EditorialOpini

Ketika Mahasiswa Harus Memilih

Mahasiwa dan Perguruan Tinggi adalah dua hal yang tentunya tidak dapat terpisahkan. Perguruan tinggi memiliki Tridharma Perguruan Tinggi yang tentunya mahasiswa berperan dan bertanggung jawab atas hal itu. Pada poin ketiga Tridharma Perguruan Tinggi, pengabdian terhadap masyarakat ialah suatu proses penerapan daripada ilmu-lmu yang didapatkan secara teoritis dibangku kuliah. Namun terkadang hal inilah yang sering terlupakan. Penerapan ilmu yang telah didapatkan di dalam masyarakat tersebut, menjadi sebuah tolak ukur apakah mahasiswa tersebut berguna dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Mahasiswa saat ini hanya memahami bahwa kehidupan perguruan tinggi hanya sebatas sains dan teknologi. Namun sebagai seorang mahasiswa, hal tersebut dapat diperoleh dimana saja tak harus menjadi seorang mahasiswa. Hal tersebut terbukti beberapa waktu yang lalu ada seorang masyarakat yang hanya lulusan Sekolah Dasar  dan ia mampu membuat sebuah televisi rakitan, yang mana televisi tersebut sudah dijual, dipasaran dan dikonsumsi publik, saat ini ia sudah di panggil oleh presiden terkait kemampuanya terebut. Namun pada prosesnya didalam perguruan tinggi memiliki makna lebih luas. Maka dari itu seorang mahasiswa haruslah cerdas dalam memaknai waktu semasa menjadi mahasiswa di perguruan tinggi.

Tak asing lagi bagi kita mengenai keberhasilan seorang alumnus dalam kelanjutannya di dunia kerja hanya memanfaatkan 20% dari hardskill, sedangkan 80% nya ditentukan softskill yang didapat diluar kegiatan akademik kampus.

Pembentukan softskill yang dibutuhkan dalam bermasyarakat tidaklah semudah teori dan sesingkat rumus yang didapatkan di meja kuliah. Namun untuk mendapatkan kemampuan softskills yang diperhitungkan dalam karir kedepannya mahasiswa harusnya cerdik dalam mengatur  waktu dan menjadikan pribadi adalah pengendali dan pengatur waktu yang handal untuk diri kita sendiri dan orang lain.

Manajemen waktu antara akademik dan nonakademik yang seharusnya dilakukan mahasiswa kini tak lagi menjadi pilihan. Melainkan kini, pilihan mahasiswa yakni fokus akademik dan organisasi. Ikut sekedar ikut atau puas aktif sebagai aktivis lalu fokus lulus (sekedar lulus). Tidak menutup kemungkinan ada yang bisa menjalankannya secara beriringan antara aktif berorganisasi dan fokus di akdemik untuk mendapatkan hasil terbaik. Namun hal itu sangat minim hanya sekian persen dari kuantitas mahasiswa yang ada.

Berawal dari peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.49 tahun 2014. Polemik pembatasan masa kuliah menjadi 5 tahun, saat ini menjadi isu hangat yang masih terus menjadi bahan diskusi yang menarik bagi mahasiswa terutama para aktifis kampus. Pada pasal 17 ayat 3 yang ditafsirkan bahwa pasal tersebut menjadi dasar konstitusi perguruan tinggi untuk menentukan kebijakan tersebut.

Sebenarnya, sebelum adanya peraturan mengenai pembatasan kuliah menjadi 5 tahun, mahasiswa secara tidak langsung sudah mulai tertekan atas uang kuliah tunggal (UKT) yang menjadi perhitungan mahasiswa untuk tidak terlalu lama bergelut dalam kehidupan kampus. Dalam hal tersebut pun tingkat ketidak pedulian mahasiswa meningkat terlihat dari keanggotaan organisasi mahasiswa yang notabennya  anggota dari organisasi tersebut itu-itu saja.

Isu ini semakin kuat jadi bahan pembicaraan mahasiswa setelah surat edaran rektor Unsri mulai muncul. Yang mana berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no.49 tahun 2014, dimana banyak yang mempermasalahkan isi dari pasal tersebut terkhusus pada pasal 17 ayat 3 yang menyatakan bahwa pasal tersebut menjadi dasar konstitusi perguruan tinggi untuk menentukan batas masa kuliah mahasiswa  lima tahun.

Hal inilah yang menjadi dasar perbincangan mengenai masa kuliah 5 tahun semkain gembor dikalangan masyarakat.

Mahasiswa selaku pelaksana kebijakan, pemerintah selaku pembuat kebijakan. Dua sisi yang seharusnya harus di dudukkan bersamaan dalam pembahasan yang saling berkaitan untuk menghindari multitafsir dikalangan mahasiswa tentunya. Sepertinya konsep pembangunan berjamaah kurang diimplementasikan kali ini, dimana belum terlihat sinkronisasi antara kebijakan pembatasan masa kuliah dengan tuntutan jumlah SKS (Satuan Kredit Semester) per program studi yang rata-rata berbeda belum lagi mengenai tuntutan mahasiswa harus berperan aktif dalam menyumbangkan prestasi nasional ataupun internasional yang akan berkaitan pula dengan World Class University yang sedang di canangkan.

Peraturan yang membataskan masa kuliah merupakan momok yang menghawatirkan bagi aktifis kampus terutama dimana masa aktif kuliah di unsri itu dimulai dari tahun kedua kuliah, yang otomatis pada tahun ke 4 kuliah mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus sedang menduduki tahap paling berperan atau penting yaitu jangkauan tingkat universitas.

Sedangkan dengan kebijakan baru ini otomatis mahasiswa semakin di landa kebingungan antara  bisa meneruskan atau menyeimbangkan kegiatan dalam dua bidang ini, dimana kedua hal ini saling berkaitan walaupun pada dasarnya keaktifan dalam organisasi merupakan pilihan kedua. Tak ayal para petinggi pemerintah juga dulunya merupakan para aktivis kampus yang dapat merasakan seberapa pentingnya softskill yang didapat dalam lingkungan organisasi pada praktik dan penerapan pada implementasi dalam dunia kerja. Mereka (pemerintah) dapat di katakan berhasil  karena mereka telah melewati masa dapat menyeimbangkan dua sisi yang harus di jalankan dengan beriringan dan seimbang.(shy)

Facebook Comments
Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!