BeritaFeature

Kota Tua Jakarta dan Sejarah Gelap di Baliknya

Siapa yang tak mengenal tempat ini, Kota Tua namanya atau yang dulu dikenal dengan Batavia. Pusat pemerintahan zaman Hindia-Belanda dilaksanakan. Sejarah panjang tentang kota ini ternyata menarik untuk diulik, sama halnya ketika penulis menginjakkan kaki ke kota ini pertama kalinya.

Terletak di Kecamatan Taman Sari, Kotamadya Jakarta Barat, kota ini dulunya berfungsi sebagai pusat pemerintahan Hindia-Belanda yang terdiri dari bank, pengadilan, pusat pemerintah, stasiun kereta, perusahaan telegram, dan perusahaan Pos. Kota ini juga sempat menjadi pusat administrasi kota praja.

Saat itu, malan hari dengan sambutan hangat dari seorang mas penjual gelang. Ia bercerita sedikit tentang Kota Tua ini, “Kalau saya ceritakan tentang sejarahnya Kota Tua, nanti anda kapok datang ke sini dan takut,” ujarnya.

Namun, ucapannya tersebut tidak menghilangkan rasa ingin mengeliling kota ini. Rasa penasaran penulis tentang Kota Tua ini tak sampai di situ, pagi harinya penulis bersama teman-teman kembali menyambangi Kota Tua ini. Memasuki beberapa museum dan berbincang dengan penduduk lokal asli Jakarta.

Salah satu museum yang bernama Museum Sejarah Jakarta atau akrab disebut Museum Fatahillah tak lupa penulis kunjungi. Tempat ini menjadi tempat di mana Gubernur Jenderal Hindia-Belanda dulunya melihat eksekusi mati para pemberontak di pagi hari yang ditandai dengan bunyi lonceng. Di sana, terdapat pula pedang yang digunakan saat eksekusi mati dan masih terlihat lumuran darah para terpidana mati di pedang tersebut.

Tak hanya itu, museum ini memiliki penjara bawah tanah dan penjara wanita. Penjara yang begitu kecil, namun dipaksakan memuat kurang lebih 50 orang. Jika dijadikan tempat rebahan, sudah pasti tidak akan muat.

Salah satu kisah bersejarah tempat ini ialah penangkapan Pangeran Diponegoro yang kala itu ditawan di Stadhuis pada 8 April -3 Mei 1830. Setelah mengetahui sedikit sejarah tempat ini, Wajar saja kota ini dianggap seram karena ceritanya di masa lalu yang cukup membuat sebagian orang takut.

Kota ini resmi dijadikan sebagai situs warisan oleh Gubernur Jakarta Ali Sidikin pada tahun 1972. Tujuannya adalah untuk melindungi sejarah arsitektur kota atau bangunan tua yang ada di sana. Hingga saat ini, kota ini menjadi salah satu tujuan wisata keluarga yang bertandang ke ibu kota.

Penulis : Desi Rahma Sari

Editor : Royan Dwi Saputra

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!