tercermin pada sumbangan sektor industri terhadap Produk Nasional Bruto (GNP) yang semakin meningkat.

Namun, peningkatan kegiatan yang demikian pesat telah mulai menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, baik dampak fisik, kimia maupun sosial. Didorong oleh permintaan global yang meningkat dan keuntungan yang juga naik, budidaya kelapa sawit terus ditingkatkan secara signifikan baik oleh petani kecil maupun para pengusaha besar di Indonesia.

Produksi minyak kelapa sawit dunia didominasi oleh Indonesia dan Malaysia. Menurut Ega Ewaldo, tahun 2015 kedua negara ini secara total menghasilkan sekitar 85-90% dari total produksi minyak kelapa sawit dunia. Jumlah pabrik kelapa sawit di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Dalam proses menghasilkan minyak kelapa sawit, pabrik kelapa sawit juga memiliki buangan limbah padat, cair, dan gas. Sehingga semakin bertambahnya pabrik kelapa sawit, maka akan semakin banyak limbah yang dihasilkan. Limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kelapa sawit akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, baik kuantitas dan kualitas sumber daya alam, maupun lingkungan hidup.

Selain itu, dalam proses penghasilan minyak kelapa sawit, pabrik kelapa sawit membutuhkan banyak air. Namun, banyaknya air yang digunakan sebagian besar menjadi limbah cair pabrik kelapa sawit atau yang biasa disebut Palm Oil Mill Effluent (POME). POME memiliki tingkat Chemical Oxygen Demand (COD), Biological Oxygen Demand (BOD), dan padatan tersuspensi yang besar.

Kandungan tersebut dapat membahayakan lingkungan jika tidak diolah dengan benar. Pengolahan konvesional sudah banyak dilakukan oleh pabrik kelapa sawit. Namun umumnya teknologi ini membutuhkan lahan yang luas dan masih menghasilkan gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Gas tersebut merupakan salah satu penyebab dari bencana efek rumah kaca (ERK).

Terlepas dari itu, memasuki era revolusi industri 4.0, menjadikan setiap warga negara Indonesia harus mampu untuk menghadapinya sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Sebagai seorang mahasiswa, kita dituntut untuk mampu memberikan kontribusi kepada lingkungan sekitar dengan bidang ilmu masing-masing. Selaras dengan era revolusi industri 4.0 yang dikolaborasikan dengan kearifan lokal yang ada. Menyesuaikan dengan revolusi industri 4.0 dengan kultur daerah masing-masing. Layaknya Jepang dengan revolusi industri 5.0, human-centered society.

Limbah cair pabrik kelapa sawit berpotensi untuk menjadi energi biogas yang diterapkan pada kompor portabel. Untuk meminimalisir kebocoran gas pada kompor portabel, dapat menggunakan sistem monitoring yang berbasis Internet of Things (IoT). Biogas yang dihasilkan oleh limbah cair pabrik kelapa sawit memiliki kandungan berupa metana (CH4), karbondioksida (CO2), hidrogen sulfida (H2S), nitrogen (N2), hidrogen (H), dan oksigen (O2).

Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi biogas dapat dilakukan dengan teknologi anaerobik digester yang ditambah dengan satu atau dua substrat yang berbeda. Untuk meningkatkan persen gas metana dapat menggunakan teknologi penyerapan ayunan tekanan. Sensor yang dipakai untuk monitoring disesuaikan dengan parameter yang diamati. Sensor MQ2 sebagai pendeteksi kebocoran gas, load cell dan modul HX711 sebagai pendeteksi beban kapasitas tabung gas, dan LM35 sebagai pendeteksi suhu.

Melalui solusi ini, tidak hanya akan mengurangi limbah berbahaya yang tidak berguna tapi juga dapat menjadi manfaat untuk keperluan masyarakat. Dengan aplikasi kebermanfaatan dalam bentuk kompor portabel. Menggunakan salah satu teknologi dalam revolusi industri 4.0 yaitu Internet of Things, penggunaan kompor portabel akan lebih aman, mudah dan dapat memantau keadaan kompor portabel melalui variabel yang ditampilkan di layar smartphone secara mudah dan cepat.

Ke depan, limbah cair pabrik kelapa sawit akan menjadi pengganti energi yang tidak dapat diperbarui. Menjadi masa depan negara Indonesia di bidang energi yang sangat potensial untuk dikembangkan lebih lanjut.

Penulis: Ali Usman (FP 2018)

Editor: Dinar Wahyuni

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!