ArtikelOpini

Kenali Uighur

Beberapa bulan ini hati saya dibuat teriris dengan beredarnya pemberitaan mengenai suatu bangsa di Asia Tenggara yang terenggut Hak Asasinya, bangsa Uighur. Dilansir dari laman pemberitaan online, sebuah komite PBB mendapat laporan mengenai ditahannya satu juta warga Uighur yang mayoritas beragama Islam di wilayah Xinjiang Barat pada Agustus 2018 lalu. Bukan hanya itu, banyak upaya penindasan yang dialami oleh muslim Uighur, yang tentunya sama sekali tidak memanusiakan manusia.

Perbincangan tentang bangsa Uighur kini menjadi sorotan dunia. Banyak petisi online hingga unjuk rasa yang digelar untuk memperjuangkan hak asasi bangsa Uighur. Sebenarnya siapakah bangsa Uighur?

Uighur adalah bangsa berbahasa Turki yang tinggal di daerah Asia Tengah. Mayoritas penduduknya beragama islam. Mereka tinggal di wilayah Xinjiang, yang dulunya bernama Turkistan Timur sebelum diklaim oleh Cina. Dulu, Uighur sempat mendirikan Negara Turkistan Timur yang eksis hingga 10 abad sebelum akhirnya jatuh setelah diserang Cina.

Sebelum tinggal di Xinjiang, Uighur merupakan kumpulan dari beberapa suku yang berpindah-pindah di Mongolia. Pada awal abad 20, Uighur mendeklarasikan kemerdekaan dengan nama Turkestan Timur. Bangsa Uighur lebih serupa dengan orang-orang Eropa Kaukasus, berbeda dengan Cina-Han yang serupa dengan orang Asia. Dalam berkomunikasi mereka menggunakan bahasa Uighur yang merupakan turunan dari bahasa Turki, serta menggunakan huruf Arab dalam penulisan bahasanya.

Kaum muslim Uighur adalah kaum yang ramah dan mahir menyanyi dan menari. Uighur memperkaya warisan budaya Cina dengan berbagai musik, buku, karangan, dan seni yang paling menonjol di antaranya adalah akrobat di mana orang-orang Cina piawai dalam memperagakannya.

Dilansir dari portal berita Islam, sejak dulu, banyak orang Uighur menjadi tenaga pengajar di kekaisaran Cina, menjadi duta besar di Roma, Istanbul, dan Baghdad. Banyak karya sastra awal keberadaan Uighur diterjemahkan dalam teks agama Budha dan Manichean. Namun ada juga puisi, epik, dan karya narasi yang telah diterjemahkan dalam bahasa Jerman, Inggris, dan Rusia.

Bangsa Uighur dikenal sebagai ahli dalam pengobatan. Di zaman Dinasti Sung (906-960), seorang ahli obat-obatan Uighur bernama Nanto mengembara ke Cina. Ia membawa berbagai jenis obat yang saat itu belum dikenal di Cina. Bangsa ini pada masa itu telah mengenal 103 tumbuhan obat-obat. Hal ini dicatat dalam buku obat-obatan Cina oleh Shi-zhen Li (1518-1593). Bahkan sebagian ahli barat percaya akupunktur bukan asli milik orang Cina, tapi awalnya dikembangkan oleh bangsa Uighur.

Bukan hanya itu, bangsa ini juga memiliki kemampuan arsitektur, musik, seni, dan lukisan. Mereka bahkan telah bisa mencetak buku berabad-abad sebelum ditemukan oleh Gutenberg. Pada abad pertengahan, karya sastra, teater, musik, hingga lukisan para sastrawan dan seniman Cina juga sangat dipengaruhi Uighur.

Melihat fenomena yang terjadi antara pemerintah Cina dan bangsa Uighur bukanlah hal yang dapat diabaikan. Hal ini merupakan salah satu bencana manusia besar di dunia. Sampai kapan pun penindasan terhadap Hak Asasi Manusia tidak akan menjadi hal yang dapat dibenarkan.

Penulis : Annisa Dwi Kurnia
Editor    : Fatta Sofiana S

Facebook Comments

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *