BeritaFeature

Ketidaksetaraan Gender sebagai Penghormatan kepada Perempuan

Kala itu aku berada di sebuah kota bernama Medan. Aku dan teman-teman baruku dari berbagai kota, seperti Lampung, Semarang, Padang, Makasar, dan Palembang, kota kelahiranku, melakukan perjalanan ke Istana Maimun. Kami, rombongan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN), disambut oleh tour guide, Teungku Mohar Syah namanya. Ia menjelaskan secara rinci dari awal terbentuknya istana Maimun sampai sekarang.

Maimun merupakan istana dari Kesultanan Deli yang didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Bangunan megah nan cantik itu merupakan perpaduan arsitektur dari Timur Tengah, Spanyol, Italia dan India. Langit-langit istana dihiasi dengan ukiran-ukiran dan lampu kristal, kontras dengan motif tegel yang saat ini menjadi tempat aku berpijak.

Ada yang menarik dari istana berciri khas warna kuning-hijau tersebut, singgasana sultan dan permaisuri yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Jika dilihat sekilas, semuanya tampak sama, yang membedakan adalah kaki kursi milik sang sultan lebih tinggi beberapa sentimeter dibandingkan milik permaisuri. Ketika itu, aku teringat materi kuliah Sosiologi Gender, di mana kami membahas wanita yang selalu dinomorduakan setelah laki-laki, apakah singgasana itu termasuk bentuk ketidaksetaraan gender juga?

Daripada aku menerka-nerka, akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya kepada tour guide, karena ia lebih paham seluk-beluk istana tersebut. Jawabannya pun tidak jauh dari ekspetasiku, memang benar ada ketidaksetaraan gender, di mana seorang Sultan bekerja di sektor publik mengurusi rakyatnya dan sebagai kepala keluarga. Tidak puas dengan jawaban tersebut, pertanyaan baru kulontarkan lagi, “Apa peran seorang perempuan pada masa kesultanan?” Lagi-lagi jawabannya sesuai ekspetasiku, seorang permaisuri berfungsi sebagai pendamping sultan, serta mendidik pangeran agar kelak menjadi seorang sultan yang arif. Peran wanita lebih banyak di bidang domestik dibandingkan di ruang publik. Namun, pemaisuri juga ikut kegiatan bakti sosial dengan rakyatnya.

Aku melemparkan pertanyaan lagi tentang ketidaksetaraan gender di istana, kemudian tour guide tadi menjelaskan bahwa ada ketidaksetaraan gender. Di dalam bagian ruangan istana, ternyata ada ruang khusus untuk laki-laki dan perempuan atau ruang putri. Fungsi dari ruang putri itu untuk menjaga privasi. Ruangan tersebut digunakan oleh permaisuri, tuan putri dan keluarga perempuan kerajaan. Ketidaksetaraan gender di Kesultanan Deli ini sesuai dengan syariat Islam, di mana fungsi laki-laki sebagai pelindung, pemberi kasih, cinta, dan sayang. Seperti acara Junjung Duli, di mana seorang sultan menghampiri ibundanya, permaisuri, maupun tuan putri, ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang wanita.

Permaisuri diberikan hak penuh untuk mengurus anak dan suaminya. Menurut penjelasan dari tour guide yang masih keturunan kerajaan itu, hal tersebut merupakan penghargaan bagi wanita. Seorang sultan memberikan pembagian kerja dengan permaisuri. Ia juga memberikan permaisuri kebebasan di ruang publik dengan ikut melakukan kegiatan sosial pada rakyatnya, namun tidak meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu.

Penulis: (drk)

Editor: (din)

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *