FIlmResensi

Keterbatasan Tanpa Batas

Judul Film Dokumenter                                 : Cerita dari Tapal Batas

Producer                                             : Ichwan Persada

Direction / Writer                             : Wisnu Adi

Narator                                                : Darius Sinathrya

Durasi film                                           : 56:54

 

Latar Belakang Producer :

Tentu tak usah di lihat lagi dari halaman depannya seorang Ishwan Persada, karena dari setiap film yang ia jalankan selalu menyajikan perjalanan kehidupan yang menarik hati dan pikiran kita untuk berkaca diri. Pria kelahiran Makassar yang menyanding gelar dokter dari Universitas Hasanuddin ini, telah memberikan banyak penghargaan akan jerih payahnya karyanya. Dari tahun 2011 berduet bersama Marcelltia Zalianty memproduseri film berjudul Batas hingga rilis di bioskop Mei 2011. Lantas memproduseri film documenter Cerita dari Tapal Batas yang menembus nomine Film Dokumenter Terbaik di Festival Film Indonesia 2011 dan Official Selection Aljazeera Internasional Documentary di Festival Film Indonesia 2012. Tak hanya itu Ichwan juga mendapatkan penghargaan Skenario Terbaik dalam film berjudul Rumah di Seribu Ombak. Hingga saat ini  beliau sedang menjalankan kembali film ketiganya berjudul orenji melakukan pengambilan gambar di 4 kota jepang yang direncanakan beredar di bioskop tahun 2015. Menjadikan saksi perjalanannya yang panjang dalam dunia perfilmman. Maka tak diheran lagi akan kemahirannya dalam mengolah alur cerita yang membawa haru beku dalam setiap ceritanya, seperti Cerita dari Tapal Batas ini.

 

Sinopsis / Intisari :

“Sebuah cerita harus di katakan,

Sebuah cerita harus di dengarkan,

Sebuah cerita harus di ceritakan”

 

Sepenggal prolog yang menyajikan fenomena nan berseri dari sudut kecil wilayah bagian tengah Indonesia. Cerita dari tapal batas ini menceritakan tentang arti sebuah kehidupan sekolompok manusia yang berada di perbatasan Negara antara Indonesia dan Malaysia, tepatnya di dusun Badar Baru, wilayah Entikong Kalimantan Barat. Sebuah perjuangan yang tiada batas mengarungi segala kesulitan yang ada di dalamnya. Martini, ia adalah satu-satunya guru SDN yang ada  di dusun Badar Baru yang berperan penuh akan sekolah tersebut dari menjadi kepala sekolah, staf, pengajar sampai pesuruh bagi sekolahnya. Martini tinggal di desa semangit, untuk pergi mengajar ia harus menempuh  waktu 8-12 jam mengarungi sungai yang tiada berhujung , belum lagi badai, topan dan riam-riam besar yang mengharuskan mereka mendorong perahu yang di  naiki untuk bisa melewati riam tersebut. Masih banyak sinar yang mau menggapai impiannya di dusun ini, siswa-siswinya yang tak mengenakan alas kaki ini tetap bersemengat menyanyikan lagu Indonesia Raya saat upacara tiba. Martini yang mengajarkan arti pentingnya seorang guru membuat warga disanapun tetap menginginkan adanya pendidikan di dusun ini seperti penuturan kepala dusun Badar baru pak M.Lizet. bukan sekedar Keterbasan pendidikan namun pengetahuan kesehatan juga menjadi kendala bagi mereka. Untungnya ada seorang Mantri kesehatan di dusun Badar Baru yaitu Kusniadi.ia ditugaskan untuk bekerja di wilayah Entikong. Berkeliling memberikan pertolongan medis tanpa pamrih, dengan hati yang ikhlas melihat mereka yang sembuh dari penyakitpun telah membuat Kusniadi tersenyum bahagia.  Warga Entikong telah sedikit terbantu dari tahun ke tahun karena ada sebagian kecil yang masih mempedulikan mereka, anak-anak kecil yang masih giat mencari ilmu. Tapi ketika mereka telah tamat SD, pekerjaan pun telah menanti mereka untuk memperoleh ringgit di Negara tetangga demi membantu orang tua. Karena ekonomi yang sangat sulit, maka itulah yang bisa mereka lakukan. Di dusun Sapit, pala pelintas batas tersebut bertemu untuk saling menukar atau berbelanja. Bahkan banyak juga warga Indonesia berpindah kewarganegaraan menjadi warga Malaysia. Tapi tak bisa menyalahkan Negara tetangga, karena Negara Malaysia lah yang lebih bisa memberikan mereka kehidupan, lowongan pekerjaan yang masih mudah di dapat dan warganya pun masih sedikit bila dibandingkan dengan Indonesia. “Memang saya warga Indonesia tapi saya tidak tahu Indonesia” sepatah kata yang dituturkan oleh Yusuf Thana salah seorang warga Entikong yang menjadi saksi kebutaan sebagian dari masyarakat kita yang tak mengenal arti Negara Indonesia. Semua keterbatasan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan sarana prasarana inilah yang menjadikan mereka tak mengenal Indonesia. Mereka hanya mengenal Malaysia dan ringgitnya. Indonesia yang telah merdeka 66 tahun lamanya merdeka , tak pernah mereka rasakan arti merdeka  baginya, tapi sesungguhnya mereka masih di jajah oleh Malaysia dengan memperkerjakan mereka di negaranya. Indonesia dan Malaysia dulu nya bersahabat namun kini telah menjadi pembatas bagi mereka yang tertinggal, mereka yang tak pernah di perhatikan, mereka yang tak pernah mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan dari Indonesia. Kisah yang panjang dari kehidupan mereka inilah yang seharusnya menjadik kaca bagi kita yang melihat seharusnya kita juga harus mengerti bahwa masih banyak dari sebagian kita masih tertinggal nan jauh disana.

 

Kelebihan :

Film ini sungguh membawa banyak Tanya, penuturan dari sang narrator membuat kita tak sabar melihat cuplikan demi cuplikan selanjutnya.  Pemilihan sudut gambar yang bagus membuat penonton melihat jelas kehidupan di dalamnya. Penerjemahan bahasa yang baik sehingga penonton tak kesusahan menangkap apa yang disampaikan pelakon didalam film ini. Alur cerita yang berkesinambungan membuat hati merasa tersentuh dalam penyajiannya.

 

kekurangan :

Hanya sedikit suara yang menganggu dari keramaian yang terjadi dari kehidupan disana membuat kita tak mampu mendengar dengan jelas bagaimana yang disampaikan oleh narasumber.

 

Film ini cocok untuk di tonton setiap kalangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa bahkan orangtua. Film ini memberikan kita arti penting dari kehidupan dalam keterbatasan tanpa batas yang bisa kita raih. Menjadikan penilaian terhadap apa yang terjadi di depan dan dibalik layar Negara yang sangat indah ini. Seharusnya menyadarkan orang-orang yang berada diatas bukan hanya mempubliskan hal buruk dari sebuah daerah yang tiada daya tapi cobalah untuk melihat lebih jauh dari apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka dapatkan dari arti sebuah Negara merdeka dan demokratis ini Negara Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
error: Content is protected !!